Jakarta – Kesehatanmental.info – Masa remaja merupakan fase tumbuh tumbuh kembang dan peralihan bagi seseorang yang akan beranjak dewasa. Pada fase ini, seseorang cenderung memiliki emosi dan perilaku yang belum stabil. Tak hanya itu, mereka juga akan lebih mudah melakukan imitasi atau meniru hal-hal yang menurut mereka baik. Padahal, tidak semua yang mereka lihat dan saksikan di dunia nyata dan media sosial benar adanya.
Sayangnya, tak banyak para orangtua yang memperhatikan adanya fenomena perubahan emosional pada anak remaja mereka. Belum lagi faktor distraksi dari media sosial yang kadang justru lepas dari kontrol para orangtua. Bermain sosial media berjam-jam, mengunci diri di kamar dan enggan melakukan aktivitas adalah sebagian kecil dampak negatif karena para remaja telalu sering bermain media sosial dengan gawai mereka.
Padahal, tindakan ini tanpa mereka sadari telah mencuri masa-masa emas mereka sebagai anak muda. Melakukan ekslporasi hal-hal baru di luar, berinteraksi dengan banyak teman dan melakukan kegiatan sosial justru lebih banyak mendatangkan manfaat bagi mereka, ketimbang didera rasa cemas karena sibuk membandingkan diri dengan orang lain melalui media sosial. Nah berikut ini adalah dampak negatif dari media sosial ketika para remaja mulai cemas karena terlalu banyak terpapar media sosial:
Asupan Dopamin Instan
Bagi para remaja, menyaksikan sejumlah hal yang tergambar indah di media sosial menjadikan mereka seolah makin terjebak dalam dunia yang makin absurd. Terlebih mereka juga makin sering membandingkan diri mereka secara berlebihan dengan kehidupan orang lain di media sosial. Padahal tidak semua yang tergambar di media sosial adalah kehidupan mereka yang sebenarnya.
Dalam banyak kasus, justru semua orang ingin terlihat baik dan menonjol pada semua aspek kehidupan. Sementara itu, semua hal ini justru lebih bersifat artificial atau polesan semata. Jonathan Haidt, psikolog sosial asal Amerika Serikat yang juga seorang profesor di New York University menyatakan bahwa saat ini dunia sedang diambang krisis mental khususnya anak muda. Alumni dari University of Pennsylvania ini bahkan menyatakan bahwa social media justu menjadi penyebab anak muda khususnya para remaja makin didera rasa cemas, membandingkan diri dengan yang lainnya, dan akibatnya mereka menjadi mudah terkena depresi ataupun insomnia, sehingga ada istilah “anxious generation”.
Risiko Cyber Bullying dan Trauma
Terlalu sering menggunakan media sosial dan terpapar berlebihan pada konten-konten media sosial justru mengakibatkan para remaja dan anak mudah lebih rentan secara psikis. Pasalnya, melalui konten di media sosial, banyak remaja atau anak muda justru mengalami cyber bullying atau perundungan melalui media sosial. Faktanya, banyak dari mereka yang makin aktif di media sosial, makin sering mendapatkan komentar buruk dan negatif dari orang tak dikenal. Alih-alih berhenti menggunakan media sosial, yang terjadi mereka justru makin menyerang balik pada para haters atau pembenci yang memberikan komentar negatif. Dan karena itulah banyak anak muda dan remaja mengalami trauma akibat cyber bullying yang tak berkesudahan.
Rendahnya Regulasi Emosi
Kemampuan mengelola emosi yang masih belum stabil, menyebabkan para remaja ini rentan melakukan hal-hal yang bersifat agresif. Tidak hanya yang bersifat verbal, bahkan dalam kasus yang ekstrem banyak remaja yang melakukan tindakan kekerasan kepada sesama teman sebayanya karena masalah sepele. Kita masih sering melihat video di sosial media, para remaja saling baku hantam lalu direkam dan justru berujung maut. Menyedihkan bukan? Perbedaan pendapat, perbedaan persepsi, bahkan hanya karena salah berucap pun bisa berujung pada pertengkaran yang bisa bermuara pada terjadinya tindak kekerasan fisik.
Beberapa penelitian menemukan bahwa emosi remaja lebih bervariasi dan tidak stabil, dan media sosial dapat memperbesar fluktuasi emosi karena tekanan sosial dan umpan balik instan dari lingkungan digital. Di sejumlah negara maju bahkan sudah mulai dibatasi bahwa pengguna media sosial minimal berumur 16 tahun. Negara seperti Australia konon sudah mulai menerapkan standar ini, lalu disusul negara tetangga seperti Malaysia. Jadi bagi para orangtua hendaknya mulai waspada dengan penggunaan media sosial anak-anak remaja, jika ingin anak-anak tetap tumbuh dengan baik sesuai dengan tugas perkembangannya. (*)