Bagi para profesional yang sudah biasa bekerja bertahun-tahun bekerja di kantor berbeda pada posisi yang lebih tinggi adalah suatu tantangan tersendiri. Namun tak sedikit juga yang terkesan menyepelekan kantor barunya, lantaran sudah merasa berpengalaman dan merasa cukup dengan ilmunya. Tindakan ini tentu saja sangatlah buruk karena akan merusak karir dan hubungan kerja di kantor baru di kemudian hari.
Kondisi ketidakpastian saat ini sedikit banyak telah berdampak pada persaiangan karir dan pekerjaan di berbagai industri. Dampak pandemi Covid-19 setidaknya telah memorak-porandakan sejumlah industri di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Tak hanya perusahaan kelas dunia, perusahaan pemerintah bahkan swasta kita tengah mengupayakan untuk bisa bertahan menjalankan roda bisnisnya, agar tak semakin terpuruk. Bisnis yang stagnan, supply chain yang tertanggu, biaya over head yang tinggi dan pelanggan yang kian terprosok, hanyalah sebagian alasan bagi perusahaan untuk mengurangi pegawainya. Paling tidak melalui cara ini, dapat menekan biaya dan pengeluaran perusahaan, sehingga bisnis dan kelangsungan perusahaan tetap terjaga.
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah pengangguran pada Februari 2021 sebanyak 8,75 juta orang atau mengalami kenaikan sebesar 26,26 persen pada bulan yang sama jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kondisi ini merefleksikan bahwa perusahaan harus tetap melakukan strategi tepat, dan memilih para pegawai terbaik untuk mendukung keberlanjutan bisnisnya. Karena itu, jangan heran jika proses rekrutmen sangatlah ketat dan cukup sulit untuk saat ini. Lebih dari itu, saat sudah diterima bekerja di kantor baru pun juga harus mampu menyesuaikan diri dengan baik.
Adaptasi di kantor baru sebenarnya bisa dikatakan tidaklah mudah. Terlebih jika kantor tesebut memiliki skala bisnis yang lebih luas, atau misalnya Anda memegang posisi penting dan strategis seperti Direktur, Vice President, Manager, Specialist Expert dan posisi lainnya. Belum lagi jika harus berpindah ke industri yang sama meskipun masih pada jalur karir atau stream career yang sama. Misalnya dari Manager Keuangan Bank kemudian berpindah jadi Senior Manager perusahaan telekomunikasi. Tentu saja butuh proses adaptasi yang tidak mudah, karena orang-orang di perusahaan memiliki latar belakang pekerjaan yang berbeda jauh dengan Anda sebelumnya.
Lalu bagaimana cara adaptasi di kantor baru? Menurut riset yang dilakukan di Harvard University kegagalan orang -orang dalam menjalani karirnya, mayoritas tidak disebabkan oleh ketidakmampuan kompetensi teknis dalam menjalankan pekerjaannya, namun disebabkan oleh ketidakmampuan mengelola emosi, menempatkan diri pada situasi yang sulit, mengelola ketidakpastian dan menerima kritik atau pun saran dari rekan kerja. Dalam konteks pengembangan karir, orang-orang ini akan cenderung self center dan merasa bisa dengan pengalamannya. Padahal, bisnis dan pekerjaan adalah sesuatu yang dinamis. Karena itu, dibutuhkan orang-orang yang fleksibel dan mampu beradaptasi. Bahkan pada kondisi sulit sekali pun.
Berhenti Membanggakan Diri Dengan Merendahkan Diri
Budaya timur seperti Indonesia memang sangatlah menjunjung tinggi nilai-nilai yang baik seperti rendah hati, namun bukan berarti Anda harus merendahkan diri Anda, namun justru untuk memperoleh simpati teman kerja. Kalimat seperti “Saya sih merasa biasa saja tapi kok saya yang dipilih jadi pimpinan proyek ya!” Kalimat ini sebenarnya sangat tendesius dan mengharapkan orang lain kagum pada Anda. Alih-alih mendapatkan pujian dari rekan kerja atau atasan, yang terjadi justru Anda dibilang berlebihan karena menggunakan cara humble bragging untuk menyombongkan diri.
Cara tepat untuk beradaptasi di kantor baru agar terkesan natural adalah melakukan komunikasi yang efektif dengan team, baik atasan, bawahan serta tim berbeda divisi kerja. Tiga bulan pertama adalah waktu yang tepat untuk mempelajari tugas pokok fungsi, atau diskripsi pekerjaan Anda, semua proses bisnis di unit kerja Anda, termasuk juga mengenali seluruh karakter atasan dan team kerja. Tak hanya itu, berusaha menerima masukan dan pendapat orang lain juga menjadi salah satu cara agar bisa tetap diterima oleh lingkungan kerja baru. Sesekali ikut makan bersama di meja makan kantor atau makan di luar bersama team juga patut dicoba untuk membangun koneksi hubungan yang lebih erat.
Hal utama yang tidak kalah penting adalah mengenali budaya perusahaan baru. Perusahaan manufacturing yang mengusung budaya tepat waktu dan disiplin tinggi, tentu saja berbeda dengan perusahaan start up digital yang mengedepankan jam kerja fleksibel namun inovatif. Mengenali budaya perusahaan melalui core valuenya, juga dapat dilakukan dengan melihat dan mengamati para petinggi bekerja maupun berinteraksi dengan para pegawai. Kemudian yang tak kalah penting adalah berhenti membanggakan diri Anda berlebihan di masa lalu, sebab hidup dan karir Anda saat ini ada di kantor baru anda bekerja. (has/ayu)
