Filosofi hidup stoikisme belakangan makin marak dan diminati. Bagi banyak orang, stoikisme dipandang sebagai salah satu upaya untuk menjalani hidup agar lebih baik dan secukupnya. Apalagi di tengah kehidupan modern yang serba instan dan cepat, tak jarang distraksi terhadap banyak hal telah menjadikan kita lupa terhadap esensi dari hidup itu sendiri.
Stoikisme merupakan aliran dan filosofi hidup yang pertama kali dicetuskan oleh Marcus Aurelius, pada awal abad III sebelum masehi. Aliran dan filosofi hidup stoikisme adalah cara hidup yang mengedepankan seseorang tetap dapat adaptif dan mampu menyesuaikan diri, terhadap dinamika atau pun gelombang zaman yang senantiasa pasang surut.
Nah berikut ini adalah sejumlah prinsip hidup stoikisme yang dapat Anda terapkan:
1. Berusaha Menyeimbangkan Pikiran dan Perasaan
Mengelola pikiran agar tetap senantiasa positif bukanlah perkara yang cukup mudah. Terlebih jika kita ditempatkan pada sejumlah sistuasi yang tak jarang menjadikan kita tidak nyaman. Stres, cemas dan kecewa adalah sebagian perasaan yang muncul akibat seseorang tidak dapat menyeimbangkan antara pikiran dengan perasaan. Akibat situasi ini, maka yang terjadi adalah over thinking dan dapat berujung pada gangguan tidur atau anxiety. Oleh sebab itu, dalam penerapan prinsip stoikisme, seseorang disarankan untuk senantiasa mampu menyeimbangkan antar pikiran dan perasaan, sehingga tidak berdampak negatif pada kondisi fisik maupun psikis.
2. Kenali Diri Sendiri Lebih Dalam
Banyak orang stres dan memiliki masalah hidup, kemudian menyalahkan orang lain, keadaan, playing victim sana-sini yang justru bermuara pada terjadinya gangguan psikologis. Filosofi dan psinsip stoikisme menyarankan mengenai pentingnya, untuk mengenali diri sendiri lebih mendalam. Dengan mengenali diri lebih mendalam, seseorang akan mampu memahami apa yang sebenarnya menjadi tujuan hidup atau pun apa yang menjadi kebutuhan hidup yang utama agar mampu mengelola kehidupan bahagia secukupnya. Dilansir dari Stanford university, manusia sejatinya merupakan makhluk yang lebih sering dikendalikan oleh emosi daripada pikirannya. Oleh sebab itu, sangatlah penting untuk memahami keinginan dan tujuan hidup dalam diri masing-masing. Setidaknya dengan mengenali diri, baik kelebihan atau pun kekurangan, kita menjadi lebih mudah menentukan respon terhadap suatu permasalahan.
3. Kontrol Yang Ada Dalam Jangkauan
Sebagai makhluk sosial, manusia kadang lupa dan sering membandingkan antara yang satu dengan lainnya. Maraknya dunia digital dan sosial media, justru menjadi pemicu dan pencetus bagi orang-orang lantas mudah menjadi menghakimi dan membandingkan antara yang satu dengan yang lainnya. Tak jarang saat melihat media sosial seperti Instagram, facebook, tiktok dan lainnya kita jadi lebih sering sedih dan insecure. Padahal apa yang ditampilkan belum tentu sesuai dengan kenyataan. Nah…prinsip stoikisme justru menyarankan agar kita mampu mengelola mindset kita, dengan mengontrol apa yang dapat kita kontrol, justru bukan melihat hal-hal lain yang akan meresahkan pikiran maupun jiwa kita.
4. Berhenti Bersikap Sombong dan Angkuh
Prinsip stoikisme selalu mengajarkan bahwa hidup hendaknya dijalani secukupnya. Saat bahagia seseorang disarankan untuk menikmatinya, dengan penuh rasa syukur. Namun saat kesedihan atau pun kemalangan menimpa, hendaknya tak lantas menjadikan kita kecewa berlebihan, membenci semua orang, keadaan dan menyalahkan diri sendiri. Tindakan ini dalam konsepsi stoikisme justru akan melukai diri sendiri.
5. Ingatlah Tidak Ada Yang Abadi
Kehidupan akan terus bergulir dan beranjak dari satu fase ke fase yang lain. karenanya, dengan memahami kehidupan lebih baik menyesali hal yang telah terjadi secara berkepanjangan bukanlah tindakan yang tepat. Stoikisme mengajarkan bahwa tidak ada yang abadi dalam hidup ini, semua sudah terjadi sesuai dengan ketentuan Tuhan dan semesta. (has/alex)