Jakarta – Kesehatanmental.info – Pernahkah kamu merasakan betapa banyak masalah dalam hidupmu? Mulai dari pekerjaan, pasangan, anak, pergaulan dan bahkan kehidupan sosial yang sangat mengusik pikiranmu. Jika kamu merasakan hal ini semua, dan kamu tengah berusaha untuk mengatasinya lalu berpura-pura baik-baik saja, maka bisa jadi kamu mengalami “Duck Syndrome”.
Kehidupan yang kompetitif dan keras akhir-akhir ini, tak jarang menyebabkan banyak sekali dampak negatif bagi orang-orang yang tengah menjalaninya. Apalagi di tengah kehidupan media sosial yang terkadang justru oversharing, sedikit banyak ikut berkontribusi pada makin mudahnya setiap orang membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Apalagi kalau bukan hanya melihat postingan media sosial lalu justru berdampak pada terjadinya over thinking, rasa cemas dan takut menghadapi masalah.
Pada dasarnya, masalah akan selalu hadir dalam setiap fase kehidupan namun respon setiap orang justru berbeda. Sebagian orang justru pura-pura tidak ada masalah atau justru menghindarinya. Sebagian orang lagi justru setengah mati berjuang untuk survive lalu bertahan dengan membereskan masalah satu demi satu. Suka atau pun tidak, fenomena ini tanpa kita sadari banyak kita temukan dalam kehidupan maupun lingkungan sosial kita.
Bahkan menurut data yang dilansir dari psychology today, lebih dari 50% orang pada kelompok produktif, mengalami duck syndrome. Lalu apa itu duck syndrome? Istilah Duck Syndrome berasal dari perilaku seekor bebek yang terlihat meluncur tenang di atas air, sementara di bawah permukaan kakinya bergerak cepat dan penuh usaha agar tetap mengapung. Fenomena ini pertama kali digunakan di kalangan mahasiswa yang menghadapi tekanan akademis, namun kini relevan bagi banyak pekerja kantoran yang merasa harus tampak “baik-baik saja” meski berada di bawah tekanan berat. Nah berikut ini adalah sejumlah Ciri pada orang-orang yang mengalami duck syndrome:
Perfeksionisme yang Tinggi
Pekerja yang mengalami Duck Syndrome sering merasa harus selalu sempurna. Mereka enggan menunjukkan kelemahan atau mengakui kesulitan yang dihadapi, meskipun dalam hati mereka merasa kewalahan. Jika hal ini diabaikan terus-menerus, akan bedampak pada terjadinya masalah psikologis yang berkepanjangan.
Kesulitan Menyeimbangkan Kehidupan Pribadi dan Pekerjaan
Mereka yang mengalami Duck Syndrome sering kali kesulitan menemukan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Mereka mungkin menghabiskan waktu yang berlebihan untuk bekerja agar tidak terlihat gagal atau kurang kompeten. Bentuk menghabiskan waktu berlebihan untuk pekerjaan ini sebenarnya merupakan manifestasi dan pelarian dari rasa takut dan cemas yang sedang dialami.
Perasaan Cemas yang Berlebihan
Tekanan untuk selalu terlihat mampu dan sukses sering memicu kecemasan berlebihan. Pekerja mungkin khawatir akan penilaian dari atasan atau rekan kerja, sehingga mereka terus-menerus merasa harus bekerja lebih keras. Perasaan cemas yang berlebihan ini menyebabkan perilaku over thinking yang pada akhirnya akan bermuara pada gangguan emosi dan psikologis lainnya. Belum lagi gangguan tidur atu insomnia yang justru akan makin memperburuk situasi.
Menyembunyikan Emosi dan Kesulitan
Penderita Duck Syndrome sering kali menyembunyikan emosi mereka. Meski di dalam hati mereka mungkin merasa stres, sedih, atau kelelahan, di luar mereka tetap menunjukkan sikap tenang dan profesional. Menariknya, awalnya memang terlihat baik-baik saja, akan tetapi seiring berjalannya waktu, perilaku menyembunyikan emosi ini justru berakibat kurang baik bagi situasi dan kondisi emosi.
Tekanan untuk selalu terlihat baik di permukaan dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan mental yang serius. Salah satu risiko terbesar adalah stres kronis, di mana tubuh dan pikiran tidak mendapatkan waktu untuk beristirahat dari tekanan pekerjaan. Stres kronis ini kemudian bisa memicu burnout, yaitu kelelahan fisik dan mental yang ekstrem yang dapat membuat seseorang kehilangan motivasi dan produktivitas.
Selain itu, Duck Syndrome juga dapat memicu kecemasan berlebihan dan depresi. Ketika seorang pekerja merasa terperangkap dalam siklus perfeksionisme dan tekanan, mereka bisa mulai merasa putus asa dan tidak mampu memenuhi ekspektasi diri sendiri atau lingkungan. Oleh sebab itu, jika Anda mengalami masalah psikologis seperti Duck Syndrome ini lalu berdampak pada kejiwaan dan psikis maka sudah saatnya meminta bantuan profesional seperi psikolog dan psikiater agar mendapatkan solusi bersama untuk mengatasinya. (*)