Marakanya lay off atau pemutusan hubungan kerja di berbagai industri sedikit banyak telah berdampak pada peta pasar tenaga kerja. Situasi dan kondisi ini, tidak bisa dilepaskan dari makin bertambahnya peran artificial intelligence yang sudah merambah ke berbagai jenis pekerjaan. Tak tanggung-tanggung, beberapa jenis pekerjaan seperti administrasi, layanan, layanan pelanggan, call center dan sejumlah pekerjaan lainnya telah mendisrupsi berbagai pekerjaan. Lalu dampaknya adalah banyak pekerjaan yang sudah digantikan oleh artificial intelligence.
Para profesional bidang industri dan tech company atau perusahaan teknologi sekarang tengah berlomba mengembangan artificial intelligence. Namun demikian berikut ini adalah sejumlah pekerjaan yang tidak dapat digantikan oleh artificial intelligence:
1. Dokter
Siapa yang tidak kenal dengan profesi kesehatan yang cukup akrab di masyarakat ini. Pekerjaan menjadi seorang dokter, merupakan pekerjaan mulia dan justru kehadiran artificial intelligence, makin membantunya untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Meskipun canggih artificial intelligence, tetap tidak bisa menggantikan peran manusia seperti melakukan konsultasi medis, observasi dan memahami emosi kondisi pasien. Di sisi lain proses operasi dan pembedahan pada pasien juga tidak bisa dilakukan oleh artificial intelligence dan tetap saja membutuhkan campur tangan serta peran para dokter profesional.
2. Hakim dan Pengacara
Hakim dan Pengacara merupakan profesi yang cukup tua, karena memang sudah ada sejak dahulu kala. Tatanan kehidupan dan aturan serta hukum pada dasarnya tidak bisa digantikan oleh mesin dan justru peran artificial intelligence sangatlah membantu profesi hakim dan pengacara. Faktanya, artificial intelligence justru membantu para hakim dan pengacara untuk mengumpulkan data dan fakta. Namun proses peradilan, penetapan putusan dan pembelaan terhadap tersangka tetap saja tidak bisa digantikan oleh mesin atau artificial intelligence sekali pun.
3. Psikiater dan Psikolog
Baru-baru ini telah muncul di jagad maya, bahwa artificial intelligence dapat didesain dan dirancang bicara dengan manusia. Namun faktanya, meskipun mereka dibuat canggih tetap saja tidak bisa menemukenali emosi, perasaan, dan kondisi psikis dari para pasien gangguan jiwa. Oleh karenanya tetap saja profesi dan pekerjaan psikiater dan psikolog tetap tidak dapat digantikan oleh artificial intelligence. Aktivitas seperti konseling, psikoterapi dan penyembuhan melalui berbagai terapi perilaku hanya bisa dilakukan oleh manusia dan akan berhasil jika melalui hubungan dua arah yang berkelanjutan.
4. Politisi
Peran serta negara dan kemajuannya suatu negara, dipengaruhi oleh sejumlah figure dan orang-orang yang turut andil dalam memajukan peradaban. Bentuk kemajuan ini salah satunya tak lain dan tak bukan, merupakan peran dari para politisi dalam merancang dan memajukan suatu negara. Beberapa aktivias seperti diskusi, melakukan lobby dan melakukan kerja sama antar negara tetap saja tidak bisa digantikan oleh artificial intelligence. Justu kehadiran artificial intelligence sangatlah membantu politisi dalam pekerjaanya, misalnya dalam mengumpulan data, informasi, fakta dan lainnya untuk membuat kebijakan lalu direkomendasikan kepada lembaga negara.
5. Atlet
Profesi lain yang tidak mungkin digantikan oleh artificial intelligence adalah menjadi atlet profesional. Bagaimana pun pekerjaan dan profesi atlet tidak bisa digantikan oleh mesin kecerdasan, karena di dalamnya menyangkut interaksi langsung, aktivitas dan berbagai kegiatan yang dilakukan menggunakan kekuatan fisik. Aktivitas ini dapat dilakukan dalam ruangan atau indoor serta di luar ruangan atau outdoor.
6. Guru
Profesi guru merupakan salah satu pekerjaan yang tidak semua aktivitasnya, bisa digantikan oleh mesin kecerdasan buatan. Meskipun bentuk pembelajaran dapat menggunakan mesin kecerdasan buatan seperti artificial intelligence, melalui sistem daring, dan berbagai media digital akan tetapi pendidikan budi pekerti, pendidikan karakter, dan penanaman konsep diri tidak bisa dilakukan dengan artificial intelligence. Profesi guru bukanlah sekadar mengajarkan pengetahuan, namun juga memberikan bekal pondasi karakter, budi pekerti dan kematangan emosi yang hanya dapat dilakukan melalui hubungan maupun interaksi secara langsung. (has/yudha)
