Sumber: kesehatanmental.info

Jakarta – kesehatanmental.info – Belakangan ini banyak wanita dewasa mengeluhkan pasangannya yang sudah dewasa dan berumur, namun seringkali menampakan perilaku kekanak-kanakan. Tak hanya itu, tindakan ini juga seringkali dilakukan oleh pasangan yang sudah berumah tangga bertahun-tahun. Menariknya, para pria dewasa yang terjebak dalam perilaku anak kecil ini tidak menyadari mengenai gangguan psikologis yang dialaminya. Alih-alih sadar dengan apa yang dilakukannya, yang terjadi justru dia makin lupa diri dan menyalahkan orang lain atau playing victim.

Istilah manchild pada dasarnya merupakan istilah trend yang dipopulerkan oleh budaya di Amerika di era tahun 1960-an. Istilah ini mengacu pada perilaku pria dewasa yang kekanak-kanakan. Tak hanya itu, perilaku ini manchild juga konon agak mirip dengan peter pan syndrome. Lalu apa yang menyebabkan pria dewasa berperilaku seperti anak-anak? Nah berikut ini adalah sejumlah penyebab seorang pria dewasa yang sering dilabel sebagai manchild.

Pola Asuh Overprotective

Orang tua yang terlalu melindungi atau memanjakan anak seringkali tidak memberikan ruang bagi anak untuk belajar mandiri. Tindakan ini akan mempengaruhi seorang anak yang tumbuh dewasa di kemudian hari menjadi anak yang mudah tergantung pada orangtua. Bahkan dia akan tumbuh menjadi pribadi yang manja dan tidak mampu menyelesaikan masalah-masalah kecil dalam kehidupannya. Parahnya, para orangtua tidak menyadarinya dan cenderung abai dengan tindakannya serta justru baru dirasakan saat dia dewasa nantinya. Pada dasarnya, Anak yang tumbuh tanpa pengalaman menghadapi kegagalan, tanggung jawab, atau konsekuensi nyata, berakibat pada pola ketergantungan terhadap orang lain yang besar.

Kurangnya Batasan dan Disiplin

Anak yang dibesarkan tanpa aturan yang konsisten sangat mungkin tumbuh dengan sulit membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Hal ini disebabkan, mereka menjadi terbiasa selalu mendapatkan apa yang diinginkan tanpa usaha atau tanggung jawab. Tentu saja kondisi ini akan merusak karakter mereka hingga tumbuh menjadi manusia dewasa yang kurang mandiri. Selain itu, mereka juga akan menjadi manusia dengan mentalitas yang rapuh serta kurang mampu menghormati batasan orang lain maupun lingkungannya.

Trauma atau Kekurangan Figur Ayah dan Ibu

Absennya figur orang tua, atau memiliki orang tua yang emosional tidak stabil, bisa membuat anak tidak memiliki role model tentang bagaimana menjadi dewasa secara emosional. Hal ini akan memberikan dampak yang signifikan pada pembentukan kepribadian anak yang kurang lengkap. Kurangnya, figure ayah sebagai panutan dan figure ibu yang menjadi penyeimbang dalam pola parenting anak, justru akan berdampk buruk pada kemampuan anak dalam menemukenali masalahnya. Akibatnya, saat tumbuh dewasa dia menjadi individu yang kekanak-kanakan.

Lingkungan yang Terlalu Menoleransi

Lingkungan sosial atau pasangan yang terus-menerus menoleransi perilaku kekanak-kanakan juga bisa memperpanjang pola ini hingga dewasa. Percaya atau tidak, pola asuh orangtua yang cenderung permisif dan menormalisasi semua sikap kekanak-kanakan pada anak, justru akan menghancurkan sang anak di kemudian hari. Lebih dari itu, anak-anak yang terlalu dimanjakan dan mengizinkan mereka untuk selalu bertindak tidak mandiri, akan menjadikan mereka tumbuh jadi pribadi yang kurang mandiri, egois dan rapuh ketika dewasa nantinya.

Pengaruh Budaya atau Media

Media populer kadang-kadang memuliakan perilaku kekanak-kanakan pada pria, seperti karakter “manchild” dalam film atau serial TV, sehingga dianggap sesuatu yang normal atau bahkan lucu. Padahal tindakan ini justru menjadikan pria tumbuh menjadi pribadi yang kurang mandiri dan dewasa. Tak hanya itu, dia juga akan menjadi manusia yang kurang independent saat dewasa kelak. Akibatnya, dia akan lebih sering berperilaku kekanak-kanakan dan sudah barang tentu akan berdampak buruk bagi kehidupannya sebagai pria dewasa. Dan hal terburuknya adalah dia tidak akan memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah sehingga senantiasa jadi orang yang lemah serta kurang bertanggung jawab. (*)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *