Jakarta – kesehatanmental.info – Ada sebuah ironi yang sulit diabaikan dalam dunia pelayanan kesehatan. Ketika seorang pasien mengungkapkan kekecewaan dan penderitaannya di media sosial, respons yang muncul justru berupa cibiran, hinaan, bahkan candaan yang menyuruhnya menyakiti diri sendiri hingga dipindahkan ke kamar jenazah.
Yang lebih memprihatinkan, sebagian komentar tersebut disebut berasal dari tenaga kesehatan, termasuk dokter dan perawat. Alih-alih mendapatkan dukungan moral ketika sedang sakit, pasien justru merasa semakin terpojok. Padahal, tenaga kesehatan bukan hanya bertugas memberikan pengobatan, tetapi juga menghadirkan rasa aman, empati, dan dukungan kemanusiaan kepada pasien.
Peristiwa tersebut menjadi semakin tragis ketika pasien kemudian meninggal dunia sekitar satu minggu setelah unggahannya. Tentu, tidak tepat menyimpulkan bahwa kematian tersebut disebabkan oleh komentar di media sosial. Namun, kejadian ini membuka kembali pertanyaan penting: mengapa orang yang setiap hari merawat penderitaan manusia justru dapat kehilangan kapasitas untuk berempati?
Salah satu jawabannya mungkin berkaitan dengan compassion fatigue.
Apa Itu Compassion Fatigue?
Menurut Charles R. Figley, psikolog dan ilmuwan yang banyak meneliti trauma, compassion fatigue merupakan kondisi kelelahan emosional dan psikologis akibat terus-menerus memberikan kepedulian, empati, dan bantuan kepada orang yang mengalami penderitaan atau trauma.
Bagi tenaga kesehatan, risiko ini cukup besar. Dokter dan perawat setiap hari berhadapan dengan pasien yang sakit, keluarga yang cemas, kondisi kritis, kematian, tuntutan pekerjaan, serta tekanan emosional yang tidak sedikit.
Compassion fatigue biasanya tidak datang secara tiba-tiba. Ia terbentuk dari akumulasi tekanan yang tidak sempat diproses. Seseorang mungkin tetap bekerja seperti biasa, tetapi mulai mudah tersinggung, kehilangan kesabaran, merasa lelah mendengarkan keluhan, sulit berkonsentrasi, mengalami gangguan tidur, atau bahkan mulai kehilangan empati.
Ironisnya, yang berkurang bukan selalu rasa pedulinya, melainkan kapasitas emosional untuk terus memberi.
Ketika Kelelahan Dibawa ke Media Sosial
Kelelahan dan frustrasi adalah sesuatu yang manusiawi. Namun bagi tenaga kesehatan, cara menyalurkannya membutuhkan kehati-hatian.
Media sosial bukan ruang katarsis yang selalu aman. Satu komentar dapat tersebar luas dan menjadi jejak digital. Ketika kemarahan kepada pasien diluapkan dalam bentuk penghinaan atau candaan yang tidak pantas, persoalannya bukan lagi sekadar ekspresi pribadi, tetapi dapat menyentuh profesionalisme dan kepercayaan publik terhadap tenaga kesehatan.
Karena itu, tenaga kesehatan membutuhkan ruang yang lebih aman untuk memproses kelelahan emosional. Supervisi, peer support, konseling, psikoterapi, atau dukungan dari organisasi dapat menjadi tempat untuk membicarakan tekanan tanpa harus melampiaskannya kepada pasien atau publik.
Bagaimana Mengatasi Compassion Fatigue?
Mengatasi compassion fatigue membutuhkan kesadaran dan pemulihan. Langkah pertama adalah mengenali tanda-tandanya sebelum kelelahan berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Menjaga tidur, melakukan aktivitas fisik, mengambil jeda, memiliki aktivitas yang menyenangkan, membangun batas emosional, dan berbicara dengan orang yang dipercaya merupakan beberapa cara yang dapat membantu.
Yang tidak kalah penting, tenaga kesehatan tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Ketika kelelahan mulai mengganggu kehidupan dan pekerjaan, mencari bantuan profesional bukanlah tanda kelemahan.
Di sisi lain, organisasi kesehatan juga memiliki tanggung jawab. Beban kerja berlebihan, jam kerja panjang, tekanan administratif, kurangnya tenaga, dan minimnya dukungan psikologis dapat memperbesar risiko compassion fatigue. Karena itu, kesehatan mental tenaga kesehatan seharusnya menjadi bagian dari sistem pelayanan, bukan sekadar tanggung jawab individu.
Pada akhirnya, compassion fatigue mengajarkan sebuah paradoks sederhana: kemampuan untuk merasakan penderitaan orang lain adalah kekuatan, tetapi tanpa batas dan pemulihan, kekuatan itu dapat berubah menjadi beban.
Kita sering mengajarkan pentingnya empati, tetapi lupa mengajarkan bagaimana menjaga diri setelah terlalu lama menyerap emosi orang lain.
Merawat diri bukanlah bentuk egoisme. Justru dengan merawat diri, seseorang memiliki energi untuk tetap peduli kepada orang lain.
Sebab orang yang setiap hari merawat orang lain juga membutuhkan ruang untuk dirawat. (*)