Inner Child yang Terluka

Jakarta – kesehatanmental.info – Dina (37) tahun seorang ibu rumah tangga dengan dua anak berusia 7 tahun dan 12 tahun sering marah-marah kepada kedua anaknya belakangan ini. Apalagi setelah pulang dari kantor malam-malam, ternyata menemukan rumahnya masih berantakan dan belum bersih sesuai harapannya. Piring kotor yang berserakan, bekas sampah yang belum dibuang dan sejumlah kekacauan rumah sontak menjadi pemicu baginya untuk meledak marah-marah hingga melontarkan kata-kata makian yang tidak layak bagi kedua buah hatinya. Kondisi ini diperparah dengan suaminya yang sering kerja lembur dan lupa bahwa ada dua anak yang harus diurus, serta dibentuk karakternya melalui pola parenting yang sehat. Hingga akhirnya, dia pun menyesal telah menorehkan luka melalui kalimat abusive yang dilakukan tanpa disadarinya.

Peristiwa di atas agaknya jamak terjadi di kalangan wanita dengan fungsi ganda sebagai ibu rumah tangga dan wanita pekerja, yang ikut mendukung keuangan keluarga. Dorongan untuk bekerja dan membantu perekonomian keluarga, sejatinya merupakan pilihan yang tidak mudah. Hal ini disebabkan bahwa pada dasarnya mereka juga ingin berkontribusi dan berperan dalam parenting keluarga. Namun sayangnya, kemampuan menyelaraskan dua fungsi tersebut yang kurang begitu optimal, justru menjadikan para wanita dengan fungsi ganda ini, makin terpuruk oleh situasi dan tekanan hidup yang serba instan maupun cepat. Maka dari itu, sudah dapat dipastikan bahwa kondisi mereka makin stres dan marah-marah, dan justru berdampak buruk bagi kesehatan mental mereka. Apalagi bagi sebagian orang yang pernah mengalami luka psikis inner child di masa lalunya. Akibatnya, keadaan dan situasi keluarga makin mencekam.

Memahami Inner Child Yang Terluka

Lalu apa sebenarnya Inner child itu? Menurut American Psychological Association, Inner child adalah bagian dari diri seseorang yang berisi pengalaman, emosi, dan pola pikir yang terbentuk sejak masa kecil. Ini mencerminkan cara kita merasakan dunia berdasarkan pengalaman masa lalu, terutama yang terjadi selama masa kanak-kanak.

Inner child bukan hanya sekadar kenangan masa kecil, tetapi juga perasaan, luka, dan pola pikir yang terbawa hingga dewasa. Jika seseorang mengalami pengalaman yang menyenangkan dan penuh kasih sayang di masa kecil, inner child-nya cenderung sehat. Sebaliknya, jika seseorang mengalami trauma, pengabaian, atau luka emosional, inner child-nya mungkin menyimpan rasa sakit yang bisa memengaruhi perilaku, emosi, dan hubungan di masa dewasa. Rasa sakit ini, tak jarang tanpa disadari justru akan terbawa pada saat dewasa ke alam bawah sadarnya. Ironisnya, ketika terdapat pemantik yang bisa menyebabkan luka inner child ini muncul, maka justru akan berdampak buruk bagi yang bersangkutan maupun orang-orang terdekatnya, seperti keluarga, kerabat, anak, suami, istri saodara atau bahkan teman terdekat.

Mengenali Gejala Orang Dengan Inner Child Terluka Sejak Dini

Orang-orang yang mengalami gangguan inner child yang terluka, biasanya akan mengalami rasa takut ditinggalkan dan sulit mempercayai orang lain. Selain itu, mereka juga akan mengalami kecenderungan selalu perfeksionis atau ingin segala sesuatu terjadi sempurna tanpa ada kesalahan. Dalam banyak kasus, orang-orang yang mengalami luka pada inner childnya, juga akan mudah cemas, merasa takut jika ditolak atau pun diabaikan oleh lingkungan. Pada kondisi yang cukup ekstrim, orang-orang yang mengalami inner child yang terluka ini akan mengalami kesulitan dalam mengekspresikan emosi atau bahkan justru mudah meluapkan emosi tanpa kendali diri yang tepat dan akurat. Marah-marah meledak, agresif dan merusak benda, melakukan kekerasan verbal dan fisik hanyalah sebagian kecil dari manifestasi dari inner child yang terluka.

Nah supaya inner child ini tidak terlalu sering mempengaruhi kehidupan agar tidak makin terpuruk, maka hal utama yang dapat dilakukan adalah menyadari bahwa Anda memiliki inner child yang terluka. Tak hanya itu, dengan menyadarinya setidaknya Anda juga akan dapat menjadi lebih mampu menerima kondisi emosional yang tengah terluka. Lakukan sejumlah cara seperti melakukan meditasi, menulis jurnal rasa syukur dan berusahalah untuk mengungkapkan emosi Anda secara tepat.

Jika perlu dan dirasakan bahwa luka bathin karena inner child Anda makin menyulitkan hidup, cobalah untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan jiwa. Melalui konsultasi dengan profesional kesehatan jiwa seperti psikolog dan psikiater , sehingga Anda akan mendapatkan penanganan yang tepat. Tetap semangat ya…(*)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *