Jakarta – Kesehatanmental.info – Pernahkah Anda merasa bahwa dunia kerja memang tidak pernah adil? Yes, ungkapan itu memang seringkali banyak dikatakan oleh para pekerja. Bahkan di kalangan pekerja profesional dengan jabatan tinggi sekalipun. Alih-alih menolaknya, itulah fakta dan kenyataan yang terjadi di dunia kerja yang makin kompetitif. Tak jarang, banyak pegawai merasakan tekanan yang luar biasa baik dari atasan, rekan kerja hingga top manajemen.

Menariknya, tekanan pekerjaan justru lebih banyak dilakukan oleh atasan dan cenderung abusive, sehingga berdampak buruk bagi para pekerja itu sendiri. Dampak buruk itu, tidak hanya berkaitan dengan kinerja para pegawai, namun dalam jangka panjang justru berakibat pada rendahnya kesejahteraan psikologis setiap orang. Nah berikut ini adalah sejumlah dampak buruk terjadinya abusive power di dunia kerja:

Menghancurkan Kesehatan Mental dan Emosi Karyawan

Orang-orang yang sering mendapatkan kekerasan secara fisik, emosional dan verbal dari atasannya biasanya akan lebih rentan mengalami gangguan depresi. Terlebih di tengah kondisi ekonomi yang sedang tidak menentu belakangan ini. Burn out, stress berkepanjangan, sampai dengan depresi adalah efek jangka panjang ketika seseorang mendapatkan abusive power dalam pekerjaanya. Robert Sutton, Profesor Psikologi dan Organisasi dari Stanford University menyatakan bahwa abusive power tidak hanya merusak individu saja, namun juga terbukti meracuni organisasi dalam jangka panjang. Bayangkan saja, jika Anda bekerja tiap hari dengan penuh tekanan emosional maka dengan serta merta perusahaan yang sebenarnya tempat berkarya, justru telah menjadi penderitaan lahir maupun bathin. Sungguh meresahkan bukan?

Menurunkan Produktivitas

Para pemimpin dan manajer yang terlalu sering menggunakan kekerasan secara fisik, verbal maupun emotional pada akhirnya hanya akan menurunkan kinerja maupun produktivitas pegawai. Awalnya memang mereka menganggapknya hanya makian, namun lama-kelamaan tindakan abusive power yang terlalu kentara justru akan menjadikan para pekerja enggan untuk bertanya, menutup diri hingga takut untuk berpendapat. Tentu saja situasi ini hanya akan mencegah terjadinya inovasi di dalam perusahaan, karena setiap orang cenderung takut jika melakukan kesalahan dalam pekerjaannya.

Turn Over Pegawai Tinggi

Pada prakteknya, kenyamanan dalam bekerja menjadi salah satu dasar dan acuan bagi para pekerja di perusahaan. Terlebih jika mereka merasa di dengar dan diperhatikan aspirasinya, maka dengan sendirinya para pegawai akan lebih betah bekerja di perusahaan. Namun, ketika atasan dan para pemimpin justru tak mampu menjadi pendengar yang baik, egois dan bahkan cenderung abusive maka jangan heran jika mereka tak akan betah bekerja di perusahaan. Situasi ini justru menyebabkan para talenta terbaik akan meninggalkan perusahaan, bekerja di tempat lain atau justru bekerja di kompetitor. Akibatnya, turn over pegawai makin tinggi sementara organisasi makin sulit mencari talenta terbaik yang mampu mengisi posisi strategis. Nah jika situasi ini dibiarkan dalam jangka panjang, hanya akan menunggu perusahaan makin terpuruk.

Merusak Budaya Perusaaan dan Moral Tim

Jeffrey Pfeffer, seorang Profesor Perilaku organisasi dari Stanford Graduate School of Business menyatakan bahwa abusive power di organsisasi hanya akan melahirkan para pemimpin toxic. Tak hanya itu, para pemimpin toxic ini juga akan menjadi mesin penghancur bagi keberlanjutan organisasi. Jadi jika kamu berada di lingkungan yang toxic, apalagi atasan yang menggunakan kekuasaannya untuk memperdayamu maka cobalah untuk memikirkan kembali pekerjaan dan karirmu ke depan. Sebab, jika kamu terus memaksakan diri untuk melanjutkan pekerjaanmu justru hanya akan menyakiti dirimu sendiri dan menciderai nilai moralmu.

Memburuknya Reputasi Perusahaan

Para pemimpin yang mengguakan kekuasaanya secara semena-mena, hanya akan menjadikan reputasi perusahaan kian hancur. Belum lagi jika mereka merasa paling benar dan paling tahu soal semua hal. Maka kehancuran reputasi perusahaan hanya akan menunggu waktu saja. Pelan namun pasti, perusahaan akan ditinggalkan oleh pegawai terbaiknya. Tentu saja situasi ini justru akan berdampak negatif bagi citra dan reputasi perusahaan yang kian tercoreng. Padahal, membangun reputasi bukanlah perkara mudah bukan? (Hasis Purwanto)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *