Jakarta-kesehatanmental.info – Ada masa ketika seseorang sudah tidak lagi berada di samping kita, tetapi masih tinggal di kepala. Sebuah lagu tiba-tiba mengingatkan pada dirinya. Tempat tertentu membawa kembali percakapan bertahun-tahun lalu. Bahkan setelah merasa baik-baik saja, sebuah foto atau unggahan media sosial dapat membuat perasaan lama muncul kembali.
Mengapa orang yang pernah dicintai begitu sulit dilupakan?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana “karena masih cinta”. Dalam psikologi, hubungan romantis membentuk attachment atau keterikatan emosional, yakni ikatan yang membuat seseorang merasa aman, dekat, dan terhubung dengan orang lain. Psikolog Ximena Arriaga, PhD, dari Purdue University menjelaskan bahwa attachment bonds merupakan bagian penting dari hubungan dekat dan dapat terus memengaruhi seseorang bahkan ketika hubungan tersebut mengalami perubahan atau berakhir.
Artinya, ketika sebuah hubungan berakhir, yang hilang bukan sekadar seseorang. Kita juga kehilangan rutinitas, tempat berbagi cerita, rasa aman, serta sebagian dari kehidupan yang selama ini dibangun bersama. Karena itulah proses melupakan tidak selalu berjalan secepat keputusan untuk mengakhiri hubungan.
Penelitian terbaru bahkan menunjukkan bahwa keterikatan terhadap mantan pasangan dapat bertahan jauh lebih lama daripada yang selama ini dibayangkan. Studi yang dirangkum APA Monitor on Psychology menemukan bahwa rata-rata dibutuhkan sekitar 4,18 tahun agar keterikatan emosional terhadap mantan pasangan berkurang hingga setengahnya. Pada sebagian orang, terutama mereka yang tidak menginisiasi perpisahan, proses tersebut dapat berlangsung jauh lebih lama.
Namun, ada faktor lain yang membuat proses ini semakin rumit: ruminasi, atau kecenderungan memutar kembali pikiran tentang hubungan yang telah berakhir. Penelitian dalam Journal of Behavior Therapy and Experimental Psychiatry menemukan bahwa attachment anxiety berkaitan dengan ruminasi dan meningkatnya tekanan emosional setelah putus cinta. Keinginan untuk mempertahankan keterikatan dengan mantan juga berkaitan dengan rasa rindu dan tekanan emosional yang lebih besar.
Ironisnya, kebiasaan mencari tahu kehidupan mantan melalui media sosial dapat membuat proses tersebut semakin sulit. Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Computers in Human Behavior menemukan bahwa mengamati mantan pasangan di media sosial—baik secara sengaja maupun tidak sengaja—berhubungan dengan tekanan emosional, emosi negatif, dan kecemburuan yang lebih besar selama proses pemulihan.
Karena itu, melupakan bukan selalu berarti menghapus seseorang dari ingatan. Psikolog Pauline Boss, PhD, penggagas konsep ambiguous loss, bahkan mengingatkan bahwa gagasan tentang closure atau “penutupan sempurna” tidak selalu sesuai dengan cara manusia mengalami kehilangan. Dalam perspektif continuing bonds, seseorang dapat tetap menyimpan hubungan emosional dengan orang yang telah pergi tanpa harus terus hidup di masa lalu.
Pada akhirnya, proses move on mungkin bukan tentang membuat diri berhenti mengingat. Ia lebih menyerupai perjalanan untuk menerima bahwa seseorang pernah menjadi bagian penting dari hidup kita—tanpa membiarkan keberadaannya di masa lalu menentukan kehidupan kita hari ini. (*)