Jakarta – kesehatanmental.info – Apakah kamu memiliki kebiasaan mengumpulkan barang-barang berlebihan dan mengalami kesulitan memisahkan barang-barang di rumahmu yang terlalu banyak? Tak hanya itu, keinginanmu untuk mengumpulkan barang bahkan kian menjadi-jadi memasuki usiamu yang beranjak dewasa. Nah jika kamu mengalami hal ini, serta tak kunjung bisa berhenti, bisa jadi kamu adalah pengidap hoarding disorder.

Mengacu pada American Psychological Association, hoarding disorder merupakan gangguan psikologis yang dialami oleh seseorang yang disebabkan oleh beberapa hal yaitu adanya kelainan fungsi otak dan peristiw masa lalu yang tidak menyenangkan. Pada para pengidap hoarding disorder, biasanya akan ditandai dengan keinginan untuk mengumpulkan barang-barang secara berlebihan, walaupun barang tersebut sebenarnya tidak pernah digunakan. Dalam banyak kasus, orang-orang dengan gangguan hoarding disorder ini, juga akan mengalami kesulitan dalam memilah dan memisah barang-barang yang ada di rumahnya. Bahkan tak jarang, mereka juga akan menumpuk barang-barang di rumahnya, hingga memenuhi ruangan yang sebenarnya tidak perlu.

Sementara itu, menurut Carolyn Rodriguez, MD, PhD, associate professor dari Stanford University, orang-orang yang mengalami gangguan hoarding disorder, akan dapat terlihat sejak usia remaja atau dewasa awal. Para penderita gangguan hoarding disorder ini, akan mengalami kecanduan mengumpulkan barang secara terus-menerus dan semakin banyak tanpa bisa mengendalikannya. Tak jarang mereka akan merasa sedih jika harus membuang barang-barang yang telah dikumpulkannya, padahal sesungguhnya barang itu sudah tidak dibutuhkan lagi.

Gejala Kronis Gangguan Hoarding Disorder

Pada kondisi yang sudah kronis, penderita hoarding disorder akan mengalami gangguan kecemasan atau anxiety. Para penderita gangguan hoarding disorder, dalam banyak kasus kurang menyadari dan merasa bahwa yang dilakukannya adalah hal yang biasa saja, serta tidak perlu dipusingkan. Namun sayangnya, penderita gangguan hoarding disorder ini sebagian kurang peduli dengan gejala dan perilaku yang dialami. Padahal, gangguan ini merupakan salah satu jenis gangguan psikologis yang dapat berpotensi besar berakibat pada gangguan psikis yang lebih berat. Adapun gangguan tersebut diantaranya depresi berkepanjangan, insomnia dan ketidakseimbangan emosi.

Sedangkan menurut Sheila Woody, PhD, dari the University of British Columbia menyatakan bahwa pengidap gangguan hoarding disorder, juga memiliki kecenderungan untuk mengalami kesulitan dalam mengorganisasikan sesuatu. Mereka juga kurang mamu menata dan merapikan barang secara benar. Dalam taraf yang akut, penderita gangguan hoarding disorder akan mengalami gangguan fokus, mudah terdistraksi dan sulit mengingat sesuatu dalam jangka waktu yang lama.

Pengobatan Gangguan Hoarding Disorder

Pengobatan dan penyembuhan bagi orang dengan gangguan hoarding disorder membutuhkan penanganan yang sungguh-sungguh. Selain itu, bentuk pengobatan yang dilakukan hendaknya juga sesuai dengan kaidah kesehatan dan psikologis.

Menurut Carol A. Mathews, MD, Psikiater dari University of Florida Cognitive Behavior Therapy (CBT) merupakan salah satu bentuk terapi yang disarankan bagi para pengidap hoarding disorder. Masih menurut Carol, terapi dengan menggunakan metode CBT yang dilakukan secara individual, terbukti memberikan kemajuan dan perbaikan bagi para pengidap hoarding disorder. Tak hanya itu, bentuk terapi ini juga dapat membantu banyak orang untuk mengurangi gangguan kecemasan yang dikarenakan memiliki barang-barang terlalu banyak serta terus-menerus berupaya mengumpulkannya.

Meskipun demikian, terapi CBT dalam beberapa kasus kurang begitu efektif, terutama bagi para lansia ataupun penderita gangguan hoarding disorder yang sudah memasuki usia tua. Oleh karena itu, disarankan pada psikolog dan psikiater untuk menggabungkan terapi CBT ini, dengan bentuk terapi lainnya seperti group counseling dan social terapi agar dapat mengurangi gangguan kecemasan berlebih pada lansia yang sudah mulai berkurang fungsi kognitifnya.  (has)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *