Masa muda merupakan fase seseorang membangun masa depan dan mengembangkan diri. Di fase usia 20-an seseorang biasanya memiliki keinginan dan cita-cita yang hendak dicapai. Namun, sayangnya banyak anak muda lupa menyusun rencana masa depan dan dituangkan ke dalam action atau tindakan yang akan memberikan hasil lebih optimal di kehidupan masa kini atau pun di masa yang akan datang.
Usia 20-an memang bagi sebagian besar orang merupakan usia mencari jati diri, dan butuh pengakuan dari orang-orang sekitar. Menariknya, usia 20-an justru merupakan tonggak penting bagi setiap orang, agar dapat terus menapaki kehidupan yang menjanjikan dan membahagiakan saat ini, maupun di masa yang akan datang. Menurut Arthur C. Evans Jr., PhD deputy commissioner of the Connecticut Department of Mental Health & Addiction di Amerika Serikat, anak muda zaman sekarang memiliki stressor atau faktor pemicu stress jauh lebih banyak. Tentu saja berkaitan dengan masa depan dan bagaimana mereka menjalani kehidupannya.
Nah berikut ini adalah lima hal penting yang akan disesali di usia 20-an jika tidak dilakukan:
1. Tidak Merencanakan Masa Depan
Sama seperti peta jalan yang akan dilalui, para remaja yang sedang menempuh pendidikan tinggi, sesungguhnya sangat perlu untuk merencanakan masa depan. Membuat peta jalan menuju masa depan merupakan hal penting yang akan menjadikan hidup memiliki tujuan dan sasaran pasti yang hendak dicapai. Tentu saja tujuan tersebut, akan diterjemahkan ke dalam beberapa indikator yang dapat diukur, baru kemudian dapat diikuti dengan berbagai tindakan yang bisa dilakukan demi mengejar tujuan tersebut. Tujuan tersebut bisa bersifat jangka pendek, juga dapat bersifat jangka panjang.
2. Membuang Waktu Percuma
Usia 20-an merupakan fase hidup yang krusial dan menantang. Selain perubahan spektrum berpikir yang cukup radikal karena telah menempuh pendidikan tinggi, di usia ini kerap kali seseorang menjadi lebih impulsive dan emosional. Oleh karena itu, disarankan untuk berkonsultasi dengan para ahli jika mengalami masalah-masalah yang berkaitan dengan pendidikan, pekerjaan, masa depan, keluarga dan pertemanan agar tetap fokus pada perbaikan kualitas diri. Bayangkan saja jika Anda berjam-jam scroll media sosial, dan rebahan di tempat tidur, akhirnya justru yang terjadi banyak tugas dan pekerjaan yang terbengkalai. Mulai dari tugas kuliah, enggan bersosialisasi dan kurang pengalaman berorganisasi. Ujungnya malah makin cemas dan stress.
3. Melewatkan Kesempatan Berharga
Banyak anak muda di usia 20-an justru asik bermain dan melakukan hal-hal sesuka hati tanpa tujuan yang jelas. Beberapa aktivitas seperti bermain dan jalan-jalan dengan kedok healing, nongkrong di tempat ngopi sambil bicara tanpa tujuan, dan enggan berorganisasi hanya di rumah saja dengan alasan mager alias males bergerak hanyalah sebagaian kecil dari kesalahan yang dibuat baik secara sengaja atau pun tidak. Ingatlah bahwa waktu tidak dapat diputar mundur.
4. Gagal Beradaptasi
Dalam konteks perubahan zaman, anak-anak muda yang berusia 20-an memang belum memiliki kematangan emosional cukup memadai. Namun, bukan berarti hal tersebut menjadi pembenaran bagi mereka untuk gagal beradaptasi terhadap perubahan zaman. Kegagalan dalam beradaptasi terhadap perubahan zaman, telah menjadikan mereka tidak relevan dengan zaman sehingga berdampak pada kegalalan mereka dalam pekerjaan, karir, kehidupan sosial dan profesionalitas mereka. Akibatnya, anak-anak di usia di usia 20-an tahun yang tidak mampu beradaptasi ini makin tersisihkan oleh kemajuan zaman, teknologi dan perubahan sosial yang kian tak terbendung.
5. Tidak Pernah Upgrade Skill dan Kemampuan
Ketrampilan dan kemampuan adalah skill set yang tidak bisa ditawar jika generasi muda ingin tetap diterima di pasar tenaga kerja di era teknologi dan digitalisasi ini. Oleh sebab itu, anak muda yang kini berusia 20-an hendaknya terus mengasah diri, ketrampilan dan kemampuan serta membangun jejaring agar tetap dapat diterima di dunia kerja yang semakin kompetitif. Banyak anak muda yang akhirnya menganggur bertahun-tahun karena skill yang dimiliki tidak relevan dengan kebutuhan perusahaan atau pun industri. (hasis/alex)
