Memiliki atasan atau bos yang toxic bukanlah perkara yang mudah. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini yang sudah tentu hampir sebagian besar pekerjaan dilakukan secara online. Kondisi ini tentu saja ikut berdampak pada seluruh aktivitas yang menyangkut pekerjaan seperti misalnya, koordinasi, pelaporan bahkan meeting penyampaian hasil kerja.
Seperti di lansir dari psychologytoday berikut ini sejumlah tanda bahwa atasan Anda merupakan atasan yang toxic:
1. Kemampuan Leadership Rendah
Menurut Ronald E. Riggio, Ph.D Cutting Edge Leadership, para atasan atau managerial level yang toxic memiliki kemampuan leadership yang rendah. Hal ini tercermin dari kemampuannya dalam mengelola pekerjaan, menggelola tugas dan mengelola bawahannya. Tak jarang atasan yang toxic ini marah tanpa sebab yang jelas karena tak mampu mengelola pekerjaanya. Bahkan cara yang paling cepat dilakukan adalah menyalahkan bawahannya atas ketidakmampuannya.
2. Tidak Bersedia Mengabil Resiko dan Buang Badan
Banyak kasus terjadi di sejumlah perusahaan para atasan toxic cenderung buang badan dan enggan untuk mengambil resiko. Berbagai alasan sering dikemukan seperti misalnya takut menyalahi prosedur, tidak sesuai aturan internal, atau bahkan terlalu besar kemungkinan gagalnya. Padahal fungsi utama dari atasan adalah memastikan bahwa proses bisnis di divisinya atau di unit kerjanya berjalan dengan baik. Itu sebabnya jika terjadi kesulitan harus mampu mengambil resiko bukan justru buang badan dan menyalahkan aturan. Atasan yang kompeten paling tidak harus mampu mencari solusi atau terobosan untuk mengatasi masalah.
3. Tidak Memiliki Perencanaan dalam Ekseskusi Pekerjaan
Salah satu hal yang menjadi penyebab kegagalan dalam setiap pekerjaan adalah perecanaan yang buruk. Saat Anda gagal menyusun perencanaan, itu berarti sebenarnya Anda sudah merencanakan kegagalan. Bayangkan saja, misalnya Anda adalah staf opersional tapi atasan Anda sebagai manajer opersional tidak mampu membuat perencanaan opersional di unit kerja cabang Anda, kurang cakap menyusun back up plan jika terjadi masalah, lalu gagal menyediakan solusi jika terjadi masalah mendadak, maka yang terjadi kemudian adalah masalah akan datang bertubi-tubi dan Anda sebagai bawahan akan dipersalahkan.
4. Menghindar Jika Terjadi Konflik
Sesungguhnya berdasarkan karakter dan kepribadian seseorang terdapat tipe orang yang cenderung enggan berkonflik. Namun bukan berarti Ketika sedang ada konflik, atasan Anda menghindar atau kabur. Jika masalah ini terjadi dan sang atasan buang badan, artinya dia tidak kompeten mengelola perubahan atau managing change. Pada dasarnya semakin tinggi jabatan makan konflik dan gesekan akan semakin besar, karenanya dibutuhkan kemampuan untuk mencari solusi atas konflik. Bukan justru menghindari konflik tersebut.
5. Komunikasi Yang Buruk dan Merasa Benar
Menurut survey yang dilakukan oleh Harvard University karyawan resign atau mengundurkan diri dari perusahaan lebih banyak disebabkan oleh atasannya yang kurang cakap, bukan sekadar karena nilai gaji yang rendah. Mayoritas karyawan yang mengundurkan diri tersebut menyatakan bahwa mereka mendapatkan perlakuan buruk dari atasan mereka seperti atasan yang merasa paling benar dan paling pintar, komunikasi yang buruk dan terlalu otoriter, kurang mendengarkan serta tidak memiliki pemikiran yang terbuka.
6. Menolak Perubahan
Banyak kasus yang terjadi di perusahaan, para atasan entah ini level managerial atau top level enggan menerima perubahan. Alasannya adalah mereka menganggap perubahan itu merepotkan. Padahal, di era digital saat ini semua orang harus belajar dan beradaptasi, digital savy dan terus meningkatkan kompetensi atau pun kapabilitas. Pernahkah Anda menjumpai atasan Anda gagap menggunakan aplikasi teknologi pendukung perusahaan lalu menyalahkan Anda dengan alasan merepotkan dan kurang terinformasi? Sungguh memalukan bukan. Alih-alih menerima kekurangan dan belajar, yang terjadi justru mencari-cari kambing hitam atau menyalahkan orang lain dan keadaan.
7. Oportunis dan Menggunakan Politis Praktis di Kantor
Office politic adalah yang biasa terjadi dalam praktek tata Kelola perusahaan, namun jika itu sudah berlebihan justru akan melukai orang-orang di dalam perusahaan itu sendiri. Atasan yang toxic biasanya akan menciptakan konflik untuk mencari masalah sehingga ada orang yang disalahkan atas kegagalannya dalam mengelola unit kerja dan bawahannya. Jadi jangan heran jika atasan seperti ini terkadang kita temukan. Lain di mulut lain di hati dan parahnya lagi lain di pikiran. So be careful dengan atasan seperti ini ya. (Has/Ayu)