Jakarta – kesehatanmental.info – Akhir-akhir ini istilah digital wellbeing menjadi makin marak di kalangan muda, terutama pada generasi Milenial, generasi Z dan generasi Alpha. Tak sekadar jargon, digital wellbeing sejatinya merupakan bagian penting yang dapat berpengaruh signifikan pada kehidupan seseorang dalam konteks perannya sebagai individu mauapun anggota masyarakat. Menariknya, banyak kalangan bahkan para orangtua dan generasi muda belum memahami mengenai digital wellbeing dan manfaatnya bagi kesehatan secara fisik maupun psikologis.
Penelitian kolaboratif antara Oxford Internet Institute dan Tilburg University menganalisis data dari 2,4 juta orang di 168 negara, menyatakan bahwa penggunaan internet dan digital wellbeing yang terkontrol dengan baik, telah berdampak positif bagi kesehatan fisik, sosial dan mental. Bahkan tercatat kurang lebih 84,9 % para pengguna internet, media sosial, dan aplikasi lainnya merasa dengan menerapkan kontrol yang tepat dalam menggunakan internet merasakan kesehatan dan kesejahteraan psikologis yang lebih baik.
Lalu apa sebenarnya digital wellbeing? Digital well-being (kesejahteraan digital) adalah kondisi di mana seseorang dapat menggunakan teknologi digital—seperti smartphone, media sosial, aplikasi, dan internet—dengan cara yang seimbang, sehat, dan tidak merugikan kesehatan mental, fisik, maupun sosialnya. Artinya, makin tepat dalam menggunakan media digital maka akan berdampak lebih positif bagi kehidupan seseorang. Nah berikut ini adalah sejumlah manfaaat penerapan digital wellbeing:
Meningkatkan Kesehatan Mental
Keseimbangan dalam menerapkan penggunaan teknologi digital dalam kehidupan keseharian, sangat besar pengaruhnya pada kesehatan mental. Distraksi yang berlebihan karena teknologi digital seperti TV, Media Sosial dan gawai pintar merupakan memberikan stimulus pada syaraf otak dan sehingga otak mudah lelah. Tak hanya itu, sejumlah organ tubuh lainnya seperti mata, dan pendengaran juga terasa mudah mengalami kelelahan. Situasi ini tentu saja berdampak buruk bagi kesehatan mental seseorang. Akibatnya, mereka mudah stress dan tertekan. Jadi digital wellbeing sejatinya merupakan upaya untuk menjaga pikiran tetap fokus dan tenang karena penggunaan teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan.
Memperbaiki Kualitas Tidur
Bayangkan saja setelah beraktivitas seharian, kamu sebenarnya ingin langsung tidur dan beristirahat. Namun karena penasaran akhirnya kamu menonton TV semalaman karena takut terlewatkan series drama terbaru kesayangan. Lalu, setelah itu kamu jadi lebih susah tidur dan tentu saja karena pengaruh paparan blue screen dari TV pintarmu. Atau mungkin kamu sengaja menyalakan notifikasi dari gawai pintarmu yang justru menganggumu karena rasa penasaran dengan update berita terkini. Jadi ada baiknya menjauhkan gawai pintarmu saat hendak bersitirahat.
Meningkatkan Manajemen Waktu dan Produktivitas
Salah satu manfaat penting dari penerapan digital wellbeing adalah kita menjadi lebih produktif karena mampu mengelola waktu dengan baik. Pada dasarnya, makin baik kita mengelola waktu, maka akan semakin meningkat pula hasil dan pencapaian yang kita harapkan. Menariknya, kita memang ingin mendapatkan hasil yang maksimal, namun tak jarang dengan distraksi dari internet dan media sosial, terkadang kita lebih sering melakukan prokrastinasi. Padahal, tindakan menunda pekerjaan atau prokrastinasi ini justu hanya akan menurunkan produktivitas, dan tentu saja mengurangi kemampuan dalam menetapkan prioritas dalam pekerjaan maupun keseharian.
Memperkuat Hubungan Sosial di Dunia Nyata
Melakukan digital wellbeing dalam keseharian justru makin mendorong setiap orang melakukan interaksi secara langsung. Selain itu, penerapan digital wellbeing juga dapat membuat manusia dalam konteks individu mampu menciptakan batasan diri, terutama dalam bermedia sosial. Banyangkan saja misalnya kamu seharian scroll tiktok, Instagram dan youtoube dan tiba-tiba waktu sudah tiga jam. Betapa sayangnya waktu tersebut, padahal dapat digunakan untuk melakukan aktivitas lain seperti berinteraksi dengan teman, bicara membangun koneksi, berolahraga atau bahkan sekadar melakukan aktivitas outdoor lainnya.
Mencegah Kecanduan Teknologi
Membatasi screen time merupakan salah satu upaya digital wellbeing yang sangat erat kaitannya dengan kontrol diri. Apalagi di tengah menjamurnya sejumlah informasi yang belakangan ini sulit dibendung yang ternyata belum tentu valid dan bisa jadi sumber informasi yang tidak akuat. Ibarat dopamine, kamu terus-menerus di depan screen hanya untuk mencari informasi receh yang konon bisa menyebabkan kamu mengalami brain rot. Parahnya, jika kamu terus melakukan hal tersebut bisa jadi kamu berpotensi mengalami kecanduan teknologi dan gawai. Tentu saja kamu tidak ingin hal ini terjadi bukan bukan? Jadi yuk kita upayakan untuk menerapkan digital wellbeing. (*)
