Mental break down merupakan salah satu jenis gangguan kejiwaan yang cukup meresahkan belakangan ini. Kondisi pandemic Covid-19, sedikit banyak telah berdampak pada kondisi kejiwaan seseorang, sehingga berujung pada terjadinya mental breakdown.
Mental breakdown sesungguhnya jarang digunakan dalam istilah psikologi atau kejiwaan. Tak hanya itu, mental breakdown lebih banyak digunakan oleh masyarakat umum untuk menggambarkan kondisinya emosional dan fisiknya ketika sedang dalam tekanan penuh. Orang-orang yang mengalami mental breakdown biasanya akan mengindikasikan sejumlah gejala fisik maupun psikologis.
Seperti dilansir dari mayoclinic, orang-orang yang sedang mengalami mental breakdown biasanya berada dalam kondisi stres akibat kegiatan sehari-hari atau aktivitas lain yang melelahkan. Bentuk kelelahan ini dapat berdampak pada fisik mapun psikis. Adapun gejala seseorang yang sedang mengalami mental breakdown adalah sering mengalami kecemasan yang berlebihan, perubahan mood dan emosi yang drastis, mudah marah dan meletup-letup. Sementara itu, gejala fisik yang cukup dapat diamati pada orang-orang yang mengalami mental breakdown adalah otot tegang, tekanan darah meningkat, tangan berkeringat, gemetar, sakit perut dan bahkan pada banyak kasus penderita mental breakdown akan merasakan pusing kepala serta insomnia yang cukup parah.
Faktor sosial konon juga dapat menjadi salah satu penyebab seseorang dapat mengalami mental breakdown. Beberapa faktor seperti keluarga yang tidak harmonis, lingkungan pertemanan yang toxic, lingkungan kerja yang kurang mendukung, bencana atau musibah berat adalah sebagian dari faktor sosial pemicu terjadinya mental breakdown.
Cara Mengatasi Mental Breakdown
Mental breakdown pada banyak kasus justru terjadi pada orang-orang pada rentang usia dewasa awal dan dewasa madya. Artinya orang-orang yang berada pada kelompok usia 25-45 tahun sangat rentan mengalami mental breakdown. Beberapa penyebab seperti masalah pekerjaan, hubungan dengan pasangan, hubungan pertemanan, tekanan sosial justru sangat rentan dialami oleh orang-orang pada kelompok usia ini.
Orang-orang yang sedang dalam usia produktif, baik dalam fase awal karir atau pun yang sedang menuju puncak karir, terbukti sangat mudah mengalami mental breakdown. Kendati demikian mental breakdown dapat dicegah dengan melalui beberapa kegiataan yang positif sebagai berikut:
Tidak Memaksakan Kemampuan
Menyadari bahwa kemampuan setiap orang berbeda, menjadi salah satu cara bagi orang-orang yang ingin terbebas dari mental breakdown. Paling tidak melalui cara ini, resiko burn out dapat dihindari sejak dini. Sadari dan pahami kemampuan diri sendiri agar tidak berdampak pada kejiwaan Anda.
Konsumsi Makanan Sehat & Cukup Tidur
Mengonsumsi makanan yang sehat, dengan cukup asupan gizi sesuai kebutuhan tubuh seperti vitamin, lemak, protein dan mineral adalah cara terbaik untuk menyayangi tubuh kita. Selain itu, mengusahakan jadwal tidur yang konsisten dan teratur menjadi salah satu cara ampuh yang dapat mencegah orang terhindar dari mental breakdown. Paling tidak, dengan bersitirahat sekitar 7-8 jam sehari, menjadikan tubuh lebih segar dan produksi hormon tubuh untuk proses regenerasi sel tubuh menjadi lebih optimal.
Rutin Olah Raga dan Meditasi
Olah raga merupakan aktivitas penting bagi tubuh, karena dapat menjadikan tubuh lebih bugar dan produksi hormon endorphin menjadi lebih maksimal. Hormon endorphin yang cukup dapat memicu tubuh mampu menjaga suasana hati dan pikiran sehingga dapat terhindar dari mental breakdown. Nah…jika pikiran dan hati masih galau dan kurang fokus terhadap sesuatu hal misalnya pekerjaan, hubungan percintaan, relasi keluarga dan pertemanan coba lakukan meditasi agar dapat meningkatkan fokus pikiran kita. Setidaknya dengan meditas, pikiran dan bathin menjadi lebih selaras (has)
