Perubahan zaman dan glorifikasi terhadap kecerdasan dan hasil akademik anak tak jarang membuat para orangtua melupakan pentingnya life skill. Betapa tidak, di tengah kondisi dan situasi zaman yang kian karut-marut ini, generasi muda zaman sekarang makin mengalami dekadensi moral dan penurunan kualitas life skill.
Sayangnya, tak banyak para orangtua yang menyadari dan paham betapa life skill merupakan komponen yang sangat esensial dalam menentukan keberhasilan anak-anak di masa akan yang akan datang. Tak dipungkiri kecerdasan intelegensi dan nilai akademik cukup penting di era yang kian kompetitif dan sengit ini, namun ada yang sudah mulai terlupakan oleh para orangtua, terlebih yang tinggal di kota-kota besar dan sub urban. Apaakah itu? Jawabannya adalah “Life Skill”
Ketrampilan untuk bertahan hidup dan beradaptasi di tengah derasnya arus informasi yang kian tak terkendali, suka atau pun tidak telah menggerus emosi dan jiwa anak-anak kita, terutama generasi milenial, generasi Z dan bahkan mungkin generasi Aplha yang kini tengah duduk di bangku Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas.
Gaya hidup serba praktis tak jarang justru menjadi pisau bermata dua bagi pertumbuhan dan perkembangan mental dan emosional anak-anak. Bayangkan saja, tanpa harus bersusah payah, hanya dengan satu tekan jari di aplikasi di telpon pintar anak-anak zaman sekarang bisa membeli makanan, pesan laundry atau cucian antar, sampai dengan belajar melalui aplikasi dari internet. Bahkan banyak anak yang tidak peduli dan hormat kepada gurunya, karena mereka merasa cukup dengan mencari informasi di mesin pencari Google, semua sudah begitu mudah didapatkan. Sungguh situasi yang memprihatinkan.
Digitalisasi dan modernisasi sesungguhnya tidaklah salah karena ini bagian dari realitas dan konsekuensi zaman yang tidak bisa kita bendung. Namun para orangtua hendaknya senantiasa mawas diri dan perhatian mengenai pentingnya life skill, bagi anak-anak di masa yang akan datang. Bagaimana pun life skill akan sangat berguna bagi generasi mendatang agar dapat melanjutkan dan bertahan hidup, di dunia yang serba tidak menentu saat ini.
Life Skill Wajib Menurut WHO
Menurut World Health Organization (WHO), setidaknya ada tiga skill set utama yang dibutuhkan oleh anak-anak dan remaja di masa kini agar tetap dapat terus bertumbuh. Life skill yang pertama adalah kemampuan kognitif yang memadai. Kemampuan ini merupakan pengejawantahan dari kemampuan dari anak-anak dan remaja untuk mecari informasi, mengumpulkan fakta yang valid, lalu mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi, kemudian setelah itu melakukan evaluasi terhadap solusi yang telah ditempuh. Misalnya, seorang anak yang duduk di kelas 3 Sekolah Menengah Pertama, seharusnya sudah mulai bisa mencari tahu, mana yang benar dan salah lalu melakukan validasi dari ajaran orangtuanya. Tentu saja para orangtua harus memberikan informasi dalam konsep parenting yang tepat.
Skill set yang kedua adalah personal abilities. Dalam skill ini, anak-anak dan remaja harus mampu sadar, waras dan mampu mengenali tujuan dari setiap aktivitas, kegiatan yang telah dilakukannya. Selain itu, anak-anak dan remaja juga harus mampu mengelola perasaan dengan baik seperti memahami kapan harus marah, sedih, bahagia dan bagaimana menyalurkannya. Skill lain dalam kaitan personal abilities adalah berpikir dan bertindak secara positif sehingga akan termanifestasi dalam kesehariannya dan melahirkan pribadi yang mandiri dan tidak merugikan orang-orang di sekitarnya.
Sedangkan skill yang ketiga sebagai bagian komponen yang paling penting adalah interpersonal abilities. Dalam skill ini, anak-anak dan remaja harus mampu berkomunikasi dan mengekspresikan dirinya dengan baik kepada orang-orang di sekitarnya. Tentu saja harus sesuai dengan situasi, kondisi dan usianya. Misalnya, gaya komunikasi interaksi dengan teman sebaya tentu saja berbeda dengan gaya interaksi dengan orantua atau pun pendidik di sekolah. Tak hanya itu, skill set yang berkaitan dengan interpersonal abilities ini juga berhubungan dengan kemampuan anak-anak dan remaja untuk bersikap asertif, berani menolak dengan cara yang santun dan sopan, serta dapat berkolaborasi dengan orang-orang di sekitarnya.
Pada akhirnya, orangtua dan sekolah sebagai sub sistem dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak menjadi faktor yang utama. Karena itu, tak heran jika ada ungkapan “Keluargaku Istanaku atau keluargaku surgaku” sebab di sanalah seorang anak akan tumbuh dan berkembang secara sehat baik, fisik, mental dan spiritual sesuai dengan usia dan tugas perkembangannya. (has/ayu)
