Memiliki pekerjaan yang mapan dan sesuai dengan passion plus kompensasi yang memuaskan adalah dambaan hampir semua orang. Apalagi jika kita bekerja di perusahaan berskala multinasional dengan lingkungan kerja yang sangat menyenangkan dan sudah dikenal di kalangan profesional. Hidup terasa begitu indah sesuai dengan harapan. Namun tanpa kita sadari, di era digital dan sharing economy saat ini, sesungguhnya pekerjaan menjadi semakin menantang dan kompetitif. Selain dituntut hasil kerja yang optimal sesuai dengan target ukuran kinerja yang disepakati, pegawai profesional harus mampu beradaptasi dan memiliki kompetensi yang mempuni.

Menurut Lori Goler seperti dilansir dari Harvard Business Review, para pegawai keluar sebenarnya lebih banyak disebabkan oleh bos atau atasan yang buruk dalam mengelola pekerjaan dan teamnya. Dalam studi dan artikelnya disampaikan sejatinya perusahaan banyak kehilangan orang-orang terbaik dan berpotensi mereka, karena kemampuan leadership yang rendah dari para manager dan pengalaman yang minim dalam mengelola kondisi ketidakpastian. Beberapa kondisi ketidakpastian seperti project baru dengan anggaran terbatas, tenggat waktu pekerjaan yang cepat, dan tim yang dinamis tak jarang menjadikan para manager mengalami stress karena tidak kompeten. Dan sudah barang tentu ini akan dilampiaskan ke bawahan dan teamnya. Tak heran, belakangan makin muncul para manager karbitan yang minim pengalaman dan skill namun merasa bisa, serta sok tahu.

Menariknya, para manager karbitan ini terus menikmati menjadi kutu loncat dari satu perusahaan ke perusahaan lain agar mampu mendapatkan gaji yang terus menigkat. Memoles CV atau daftar pengalaman di sosial media seperti linkedin, menambah kursus ini itu, yang kadang terkesan artifisial namun belum tentu aplikatif di pekerjaan, justru digunakan manager karbitan ini menjual diri ke sejumlah perusahaan papan atas, baik perusahaan multinasional, swasta bahkan BUMN. Belum lagi gelar mentereng yang berjajar mengantri seolah terkesan hebat, namun pada saat eksekusi pekerjaan kacau balau. Mirisnya, ketika hasil penilaian kinerja mereka buruk, alih-alih meningkatkan kapasitas dan berusaha memperbaiki diri, mereka langsung pindah lagi ke perusahaan lainnya.

Tak Mampu Mengelola Perubahan

Bagaimana pun satu tahun belumlah cukup untuk membangun kompetensi pegawai dan menguasai bidang kerjanya. Apalagi sejumlah perusahaan menerapkan periode penilaian kinerja selama satu tahun sekali, atau minimal tiap enam bulan sekali. Jadi jangan heran jika belakangan makin marak muncul gelar dan jabatan dengan title mentereng pada jabatan mereka sebelumnya, namun ketika dilihat ruang lingkup kerjanya hanya level staf saja jika dibandingkan dengan perusahaan berskala besar.

Bagi para pemilik bisnis dan profesional bidang SDM pasti sudah cukup tahu bahwa kompetensi bukanlah mengenai gelar akademik yang berjajar rapi, atau pendidikan tinggi saja, namun juga berkaitan dengan pengalaman, daya adaptasi terhadap perubahan lingkungan dan kemampuan memberikan output atau kinerja terbaik. Jadi jika ada pegawai yang baru enam bulan atau satu tahun kemudian langsung pindah bisa jadi kemungkinan dia tidak bisa memenuhi target ukuran kinerjanya, tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan atau bahkan karyawan bermasalah. Mesikpun sekilas terlihat bagus dan membuat orang terpukau karena karirnya begitu melesat, namun kematangan pekerjaan dan penguasaan kompetensi justru sangat minim. Perlu disadari bahwa kondisi ini justru dapat menghancurkan karir dalam jangka panjang, karena semua hanya bersifat polesan sesaat dalam pekerjaan.

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *