Jakarta – kesehatanmental.info – Kehidupan berumahtangga tidak selamanya mudah dan menyenangkan. Karena itu, dibutuhkan banyak pengertian dari pasangan. Apalagi di tengah gempuran ekonomi dan kebutuhan yang kian merangkak naik. Belum lagi anak-anak yang mulai tumbuh dewasa, sehingga mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Tentu saja hal ini bisa menjadi pemicu hubungan yang tidak harmonis dan bisa jadi salah satu penyebab terjadinya perceraian di usia tua atau lansia.
Menariknya, banyak orang dewasa dan lansia mulai gencar menginginkan perceraian atau biasa dikenal dengan istilah grey divorce. Istilah ini sebenarnya makin populer di Amerika, sejak awal tahun 2000-an, ketika rumah tangga yang telah dijalani puluhan tahun namun ternyata tidak lagi memberikan percikan dan rasa cinta yang menjadi nyala api dalam mahligai rumah tangga.
Lalu apa sebenarnya penyebab grey divorce itu? Grey divorce atau perceraian di usia lansia merupakan keputusan yang diambil oleh pasangan yang telah menikah dalam jangka waktu cukup lama, dan biasanya usia mereka tidak muda lagi atau bahkan lansia. Grey divorce sendiri, pada hakikatnya terjadi karena multi faktor yang menyebabkan, rumah tangga menjadi tidak lagi harmonis karena berbagai permasalahan yang tak kunjung usia di usia lansia. Nah berikut ini adalah penyebab terjadinya grey divorce yang kini mulai marak terjadi di Indonesia:
Pernikahan Tidak Bahagia
Banyak pasangan yang menikah puluhan tahun dan bertahan demi tetap bisa membesarkan anak-anak mereka walaupun tidak Bahagia. Padahal pilihan ini tidak sepenuhnya benar, dan bisa dicari akar masalahnya. Namun, ibarat bom waktu pasangan yang terus-menerus memendam rasa kecewa justru makin ingin berpisah ketika kondisi sudah mulai stabil. Beberapa contoh misalnya, ketika anak-anak sudah mulai dewasa, tanggungan sudah mulai berkurang, namun benih kasih dan cinta sudah tidak ada lagi. Akibatnya rumah tangga yang dibangun hanyalah rutinitas harian yang justru membosankan dan kurang bermakna.
Perubahan Nilai dan Pandangan Hidup
Setelah sekian lama mengarungi rumah tangga bersama pasangan, banyak orang terus berubah seiring berjalannya waktu. Ada yang memiliki circle makin luas, ada yang meraih karir dan cita-cita lebih cemerlang, bahkan ada yang sekadar ingin hidup lebih mindful atau slow living dengan nilai yang mereka pahami. Sayangnya, tidak semua orang bisa saling mengkomunikasikan dengan baik terhadap pasanganya terkait dengan nilai hidup yang telah berubah. Akibatnya, perceraian pun tak bisa dihindarkan karena pertengkaran demi pertengkaran sering terjadi dan tidak membuat mereka yang telah bahagia sebelumnya, tidak mampu meraihnya kembali.
Masalah Ekonomi dan Keuangan
Saat anak-anak sudah sibuk dengan urusan masing-masing dan bahkan ada yang berumah tangga, tak jarang pasangan lansia mengalami masalah ekonomi dan keuangan. Belum lagi kebutuhan yang tidak sedikit di usia senja, misalnya biaya kesehatan, asuransi dan kebutuhan dasar lainnya. Tentu saja hal ini menjadi masalah cukup berat bagi perekonomian para lansia karena mereka tidak bisa seproduktif di usia sebelumnya. Tekanan kebutuhan dan ekonomi, sedikit banyak menjadi faktor pemicu bagi para lansia yang akhirnya lebih memilih untuk berpisah dan berharap mereka bisa mendapatkan pasangan baru yang bisa saling mendukung. Padahal, anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Seperti dilansir dari National Center for Family & Marriage Research (NCHS) menyebutkan bahwa orang yang pernah bercerai cenderung memiliki toleransi yang lebih rendah terhadap masalah pernikahan, sehingga lebih mudah memutuskan bercerai.
Masalah Gaya Hidup
Masalah gaya hidup justru menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya grey divorce di kalangan lansia. Pasalnya, banyak dari kaum lansia yang masih belum mawas diri dan memiliki penerimaan bahwa gaya hidup di usia senja seharusnya berbeda dengan gaya hidup saat masih muda atau produktif. Banyak kaum lansia yang faktanya masih melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan tugas berkembangan secara psikologis, sosial maupun emosional bagi para lansia. Misalnya, sering hura-hura, berpesta, enggan berolahraga, dan cenderung boros soal keuangan maupun pengeluaran. Akibatnya, ketika terjadi masalah dalam keuangan mereka cenderung tak bisa menyesuaikan diri terkait gaya hidupnya. Fakta inilah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya grey divorce yang kian marak, bahkan di Indonesia sekalipun.(*)