Jakarta – Kesehatanmental.info – Self-sabotage adalah perilaku yang tidak dibenarkan karena dapat berdampak negatif bagi perkembangan maupun kemajuan diri. Bagi sebagian orang, tanpa disadari tindakan mensabotase diri justru hanya akan melukai diri sendiri, khususnya secara psikologis. Self-sabotage juga merupakan perilaku atau pola pikir di mana seseorang secara tidak sadar atau sadar melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri atau menghambat pencapaian tujuan pribadi atau profesional. Hal ini bisa terjadi ketika seseorang merasa takut akan kegagalan, sukses, atau perubahan, sehingga mereka mungkin menunda-nunda, mengambil keputusan yang buruk, atau menghindari kesempatan yang bisa membawa kesuksesan.

Berikut ini adalah sejumlah alasan terjadinya self sabotage:

Ketakutan Akan Kesuksesan atau Kegagalan

Banyak orang takut akan kesuksesan karena mereka merasa tidak layak atau khawatir bahwa kesuksesan akan membawa tanggung jawab yang lebih besar. Di sisi lain, ketakutan akan kegagalan juga bisa membuat seseorang menghindari upaya atau tantangan baru, sehingga mereka tidak pernah mencapai potensi penuh mereka. Dilema antara gagal dan sukses ini, sedikit banyak telah berdampak pada kemampuan diri dalam mengelola perubahan, akibatnya rasa takut justru lebih menguasai mereka jika dibandingkan dengan keinginan untuk meraih keberhasilan atau kesuksesan itu sendiri.

Kritik Diri yang Berlebihan

Seringkali, orang yang terlibat dalam self-sabotage memiliki kritik diri yang tinggi. Mereka mungkin merasa tidak cukup baik, tidak layak, atau tidak kompeten, yang menyebabkan mereka secara tidak sadar menciptakan hambatan untuk mencapai tujuan mereka.  Perilaku mengkritisi diri sendiri secara belebihan, telah berdampak pada rasa percaya diri yang seharusnya bisa lebih baik. Namun sayangnya, orang-orang yang kerap melakukan kritik terlalu jauh pada diri sendiri, justru didera oleh perasaan rendah diri, kurang percaya diri dan merasa tidak mampu menerima tanggung jawab yang lebih besar. Padahal tanggung jawab ini pada dasarnya melatih diri untuk terus bertumbuh secara mental maupun emosional.

Pengalaman Masa Lalu

Trauma atau pengalaman negatif di masa lalu dapat membentuk pola pikir dan perilaku seseorang. Jika seseorang pernah mengalami kegagalan atau ditolak, mereka mungkin merasa takut untuk mencoba lagi, sehingga mereka menciptakan alasan atau perilaku yang mencegah mereka dari menghadapi situasi serupa. Tak hanya itu, pengalaman penolakan dan kegagalan itu juga menjadi hambatan yang besar bagi tercapainya cita-cita. Selain itu, pengalaman trauma seperti hal-hal yang menyakitkan juga menjadi salah satu pencetus seseorang melakukan self-sabotage, tanpa dia sadari.

Perfeksionisme

Perfeksionisme bisa menjadi faktor pendorong self-sabotage. Seseorang yang perfeksionis mungkin merasa bahwa jika mereka tidak dapat melakukan sesuatu dengan sempurna, lebih baik tidak melakukannya sama sekali. Ini bisa menyebabkan penundaan, keraguan, dan akhirnya enggan untuk bertindak untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Orang-orang yang terlalu perfeksionis pada banyak hal, memiliki kecenderungan untuk terus menerus memperbaiki pada hal yang telah dikerjakannya. Karena itu, tidaklah mengherankan jika orang perfeksionis justru lama dalam menyelesaikan pekerjaanya. (*)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *