Jakarta – kesehatanmental.info – Seorang lansia berusia 65 tahun sering marah-marah tanpa sebab yang jelas, hanya karena lupa meletakan kacamata. Belum lagi tindakannya yang memaki istrinya, anaknya, bahkan cucunya yang masih berusia lima tahun. Sayangnya,dia tidak sadar dengan apa yang telah dilakukannya. Padahal, perilakunya justru berdampak buruk bagi orang-orang sekitarnya. Belum lagi respon orang di sekitarnya yang justru makin menjauhinya. Alih-alih berusaha menenangkan diri, yang dilakukannya justru marah-marah tanpa sebab yang jelas.

Nah…jika kamu memiliki anggota keluarga dengan ciri-ciri perilaku di atas, bisa jadi dia mengalami gejala dimensia awal. Meskipun baru dugaan dan perlu ditegakan diagnosisnya, seluruh anggota keluarga hendaknya berhati-hati dan mampu menemukenali gejalanya.

Menurut World Health Organisation (WHO) dan DSM-5 dimensia adalah sindrom akibat penyakit otak yang menyebabkan penurunan progresif fungsi kognitif seperti daya ingat, bahasa, penilaian, dan fungsi eksekutif, tanpa gangguan kesadaran, dan cukup berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Pada penderita gangguan dimensia, kerusakan sel saraf atau neuron menjadi salah satu faktor penting penyebabnya. Selain itu, gangguan koneksi antar neuron dan penyusutan area otak tertentu juga dapat berakibat pada terjadinya gangguan dimensia.

Nah berikut ini adalah sejumlah tanda pada penderita dimensia wajib kamu sadari dan ketahui:

Penurunan Fungsi Memori Otak

Gangguan memori pada demensia terjadi karena adanya kerusakan sel-sel saraf (neuron) di otak. Pada demensia tipe Alzheimer, yang merupakan jenis paling umum, terjadi penumpukan protein abnormal berupa plak beta-amiloid dan benang kusut tau di jaringan otak. Penumpukan ini mengganggu komunikasi antar sel saraf dan akhirnya menyebabkan kematian sel otak, terutama di area hippocampus yang berperan penting dalam proses pembentukan dan penyimpanan memori.

Selain Alzheimer, jenis demensia lain seperti demensia vaskular juga dapat menyebabkan gangguan memori. Pada kondisi ini, aliran darah ke otak terganggu akibat stroke atau penyempitan pembuluh darah. Kurangnya suplai oksigen dan nutrisi membuat jaringan otak rusak, sehingga kemampuan mengingat dan berpikir menurun secara bertahap. Faktor usia, riwayat penyakit seperti hipertensi, diabetes, serta gaya hidup tidak sehat juga mempercepat kerusakan otak. Seiring waktu, otak kehilangan kemampuannya untuk memproses dan menyimpan informasi baru dengan baik. Akibatnya, penderita demensia sering mengulang pertanyaan, lupa nama orang terdekat, atau tersesat di tempat yang sebenarnya familiar.

Gangguan memori pada demensia bukanlah sekadar lupa biasa, melainkan tanda adanya kerusakan struktural dan fungsional pada otak. Oleh karena itu, pemahaman yang tepat mengenai penyebab gangguan memori ini sangat penting agar keluarga dan masyarakat dapat memberikan dukungan, perawatan, serta empati yang lebih baik kepada penderita demensia.

Kendala Fungsi Bahasa

Gangguan fungsi bahasa merupakan salah satu gejala yang sering dialami oleh penderita demensia. Kondisi ini tidak hanya membuat penderita sulit berbicara, tetapi juga memengaruhi kemampuan memahami percakapan, membaca, dan menulis. Gangguan bahasa pada demensia dikenal sebagai afasia, yaitu penurunan kemampuan berbahasa akibat kerusakan pada pusat bahasa di otak.

Penyebab utama gangguan fungsi bahasa pada demensia adalah kerusakan sel-sel saraf di area otak yang berperan dalam pemrosesan bahasa, seperti lobus temporal dan lobus frontal. Pada demensia tipe Alzheimer, terjadi penumpukan protein abnormal beta-amiloid dan tau yang merusak koneksi antar neuron. Kerusakan ini menghambat proses pengolahan kata, makna, dan struktur kalimat, sehingga penderita kesulitan menemukan kata yang tepat atau menyusun kalimat secara runtut.

Gangguan fungsi bahasa pada demensia bukanlah tanda kebingungan sesaat, melainkan akibat kerusakan otak yang progresif. Oleh karena itu, penderita membutuhkan pendekatan komunikasi yang lebih sederhana, sabar, dan empatik. Pemahaman terhadap penyebab gangguan bahasa ini penting agar keluarga dan tenaga kesehatan dapat memberikan dukungan yang tepat serta menjaga kualitas hidup penderita demensia.

Kesulitan Mengontrol Emosi

Gangguan emosi merupakan salah satu gejala yang sering muncul pada penderita demensia, selain penurunan daya ingat dan kemampuan berpikir. Perubahan emosi ini dapat terlihat dalam bentuk mudah marah, cemas berlebihan, depresi, apatis, hingga perubahan suasana hati yang tiba-tiba. Kondisi tersebut sering kali membingungkan keluarga, karena kepribadian penderita tampak berubah dari sebelumnya.

Penyebab utama gangguan emosi pada penderita demensia adalah kerusakan sel-sel saraf di otak yang mengatur emosi dan perilaku. Area seperti lobus frontal dan sistem limbik memiliki peran penting dalam mengendalikan perasaan, impuls, dan respon emosional. Pada demensia, terutama Alzheimer dan demensia frontotemporal, bagian otak ini mengalami penyusutan dan gangguan fungsi akibat penumpukan protein abnormal dan kematian sel saraf.

Selain perubahan struktur otak, gangguan emosi juga dipengaruhi oleh penurunan kemampuan kognitif. Ketika penderita mulai kesulitan memahami lingkungan, mengingat kejadian, atau mengekspresikan keinginan, muncul rasa frustrasi dan tidak berdaya. Perasaan ini dapat memicu ledakan emosi, kecemasan, atau penarikan diri dari interaksi sosial.

 Atensi dan Fokus Mudah Terpecah

Gangguan atensi atau kesulitan memusatkan perhatian merupakan salah satu masalah kognitif yang sering dialami penderita demensia. Kondisi ini membuat penderita sulit fokus pada percakapan, aktivitas sederhana, atau mengikuti instruksi dalam waktu yang lama. Akibatnya, kegiatan sehari-hari seperti makan, berpakaian, atau berkomunikasi menjadi lebih sulit dilakukan.

Penyebab utama gangguan atensi pada demensia adalah kerusakan sel-sel saraf di otak, khususnya di area lobus frontal dan jaringan saraf yang mengatur perhatian serta fungsi eksekutif. Pada demensia Alzheimer, penumpukan protein beta-amiloid dan tau mengganggu komunikasi antar neuron, sehingga otak kehilangan kemampuan untuk menyaring dan memproses informasi secara efektif. Hal ini menyebabkan penderita mudah terdistraksi dan cepat kehilangan fokus. Selain itu, penurunan memori dan kecepatan berpikir turut memengaruhi kemampuan atensi. Ketika otak kesulitan menyimpan informasi baru, penderita menjadi kewalahan saat harus memproses banyak rangsangan sekaligus. Lingkungan yang ramai atau terlalu banyak instruksi sering memperparah gangguan perhatian. (*)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *