Parafilia merupakan bentuk gangguan psikologis dan medis pada seseorang yang ditandai dengan aktivitas seksual menyimpang dan berlangsung secara terus-menerus dalam jangka waktu yang cukup lama. Dalam beberapa kasus, penderita gangguan psikis ini akan melakukan tindakan menyimpang secara seksual dan bisa dialami sejak usia dini, yaitu pada saat menjelang usia 13 tahun.
Jika ditinjau lebih jauh, sampai saat ini penyebab terjadinya gangguan psikologis parafilia masih terdapat perdebatan pro dan kontra. Akan tetapi, beberapa ahli medis dan psikolog menyatakan, bahwa terdapat kurang lebih tiga faktor yang menjadi pencetus bagi seseorang sehingga menyebabkan terjadinya kelainan psikologis dan medis berupa parafilia. Adapun ketiga penyebab tersebut adalah gangguan penempatan diri, trauma yang diakibatkan oleh kekerasan seksual waktu masih kecil, dan pola asuh orangtua yang terlalu mengendalikan dan mengekang anak, khususnya berkaitan dengan perilaku seksual.
Gangguan terhadap penempatan diri berupa interaksi sosial sejak kecil berdampak pada kemampuan anak dalam mengendalikan emosinya. Kondisi ini merupakan salah satu pencetus terjadinya parafilia karena anak-anak tidak mampu mengekspresikan perasaan dan emosinya kepada orang lain. Oleh sebab itu, jangan heran jika anak-anak, remaja atau orang dewasa yang mengalami gangguan parafilia sulit berinteraksi dengan orang lain.
Faktor penyebab lain yang dapat menjadi pemicu gangguan psikis parafila pada anak, remaja dan dewasa adalah terjadinya kekerasan dan pelecehan seksual yang menimbulkan pengalaman traumatis. Bentuk kekerasan dan pelecehan seksual pada anak ini, akan berdampak pada kondisi psikisnya, sehingga tanpa disadari alam bawah sadarnya, kemudian merespon terhadap perilaku tersebut lalu terbawa hingga dewasa. Bahkan tak jarang, korban pelecehan seksual berpotensi melakukan hal yang sama kepada orang lain, karena dia merasakan sensasi yang berbeda dan kenikmatan ketika melakukannya.
Penyebab lain yang tidak kalah penting dan menjadi pemicu gangguan parafilia pada seseorang adalah faktor pola asuh orangtua yang tidak tepat. Menurut American Association Psychology, pola asuh orangtua yang cenderung keras, dan mengekang atau bahkan terlalu membebaskan anak-anak dalam hal aktivitas seksual pada saat tumbuh kembangnya, menjadikan mereka lebih permisif dan kurang memahami bahaya melakukan seksual yang menyimpang. Akibatnya, kondisi ini terbawa hingga mereka dewasa.
Berbagai Jenis Gangguan Parafilia
Menurut pedoman diagnostic and statistical manual of mental disorders (DSM-5), paraphilia dibedakan menjadi beberapa jenis. Adapun jenis gangguan parafilia tersebut adalah misalnya adalah pedofilia, eksibionisme, fetishisme, masokis, voyeurism dan jenis lainnya.
Hingga kini kasus yang paling sering terjadi dan kita jumpai di masyarakat kita adalah pedofilia, eksibisionisme dan fetishisme. Pada penderita gangguan pedofilia, biasanya mereka akan mengalami kepuasan seksual ketika melakukan hubungan seksual dengan anak-anak di bawah usia 13 tahun. Biasanya penderita pedofilia akan lebih tertarik secara seksual dengan anak-anak.
Berbeda dengan pedofilia, penderita gangguan eksibisionisme akan mempertontonkan organ vital mereka kepada orang secara tiba-tiba. Jika respon yang didapatkan dari orang yang telah dipertontonkan terkejut atau bahkan histeris maka penderita gangguan eksibisionisme ini akan merasa puas dan lega secara psikis dan seksual.
Sementara itu, para penderita gangguan fetishisme biasanya lebih bergairah pada benda mati yang di dalamnya mengandung unsur seksual. Beberapa contoh misalnya celana dalam, kaos dalam, dan underwear serta lainnya. Tak jarang mereka melampiaskan hasrat seksual mereka dengan menggunakan benda-benda ini untuk melakukan aktivitas seksual.
Para medis dan psikolog klinis menyatakan hingga saat ini belum terdapat obat yang pasti dapat menyembuhkan gangguan psikis dan medis ini. Namun pemberian obat penekan hormone testosteron, yaitu luteinising hormone-releasing hormone (LHRH) agonists (triptorelin dan goserelin) terbukti cukup mampu mengurangi gangguan jenis ini. Selain itu, terapi secara psikologis dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan cognitive behaviour therapy sehingga dapat membantu menurunkan Hasrat penderita gangguan seksualnya. (has/ayu)
