Belakangan ini makin marak istilah hustle culture di kalangan para pekerja. Terlebih dengan kondisi ketidakpastian seperti pandemi Covid-19 sekarang. Sejumlah orang telah kehilangan pekerjaan, sedangkan yang lainnya harus menelan pil pahit dikurangi pendapatannya, sebagai akibat dari efisiensi perusahaan.
Karena takut kehilangan pekerjaan, tak jarang para pekerja berkerja terlalu keras tanpa mengenal lelah. Meskipun sebagian besar perusahaan telah menerapkan sistem kerja dari rumah, namun tetap saja tekanan pekerjaan selalu mendera. Bahkan dalam banyak kasus, bekerja dari rumah bagi sebagian orang justru telah menghilangkan batasan antara ruang privat keluarga dan pekerjaan. Bagaimana tidak, saat melakukan aktivitas kerja dari rumah atau work from home, batasan antara jam kerja dan jam di luar pekerjaan menjadi semakin kabur. Alih-alih dapat bersantai, yang terjadi justru jam kerja berkepanjangan tanpa berkesudahan.
Mengapa jam kerja berkepanjangan di rumah justru sering terjadi? Hal ini sangatlah mungkin terjadi, karena batasannya kadang cukup absurd. Belum lagi distraksi sejumlah aktivitas lainnya seperti gangguan internet, anak merengek, atau sodara di rumah kadang mengganggu tanpa segaja, atau bahkan mungkin kita sendiri yang tak jarang kurang disiplin dalam menyelesaikan pekerjaan.
Hustle culture merupakan fenomena menarik di sejumlah negara. Dilansir dari laman Forbes, terdapat 55% pekerja di Amerika Serikat mengalami stres karena pekerjaannya yang merupakan 20% lebih tinggi dibandingkan angka keseluruhan di dunia. Sementara itu, menurut Mental Health Foundation UK, di Inggris 14,7% pekerjanya mengalami gangguan kesehatan mental akibat pekerjaan.
Di sisi lain disampaikan di Jepang, jumlah pekerja yang mengalami penyakit jantung, stroke, hingga gangguan mental meningkat tiga kali lipat akibat kelelahan bekerja. Fenomena hustle culture kian merasuki para pekerja saat ini, karena tekanan ekonomi dan sosial yang tak cukup mudah ditaklukan oleh siapa pun. Budaya sharing informasi yang begitu masif, tak jarang justru menjadi pemicu bagi orang-orang yang merasakan pentingnya pengakuan dan validasi sosial oleh orang-orang di sekitarnya.
Karena itu, tidaklah mengherankan jika banyak pegawai apalagi milenial terkadang membabi-buta untuk bekerja keras, tanpa kenal waktu, demi mendapatkan karir yang cemerlang di kemudian hari. Memang diperbolehkan bekerja keras agar mendapatkan jenjang karir yang cepat dan lebih baik. Namun rasanya kurang tepat, jika kita mengorbankan kesehatan kita untuk mendapatkan segala sesuatu yang belum tentu kita dapat kita raih nanti. Lalu untuk apa kita mencari uang, namun di kemudian hari kita menghabiskan uang itu untuk pengobatan sakit kita karena kita bekerja terlalu keras. Sungguh ironi yang menyedihkan bukan?
Dapat Akibatkan Burn Out
Hustle Culture atau bekerja tanpa henti atau lebih tepatnya hidup untuk bekerja, bukan bekerja untuk hidup justru akan sangat membahayakan kondisi fisik dan mental. Apalagi di tengah kondisi ketidakpastikan saat ini. Akibatnya, bukan prestasi yang diperoleh karena kinerja yang maksimal, namun justru kondisi burn out yang makin memperarah keadaan.
Sebuah riset yang dilakukan di penelitian pada 2018 dan dipublikasikan di Current Cardiology Reports, mengambil sampel subjek dari Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Cina memberikan hasil bahwa, mereka yang bekerja lebih dari 50 jam per minggu ditemukan memiliki peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular, seperti infark miokard (serangan jantung) dan penyakit jantung koroner. Sungguh menyedihkan dan miris bukan?
Selain itu, mereka yang bekerja lebih dari 60 jam per minggu mengalami peningkatan cedera akibat kerja. Penduduk Jepang yang bekerja 80 hingga 99 jam per minggu memiliki risiko 2,83 persen lebih besar terkena depresi, yang mengarah pada perilaku tidak sehat seperti merokok, mengonsumsi alkohol, dan tidak aktif secara fisik.
Bagi sebagian orang bekerja keras dan bekerja smart bisa jadi opsi, akan tetapi tidak semua orang punya keleluasaan untuk melakukan keduanya. Tentu saja karena karakteristik dan sifat pekerjaan masing-masing orang cenderung berbeda. Menurut organisasi kesehatan dunia WHO, kesehatan adalah investasi masa depan yang sangat penting. Oleh sebab itu, mari kita mulai menjaga kesehatan fisik dan mental kita agar tetap seimbang dalam menjalani hidup. Ingat bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja. (has/ay)
