Memiliki buah hati adalah salah satu hal terbaik yang dirasakan oleh para orangtua. Namun dibalik itu semua, menjadi orangtua bukanlah perkara mudah . Apalagi dengan banyaknya distraksi dari gadget, game, TV dan sejumlah media belakangan ini. Karenanya, jangan heran jika para orangtu telah banyak melakukan kesalahan dalam mengasuh dan membesarkan anak-anaknya, tanpa disadari.

Menariknya, para orangtua tak jarang tanpa sadar melakukan sejumlah kesalahan yang dapat berakibat fatal pada proses perkembangan anak-anaknya. Beberapa kesalahan ini sedikit banyak berdampak pada tumbuh kembang mereka hingga dewasa. Nah berikut ini adalah sejumlah kesalahan yang dilakukan oleh para orantua, dalam proses mengasuh dan membersarkan anak-anaknya:

1. Bertengkar Di Depan Anak

Bertengkar di depan anak bukanlah tindakan yang bijaksana. Para orangtua yang bertengkar di depan anak-anaknya, justru akan memberikan contoh yang tidak baik bagi anaknya. Bahkan pada beberapa kasus, pertengkaran di depan anak akan berdampak pada perkembangan mental anak dan menimbulkan trauma psikis. Selain menjadi anak yang agresif, mereka juga akan lebih mengedepankan jalan kekerasan dalam menyelesaikan permasalahan. Baik kekerasan verbal, maupun kekerasan fisik.

2. Kurang Pengawasan

Di tengah arus informasi yang tidak terbendung saat ini, pengawasan orangtua menjadi kunci utama yang tidak boleh dilupakan. Meskipun didera kesibukan pekerjaan atau mengurus rumah tangga, para orangtua tetap harus mengawasi dan waspada dengan perilaku dan pergaulan anak-anaknya. Menurut Profesor Robert dari Indiana University, orangtua yang gagal melakukan pengawasan pada anak-anaknya, biasanya akan berdampak pada sejumlah kesalahan pada hidup sang buah hati. Beberapa kesalahan tersebut diantaranya adalah anak yang salah memilih teman bergaul, menjadi abai dengan tugas dan tanggung jawabnya, lalai dalam pendidikan, dan tak jarang karena salah pergaulan anak-anak yang sedang memasuki masa pubertas menggunakan obat-obat terlarang psikotropika, merokok dan bahkan minum minuman beralkohol. Nah bentuk pengawasan yang dapat dilakukan oleh orangtua dapat dilakukan secara langsung dalam kesehariannya, dan pengawasan tidak langsung melalui akun media sosialnya.

3. Tidak Mendengarkan Pendapat Anak

Pada beberapa kasus dan penerapan parenting yang gagal, disebabkan oleh sikap orangtua yang terlalu otoriter. Sikap otoriter yang berlebihan ini sedikit banyak telah mengakibatkan anak-anak enggan berdiskusi dengan orangtuanya, mengenai kehidupan pribadi dan masa depannya. Pada beberapa anak yang tidak suka dengan sikap otoriter orangtuanya, mereka justru akan semakin menutup diri sehingga orangtua tidak dapat memahami anaknya lebih mendalam. Tentu saja kondisi ini akan membangun dinding pemisah yang makin kuat antara anak dan orangtua.

4. Terlalu Memanjakan Anak

Pada beberapa orangtua dengan kelompok ekonomi menengah atas terkadang ditemukan fakta bahwa mereka terlalu melindungi anaknya. Selain itu, mereka juga memanjakan sang anak, dengan menuruti semua kemaunnya. Tindakan ini bukanlah merupakan konsep parenting atau pola asuh yang tepat karena justru akan menjadikan anak memiliki ketergantungan yang tinggi pada orangtua, serta cenderung tidak mandiri.

5. Terlalu Menuntut Kesempurnaan

Memiliki anak yang pintar di sekolah dan berprestasi adalah suatu hal yang membanggakan. Namun, jika para orangtua terlalu mengharapkan anaknya harus selalu peringkat atas di kelas, menuntut semua sempurna dan baik adalah tindakan yang kurang bijaksana. Pola asuh seperti ini merupakan cara yang salah karena dapat menyebabkan anak mudah mengalami stres, tekanan mental, dan dapat berujung pada depresi karena semua harus sempurna.

6. Selalu Menyalahkan Kegagalan Anak

Dalam proses tumbuh kembangnya, anak-anak akan merasakan beberapa fase dalam hidupnya. Fase tersebut salah satunya adalah mengalami kegagalan dalam pendidikan, pergaulan, atau bahkan dalam hal lain yang berkaitan dengan kehidupan pribadinya. Alih-alih memberikan dukungan pada anak terkait kegagalannya, yang terjadi justru para orangtua menyalahkan atas kegagalan anaknya. Bagaimana pun tindakan ini bukanlah langkah tepat bagi anak-anak, karena akan menyebabkan anak makin merasa bersalah terhadap kegagalannya. Padahal, melalui kegagalan anak-anak akan dapat tumbuh secara mental dan emosional, sehingga mereka dapat menerima kegagalan sebagai suatu pembelajaran pada hidup mereka.

7. Tidak Hadir Dalam Moment Penting

Kesibukan dan aktivitas yang padat, tak jarang membuat para orangtua melupakan betapa pentingnya mendengarkan semua keluh-kesah sang anak. Perlu disadari bersama bahwa hadir dalam sejumlah moment penting pada anak-anak justru akan lebih bermakna dan selalu dikenang olehnya, jika dibandingkan ada secara fisik, namun tidak terjadi komunikasi atau pun interaksi secara mendalam. Jadi pastikan bahwa orangtua hadir pada saat moment penting anak seperti saat anak sedang sedih karena bertengkar dengan temannya, anak sedang dimarahi gurunya, anak sedang sedang bahagia karena tampil dalam acara sekolah dan sejumlah moment penting lainnya.

8. Terlalu Lama Bermain Handphone

Kebutuhan akan telpon pintar atau gadget memang sudah tidak terelakan lagi saat ini. Di tengah kondisi yang serba canggih, telpon pintar bisa jadi merupakan alat penting yang dapat mendukung banyak aktivitas sang buah hati. Aktivitas ini mulai dari proses belajar secara daring, memesan makanan, bermain game, menggunakan media sosial dan masih banyak lagi. Suatu studi ilmiah dari Indiana University dilansir dari American Psychology Association menyataan bahwa anak-anak yang terlalu sering bermain dengan gadget atau telpon pintar justru akan lebih mudah mengalami gangguan interaksi. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan buruk yang terlalu lama bermain gadget, justru menjadikan ketrampilan sosial mereka rendah dan kurang memiliki empati saat berinteraksi dengan orang lain. (has)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *