Karakteristik Gen ZBanyak Orang makin kewalahan dengan sikap dan perilaku Gen Z karena mereka makin sulit dikelola di dunia kerja.

Belakangan ramai di lini masa, para eksekutif dan pejabat di perusahaan mengeluhkan perilku dan sikap Gen Z yang kurang baik. Para eksektif yang kini telah menduduki posisi penting di berbagai perusahaan mengeluh karena ulah Gen Z yang katanya kurang bertanggung jawab dengan pekerjaan, memiliki attitude yang kurang baik, dan bahkan cenderung tidak memiliki ketahanan mental ketika harus mendapatkan tekanan pekerjaan.

Menilik berbagai ciri dan kekhasan yang dimiliki Gen Z, rata-rata mereka memiliki kemampuan dalam penguasahaan teknologi yang sangat baik, terbiasa menggunakan telpon pintar, memiliki kreativitas yang tinggi dan biasanya memiliki akun media sosial lebih dari dua. Selain itu, Gen Z juga terkenal dengan kemampuannya yang cukup potensial dalam membuat ide-ide kreatif yang cukup membantu dalam pekerjaanya di kantor.

Namun, selain sejumlah kelebihan di atas, Gen Z juga memiliki sejumlah kelemahan yang pantas diketahui oleh para pejabat dan eksekutif di perusahaan. Beberapa kelemahan yang sangat menonjol dari Gen Z adalah mudahnya mereka mereka menyerah jika mengalami masalah yang sedikit berat atau berada dalam tekanan. Tak hanya itu, Gen Z juga merupakan generasi yang dibesarkan oleh para orangtua Baby Boomer dan Gen X yang menerapkan pola parenting terlalu permisif.

Pola parenting yang terlalu permisif ini justru berdampak pada kemampuan dan kedewasaan mereka, karena para orangtua selalu memberikan pujian pada hal-hal kecil yang sebenarnya adalah tugas perkembangan di usia mereka. Beberapa jargon dan sebutan “cantiknya ayah” dan pintarnya “Mama” hanyalah sekian sebutan yang disematkan untuk para gen Z dari orangtua mereka. Padahal, sejatinya kehidupan di luar dan dunia kerja sangatlah jauh berbeda serta cenderung kompetitif. Akibatnya, ketika berada dalam situasi dan kondisi yang sulit mereka menjadi mudah rapuh, mendiagnosa sendiri kena mental health issue, mencari cara menghindar dari masalah dan yang paling parah adalah lari dari tanggung jawab.

Ajak Bicara dan Buat Batasan

Bagi para orangtua yang sudah terlanjur memiliki anak yang tumbuh sebagai Gen Z dengan kepribadian kreatif, pintar, namun rapuh ada baiknya mulai mengubah pola parenting. Tentu saja pola parenting yang relevan dengan zaman akan menjadi salah satu obat mujarab, agar anak muda Gen Z ini tidak terlalu banyak terpapar oleh dunia media sosial yang cenderung menipu dan artifisial.

Menurut guru besar dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Prof. Rhenald Kasali, PhD Gen Z yang juga dikatakan sebagai generasi strawberry memiliki kemampuan dan kecerdasan yang menonjol jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Namun, sayangnya generasi ini juga kurang bisa mengatasi persoalan yang kompleks dan akan lari dari tekanan. Oleh karenanya, diperlukan upaya dari para orangtua untuk melakukan pola parenting yang demokratis dan semi otoriter.

Cara yang dipandang cukup efektif adalah dengan mengajak Gen Z berbicara, berdiskusi dan melakukan banyak eksplorasi di luar. Tak hanya itu, mengurangi paparan media sosial, bermain telpon pintar dan menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar screen justru tidaklah disarankan. Alih-alih makin dewasa secara personal, maka yang terjadi justru mereka mengalami gangguan interaksi sosial dan penempatan diri. Selain itu, memberikan sejumlah opsi dan pilihan serta dampak dan akibat dari suatu pilihan juga merupakan salah satu cara agar Gen Z tidak sembrono dalam mengambil keputusan hidupnya.

Nah…nah cara lain yang cukup membantu agar Gen Z tidak terlalu manja dan haus validasi adalah membiarkan mereka untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri. Cara ini dirasa efektif agar mereka punya kapasitas bertumbuh atau mental growth, secara alami tanpa banyak campur tangan dari orangtua yang cenderung memanjakan. (has/liem)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *