Pernahkah Anda merasa bahwa apa pun yang telah Anda lakukan rasanya kurang tepat dan tidak memuaskan, tidak dihargai oleh atasan bahkan team kerja Anda? Jika hal ini sering terjadi berulang-ulang dalam jangka waktu yang relatif panjang, biasanya akan berdampak pada kinerja kita. Bisa jadi atasan Anda atau teman Anda termasuk tipe kepribadian perfeksionsis dan mengalami sindrom superior complex.

Menurut Alfred Adler, dokter, ilmuwan psikologi dan tokoh psikologi pencetus psikologi individual, munculnya superior complex, sesungguhnya dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Selain faktor yang bersifat fisik, ternyata faktor non fisik seperti lingkungan justru berpengaruh erat pada sindrom ini. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Alfred, banyak orang berjuang sampai mati-matian untuk mendapatkan perhatian dan pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Lingkungan ini tak hanya sebatas keluarga saja, namun juga termasuk kerabat dekat, sekolah bahkan juga lingkungan pekerjaan, sebagai konstruksi sosial.

Menariknya, masih menurut Alfred, orang-orang yang terjangkiti oleh sindrom superior complex ini pada mulanya adalah orang-orang yang sering diabaikan, dianggap kurang penting dan merasa inferior pada fase perkembangan mental dan kepribadian sebelumnya. Dalam ranah psikologi kepribadian, superior complex sesungguhnya merupakan akumulasi proses panjang pembentukan kepribadian individu sejak kecil hingga dewasa. Berbagai indikator atau gejala orang-orang yang mengalami sindrom superior complex diantaranya adalah sikap sombong, over confidence atau rasa percaya diri berlebihan, merasa sempurna dan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain serta tak jarang sangat self centered. Maka jangan heran jika penderita gangguan superior complex ini akan berlagak kaya, pintar, memesona dan hebat untuk menutupi kekurangannya.

Lalu bagaimana jika ada orang seperti ini di lingkungan kerja Anda? Jika Anda mendapati seseorang dengan gangguan superior complex ini ada baiknya lebih berhati-hati. Entah atasan, rekan kerja ataupun saodara Anda sekalipun. Sebab jika salah bersikap, maka orang dengan gangguan superior complex ini akan bicara kasar, merendahkan, berlebihan, agresif dan defensif dengan apa pun yang Anda katakan. Tentu saja perilaku tersebut akan melukai hati dan perasaan Anda. Karenanya, bersikap proporsional, rendah hati, mawas diri dan berpikiran terbuka adalah pilihan tepat untuk merespon penderita superior complex ini. Untuk mencegah semakin berkembangnya kepribadian superior complex ini, ada baiknya dilakukan konseling dan diberikan penanganan lebih lanjut oleh psikolog, psikiater dan terapis pada yang penderita gangguan superior complex ini. (hs)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *