Jakarta – kesehatanmental.info – Generasi Alpha merupakan generasi yang sejatinya akan menjadi tantangan baru di beberapa tahu mendatang. Jika selama satu dekade ini, Gen Z merupakan salah satu generasi yang cukup membuat pusing para profesional di Industri maupun perusahaan, maka 10 tahun ke depan justru generasi alpha yang juga akan menjadi tantangan baru di dunia kerja maupun lingkungan sosial.

Generasi alpha adalah kelompok generasi yang lahir setelah Generasi Z, umumnya dimulai dari tahun 2010 hingga 2025 (perkiraan). Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh peneliti sosial Mark McCrindle, yang memprediksi bahwa Generasi Alpha akan menjadi kelompok masyarakat yang paling terhubung secara digital, paling terdidik, dan paling adaptif terhadap perubahan teknologi dibanding generasi sebelumnya.

Sebagai generasi yang lahir dengan kondisi ekonomi, sosial dan teknologi yang cukup lengkap, Generasi Alpha memang akan lebih mudah mengadaptasi teknologi digital untuk mendukung hidupnya. Tak hanya itu, generasi ini juga akan lebih adaptif terhadap perubahan teknologi yang sangat cepat. Karena itu, tidaklah mengherankan jika mereka akan lebih fasih dalam menggunakan teknologi dan artificial intelligence (AI) yang justru memudahkan sebagian besar tugas dan pekerjaannya.

Menariknya, generasi alpha juga akan lebih menyukai terkoneksi secara digital dengan teman-temanya. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika mereka memiliki lebih dari dua akun media sosial misalnya Instagram, tiktok dan facebook dan X (twitter). Kebiasaan digital mereka yang kerap mengunggah sebagian besar momen dalam kesehariannya justru menjadi salah satu penanda bahwa generasi ini sangat mudah dan fleksibel dengan penggunaan teknologi. Bahkan sebagian besar dari mereka juga sangat berorientasi secara visual, sehingga lebih terkesan ekpresif jika dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya.

Kemampuan Sosial dan Interpersonal Rendah

Kemampuan dan literasi digital generasi alpha yang cukup dominan, sedikit banyak ikut berdampak pada kapasitas dan pemahaman mereka dalam menyerap informasi yang bertebaran. Informasi ini tidak hanya di media sosial, namun juga sejumlah platform digital yang jumlahnya dari hari ke hari makin bertambah cepat.

Namun hal yang disayangkan, akibat penggunaan teknologi yang berlebihan justru berakibat pada terjadinya ketergantungan yang sangat besar pada generasi alpha terhadap teknologi. Situasi ini tentu saja makin menjadikan mereka rentan mengalami masalah gangguan psikologis dan kurang mampu menjalin koneksi sosial secara nyata. Alih-alih lebih mampu berusaha menjalin hubungan secara langsung, mereka justru enggan untuk terkoneksi dengan orang-orang secara langsung. Akibatnya, mereka menjadi generasi yang memiliki kemampuan interpersonal yang rendah dan relasi sosial kurang baik dengan lingkungan sekitarnya.

Lalu bagaimana para orangtua menyikapi fenomena ini? Meskipun tidak mudah, bukan berarti para orangtua menyerah dengan tantangan zaman yang tak terelakan ini. Bagaimanapun orangtua tidak bisa menolak kemajuan peradaban. Untuk meningkatkan kecerdasan emosional generasi alpha, para orangtua harus membatasi screen time sesuai kebutuhan. Tak hanya itu, orangtua juga arus melatih anak untuk belajar berinteraksi secara sosial dengan lingkungannya. Termasuk salah satunya sering mengajak anak untuk ikut kegiatan sosial, partisipasi masyrakat dan lebih banyak melatih interaksi langsung untuk mengembangkan social skill mereka. Sebab bagaimana pun, kualitas hubungan manusia tidak bisa digantikan hanya dengan teknologi semata. (*)

By Editor

One thought on “Menyongsong Tantangan Generasi Alpha di Era Ketidakpastian”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *