Jakarta – kesehatanmental.info- Belakangan ini tagar #kaburajadulu makin ramai diperbincangkan di kalangan pekerja muda. Bahkan tagar ini kian riuh di lini masa, dan media sosial. Menariknya, banyak kalangan pro maupun kontra dengan fenomena ini. Beberapa pejabat tinggi bahkan sempat berkomentar, mulai dari mentri sampai dengan kalangan pendidikan. Lalu apa sebenarnya penyebabnya?

Salah satu penyebab utama yang kalangan muda yang ingin #kaburaja dulu ke negara lain adalah karena adanya fenomena brain drain yang makin kentara. Brain drain sendiri pada dasarnya adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan fenomena migrasi tenaga kerja terampil, berbakat, atau berpendidikan tinggi dari satu negara ke negara lain. Biasanya, mereka pindah untuk mencari peluang yang lebih baik dalam hal karier, gaji, kualitas hidup, atau lingkungan kerja yang lebih kondusif.

Anak-anak muda yang memiliki kompetensi dan kemampuan cukup baik, biasanya merasakan bahwa potensi dan skill yang dimiliki kadang tidak sepadan dengan kompensasi yang didapatkan. Akibatnya, mereka lebih memilih untuk mencari pekerjaan di luar negeri. Tentu saja hal ini dengan alasan bahwa mereka berharap akan mendapatkan kompensasi yang lebih baik ketika bekerja di luar negeri.

Selain itu, pada dasarnya terdapat sejumlah faktor yang bisa menjadi penyebab seseorang mengalami brain drain. Faktor pendorong pertama adalah gaji dan kompensasi yang lebih baik. Faktor ini menjadi salah satu pemicu yang sangat kuat karena memang di luar negeri rata-rata memberikan penghasilan yang lebih memadai. Tak hanya itu, mereka juga merasa bahwa skill dan kemampuan mereka menjadi lebih dihargai sesuai dengan kapasitasnya.

Faktor kedua yang tak kalah menarik adalah harapan akan karir dan pendidikan yang lebih memadai bagi mereka. Suka atau pun tidak, negara maju di luar memang lebih banyak menjanjikan begitu banyak peluang, baik dari sisi karir maupun pendidikan. Tentu saja hal ini berkaitan dengan iklim kerja dan peluang pendidikan yang lebih fair dengan standard meritokrasi yang lebih adil. Fakta lain yang tak kalah penting adalah lingkungan sosial yang lebih stabil dan aman. Lingkungan sosial yang lebih stabil dan kualitas hidup yang lebih baik, justru menjadi penyebab utama para pekerja enggan kembali ke Indonesia. Mereka bahkan telah merasakan betapa hidup di luar negeri, terutama negara maju menjadikan mereka lebih sehat secara mental dan fisik.

Potensi Kehilangan Genersi Unggul

Sebagai negara yang kini tengah mendapatkan bonus demografi karena jumlah usia produktif lebih banyak, seharusnya negara mampu memfasilitasi lapangan kerja yang lebih memadai. Karena hal ini sudah pasti akan menjadikan kaum muda usia produktif yang cerdas tak lantas lari ke negara lain.

Namun sayangnya, negara belum mampu hadir sepenuhnya pada situasi ini. Apalagi jika menyangkut kondisi dan situasi makin maraknya lay off atau pemutusan hubungan kerja akhir-akhir ini. Jadi wajarlah kiranya jika makin hari makin banyak orang yang gencar mengkampayekan #kaburajadulu atau pergi keluar negeri karena ingin memperbaiki nasib dan hidupnya. Suka atau pun tidak, mereka kaum muda yang potensial memang lebih dihargai dari segi kompensasi dan jenjang karir yang lebih baik. Apalagi jika mereka memiliki kinerja dan pendidikan yang gemilang. Jadi jangan heran jika negara akan makin banyak kehilangan generasi muda yang potensial, yang justru mampu berkontribusi bagi kemajuan bangsa. (*)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *