Jakarta – kesehatanmental.info – Belakangan ini, tengah marak pemberitaan di sejumlah media mengenai banyaknya anak-anak yang menjadi korban pedofilia atau pelecehan seksual. Menariknya, anak-anak yang mengalami pelecehan seksual tersebut justru menjadi korban dari orang terdekat. Anak-anak tersebut, awalnya dirayu dan diberikan banyak iming-iming agar bersedia mengikuti perintah pelaku pedofilia, hingga akhirnya pelaku pedofilia melancarkan aksinya dengan mudah. Bahkan hal yang paling mengejutkan, pelaku tersebut mengancam anak-anak korbannya jika mengadukan kepada orangtua atau kerabatnya. Sungguh menyedihkan bukan?

Penyebab gangguan pedofilia pada dasarnya disebabkan oleh banyak faktor. Adapun faktor tersebut adalah faktor biologis, trauma masa kecil, psikologis serta faktor yang berkaitan dengan gangguan kepribadian. Pada faktor biologis beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa pedofilia mungkin memiliki komponen neurobiologis, seperti ketidakseimbangan hormon atau kelainan pada struktur otak tertentu yang terkait dengan dorongan seksual dan kontrol impuls. Sedangkan faktor psikologis, kemungkinan berasal dari ketidakdewasaan emosional atau kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat dengan orang dewasa. Tak hanya itu, pedofil sering kali merasa lebih nyaman atau percaya diri saat berinteraksi dengan anak-anak daripada orang dewasa. Sementara itu, gangguan kepribadian juga menjadi salah satu faktor pencetus yang dialami oleh orang-orang dengan gangguan pedofilia.

Namun, hal yang menarik justru pada salah satu faktor utama yang kadang justru berpengaruh signifikan pada pelaku pedofilia. Beberapa pedofil mungkin telah mengalami pelecehan atau trauma seksual pada masa kecil mereka sendiri, yang kemudian memengaruhi perkembangan seksual mereka. Lebih dari itu, orang-orang yang telah mengalami pelecehan seksual pada masa kecilnya, juga berpotensi besar menjadi pedofilia pada saat dewasa kelak. Hal ini dikarenakan adanya pengalaman seksual yang bercampur antara perasaan marah, dendam dan kenikmatan serta sensasi yang dialami ketika melakukan pelecehan seksual pada saat mereka kanak-kanak. Keinginan balas dendam, karena telah diperlakukan tidak baik, justru menjadi salah satu pencetus pelaku pedofilia.

Para pelaku pedofilia memiliki sejumlah motif yang kadang sulit diungkap lebih lanjut. Oleh sebab itu, dibutuhkan pendalaman yang lebih jauh pada orang-orang yang mengalami gangguan pedofilia. Menurut DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders), pedofilia didiagnosis ketika seseorang, memiliki fantasi seksual yang berulang, dorongan, atau perilaku yang melibatkan aktivitas seksual dengan anak-anak pra-pubertas. Selain itu, mereka juga memiliki Dorongan yang menyebabkan tekanan emosional yang signifikan atau kesulitan dalam kehidupan sehari-hari (misalnya, dalam pekerjaan atau hubungan sosial). Pedofil biasanya berusia 16 tahun atau lebih, dan mereka harus setidaknya 5 tahun lebih tua dari korban.

Pengobatan Pedofilia

Pengobatan terhadap penderita pedofilia membutuhkan penanganan yang lebih menyeluruh. Bentuk penanganan ini bisa dilakukan secara medis, psikologis dan juga intervensi lainnya yang dapat saling melengkapi. Nah berikut ini adalah sejumlah pengobatan penderita pedofilia:

  • Terapi Kognitif-Perilaku (CBT): CBT dapat membantu individu mengidentifikasi dan mengubah pola pikir dan perilaku yang berhubungan dengan dorongan seksual yang tidak sehat. Tujuannya adalah untuk mengontrol dan menekan fantasi seksual yang melibatkan anak-anak.
  • Obat-Obatan: Dalam beberapa kasus, obat-obatan seperti antiandrogen atau hormon pengurang libido digunakan untuk menurunkan gairah seksual seseorang. Obat-obatan ini sering kali digunakan bersama dengan terapi psikologis.
  • Terapi Psikoseksual: Terapi ini fokus pada membantu individu memahami dorongan seksual mereka dan mencari cara yang lebih sehat untuk mengekspresikan seksualitas mereka. Ini juga melibatkan pengelolaan kontrol impuls dan peningkatan hubungan sosial yang sehat.
  • Rehabilitasi dan Program Pencegahan Kekerasan Seksual: Beberapa negara memiliki program rehabilitasi bagi pelaku pedofilia, yang dirancang untuk mencegah pelaku mengulangi kejahatan mereka dengan memberikan pendidikan, konseling, dan pengawasan.
  • Pengawasan dan Pengobatan Jangka Panjang: Banyak pedofil membutuhkan pengawasan jangka panjang, baik dari sisi medis maupun hukum, terutama jika mereka telah terlibat dalam tindakan kriminal. (*)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *