Trauma karena relationship yang gagal justru berdampak jangka panjang

Jakarta – kesehatanmental.info – Trauma yang diakibatkan oleh relasi yang buruk, bisa jadi akan muncul kembali jika terdapat pemicunya. Selain itu, trauma yang disebabkan oleh relasi yang buruk juga akan berdampak pada pada makin sulitnya seseorang untuk menyembuhkan dirinya sendiri karena bentuk relasi yang gagal dengan banyak orang.

Relasi yang buruk dapat menyebabkan trauma karena hubungan yang seharusnya menjadi sumber dukungan justru menjadi penyebab stres, rasa sakit, atau ketakutan. Trauma dari hubungan ini, yang sering disebut trauma hubungan (relationship trauma), dapat berdampak jangka panjang pada kesehatan mental dan emosional seseorang. Berikut beberapa alasan mengapa relasi yang buruk bisa menyebabkan trauma:

Kehancuran Rasa Aman dan Kepercayaan

Dalam hubungan yang sehat, seseorang merasa aman dan percaya pada pasangannya, keluarga, atau teman. Namun, dalam relasi yang buruk biasanya pengkhianatan atau perselingkuhan dapat menghancurkan kepercayaan dan membuat seseorang sulit mempercayai orang lain di masa depan. Rasa percaya yang sudah rusak, meyebabkan seseorang merasa tidak aman ketika membangun relasi dengan orang lain. Apalagi jika dalam relasi tersebut, janji yang sering dilanggar menciptakan ketidakpastian dan kecemasan yang berkepanjangan. Akibatnya, ketika kepercayaan dihancurkan secara terus-menerus, seseorang bisa mengalami trauma dan kesulitan membangun hubungan baru.

Pelecehan Emosional dan Psikologis

Pelecehan emosional sering kali tidak terlihat, tetapi dampaknya sangat besar. Beberapa bentuk pelecehan misalnya gaslighting yaitu dengan memanipulasi seseorang agar meragukan ingatan dan realitasnya sendiri. Tindakan ini sengaja dilakukan oleh orang yang ingin melecehkan emosi orang lain. Adapun caranya bisa dengan berbagai macam yaitu melalui penghinaan atau merendahkan. Tindakan terus-menerus membuat seseorang merasa tidak berharga atau tidak cukup baik. Di sisi lain silent treatment (mengabaikan) justru menyebabkan perasaan terasing dan tidak diinginkan. Selain itu, pelecehan ini dapat menyebabkan kecemasan, depresi, dan harga diri yang rendah, yang semuanya merupakan tanda trauma.

Kekerasan Fisik atau Seksual

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bisa menciptakan rasa takut yang mendalam. Di sisi lain, pelecehan seksual atau pemaksaan dalam hubungan dapat meninggalkan luka psikologis yang sulit disembuhkan. Tak hanya itu, Orang yang mengalami kekerasan fisik atau seksual dalam hubungan sering kali mengalami PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder). Jadi ada baiknya, lebih berhati-hati dalam membangun relasi dengan pasangan atau pun orang lain. Sebab jika tidak berjalan dengan sebagaimana mestinya, akan berakibat buruk bagi kondisi psikologis.

Pengabaian dan Kurangnya Dukungan Emosional

Jika seseorang tidak didukung secara emosional dalam hubungan, mereka bisa merasa tidak berharga dan kesepian. Orang-orang yang dianggap tidak mampu memberikan dukungan secara emosional, akan berdampak pada kualitas emosional yang makin tidak stabil. Di sisi lain, hubungan dengan pasangan atau orang tua yang tidak peduli bisa menyebabkan perasaan tidak dicintai dan tidak diinginkan. Nah dalam kondisi ini, pasangan maupun orangtua yang terlalu sering mengabaikan orang terdekat tanpa disadari justru makin memperburuk kondisi emosional mereka. Sebab pada hakikatnya, kehilangan dukungan emosional dari orang terdekat dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam.

Hubungan yang Penuh Ketidakpastian dan Drama

Jika hubungan sering diwarnai dengan pertengkaran besar atau putus-nyambung, seseorang bisa mengalami stres kronis. Bentuk stress kronis yang berkepanjangan tanpa ujung dan penyelesaian, bisa menjadikan orang makin parah, sehingga mengalami trauma yang berkepanjangan. Sementara itu, ketidakpastian dalam hubungan menyebabkan kecemasan dan rasa tidak aman yang bisa berkembang menjadi trauma. Alih-alih makin membaik, orang-orang yang mengalami trauma biasanya juga mengalami relasi yang penuh drama dan ketidakpastian.

Ketergantungan Emosional dan Codependency

Dalam hubungan yang buruk, seseorang bisa menjadi terlalu bergantung secara emosional pada pasangannya. Bahkan tak jarang mereka mengorbankan kebahagiaan dan kebutuhan diri sendiri demi mempertahankan hubungan. Nah jika hubungan berakhir, mereka bisa merasa hancur dan kehilangan jati diri. Hal ini disebabkan ketergantungan emosional yang tidak sehat bisa menciptakan trauma jika hubungan berakhir atau berubah menjadi toksik. (*)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *