Jakarta – Kesehatanmental.info – Pernahkah Anda merasakan pikiran yang kusut dan sepertinya makin hari makin terasa berat untuk menanggungnya? Padahal, tubuh sepertinya terasa sehat dan baik-baik saja. Bisa jadi, tanpa disadari, Anda sedang mengalami gejala kecemasan.
Alih-alih semakin menyadari apa yang sedang terjadi, Anda justru semakin kalut dan kecemasan semakin menjadi-jadi hingga berdampak pada gangguan kesehatan fisik.
Menurut American Psychological Association (APA), gangguan kecemasan memiliki penyebab yang cukup beragam. Namun, secara umum, gangguan kecemasan dapat dipengaruhi oleh tiga faktor besar, yaitu biologis, psikologis, dan lingkungan. Ketiga faktor tersebut dapat berdiri sendiri atau sangat mungkin saling memengaruhi satu dengan lainnya.
Dalam konteks ini, orang-orang yang mengalami gangguan kecemasan biasanya belum mampu menemukan penyebab utama dari gangguan kecemasan yang mereka alami. Menariknya, di tengah gempuran informasi dan media sosial yang semakin mendistraksi kehidupan masyarakat akhir-akhir ini, banyak orang terkadang enggan menerima bahwa dirinya sedang mengalami gangguan kecemasan.
Tak jarang, mereka merasakan pikiran yang gaduh dan sibuk dengan berbagai prioritas hidup yang sulit untuk diwujudkan. Prioritas tersebut mulai dari pekerjaan, pencapaian karier, kehidupan keluarga, bahkan sampai kehidupan sosial yang tidak jarang justru menjadi tekanan bagi sebagian besar orang.
Rasa cemas, kebiasaan membandingkan kehidupan sosial, sampai dengan perasaan rendah diri dalam banyak kasus dapat membuat penderita gangguan kecemasan semakin terjebak dalam situasi yang tidak menyenangkan dan berlangsung berkepanjangan.
Sementara itu, dari faktor biologis, pada banyak orang yang memiliki kerentanan fisik seperti kekebalan tubuh yang kurang stabil, kondisi kesehatan yang menurun, serta faktor penyakit kronis, hal tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan munculnya gangguan kecemasan.
Bagi orang-orang tertentu yang memiliki penyakit kronis, tingkat kecemasan biasanya dapat lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak mengalami penyakit tersebut. Meskipun demikian, bukan berarti orang yang tidak memiliki penyakit kronis lantas bebas dari gangguan kecemasan.
Penanganan Gangguan Kecemasan
Menurut American Psychiatric Association (APA), gangguan kecemasan mencakup sejumlah kondisi, antara lain generalized anxiety disorder (GAD), panic disorder, social anxiety disorder, specific phobia, serta beberapa gangguan kecemasan lainnya.
Masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda, tetapi memiliki kesamaan berupa kecemasan atau ketakutan yang signifikan dan dapat menimbulkan gangguan terhadap fungsi kehidupan seseorang.
Penanganan gangguan kecemasan sebaiknya disesuaikan dengan jenis gangguan, tingkat keparahan, kondisi kesehatan seseorang, dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Tidak ada satu metode yang cocok untuk semua orang.
Salah satu pendekatan psikologis yang memiliki banyak bukti ilmiah adalah cognitive behavioral therapy (CBT). Dalam CBT, individu dibantu untuk mengenali hubungan antara pikiran, emosi, dan perilaku. Nah, pada kondisi tertentu, terapi psikologis juga dapat menggunakan teknik seperti exposure therapy, yaitu membantu seseorang menghadapi sumber ketakutan secara bertahap dan terstruktur, bukan terus-menerus menghindarinya. Bagaimanapun penghindaran memang dapat memberikan rasa lega dalam jangka pendek, tetapi pada sebagian orang justru dapat mempertahankan siklus kecemasan dalam jangka panjang.
Pendekatan Farmakologis
Pada gangguan kecemasan dengan tingkat keparahan tertentu, dokter atau psikiater dapat mempertimbangkan pengobatan farmakologis. Obat yang digunakan bergantung pada diagnosis dan kondisi individu.
Karena obat memiliki manfaat, efek samping, interaksi, dan pertimbangan klinis masing-masing, penggunaannya harus berdasarkan evaluasi dan pengawasan tenaga kesehatan profesional, bukan berdasarkan rekomendasi orang lain atau penggunaan secara mandiri.
Selain terapi profesional, perubahan gaya hidup juga dapat menjadi bagian dari pengelolaan kecemasan. Aktivitas fisik secara teratur, tidur yang cukup, pola makan yang baik, membatasi konsumsi kafein jika memperburuk kecemasan, menghindari alkohol sebagai cara “mengobati” kecemasan, serta membangun hubungan sosial yang suportif dapat membantu meningkatkan kesehatan mental secara keseluruhan.
Untuk mendukung proses terapi, teknik relaksasi seperti latihan pernapasan, mindfulness, meditasi, dan relaksasi otot juga dapat membantu sebagian orang mengelola respons stres dan kecemasan.Namun, teknik tersebut sebaiknya dipandang sebagai bagian dari strategi pengelolaan, bukan sebagai pengganti evaluasi profesional ketika gejala sudah berat atau menetap.
Jika rasa cemas berlangsung terus-menerus, semakin berat, mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, tidur, atau aktivitas sehari-hari, mencari bantuan dari psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan profesional merupakan langkah yang dapat dipertimbangkan. (*)