Perilaku Negatif Generasi ZMenyoal rapuhnya Generasi Z di perusahaan

Informasi mengenai employee wellbeing di banyak organisasi dan perusahaan belakangan ini semakin marak disuarakan oleh banyak orang, termasuk salah satunya adalah Generasi milenial dan Generasi Z. Dua generasi ini merupakan generasi yang kini tergolong produktif dan mengisi banyak posisi di dunia kerja.

Dilansir dari dataindonesia.id Generasi Z merupakan generasi yang yang paling menganggap pentingnya isu kesehatan mental dalam dunia kerja. Berdasarkan data survey tahun 2022 sebanyak 59,1% Generasi Z merasakan adanya gangguan psikologis atau gangguan mental yang diakibatkan oleh sejumlah faktor. Adapun faktor tersebut adalah tekanan sosial yang cukup besar, krisis identitas diri karena membandingkan pencapaian diri dengan orang lain, masifnya informasi di media sosial yang membuat Generasi Z ini makin merasa tertekan.

Menurut Thomas Kalliath, Associate Profesor Bidang Perilaku Organisasi dari Australian Nasional University, menyatakan bahwa employee wellbeing di organisasi berkaitan erat dengan tingkat kenyamanan bekerja, terjadinya bullying bagi pada para pegawai di organisasi, dan juga komitmen dari manajemen terkait dengan upaya menjaga keseimbangan antara bekerja dan kehidupan di luar pekerjaan. Oleh sebab itu, perusahaan hendaknya mengupayakan terciptanya situasi yang kondusif bagi para pekerja. Namun, pada kenyataanya situasi ini justru sangatlah ideal dalam tataran praktis.

Organisasi atau perusahaan yang kini sedang mengupayakan bangkit usai pandemic Covid-19 harus mengejar ketertinggalan mereka, agar mampu bertahan di tengah derasnya persaingan dan tuntutan zaman. Belum lagi digitalisasi telah menyebabkan disrupsi di berbagai sektor industry dan pekerjaan. Alih-alih menciptakan situasi employee wellbeing, yang terjadi justru perusahaan mengejar agar revenue mereka tetap terjaga. Oleh sebab itu, jangan heran jika banyak perusahaan agak sulit untuk menerapkan situasi employee wellbeing, kecuali perusahaan tersebut sudah dalam kondisi yang sangat stabil dan mapan.

Generasi Z dan Kompetensinya

Menariknya, stabilitas perusahaan juga didukung oleh kualitas sumber daya manusia yang mempuni dan kompeten. Bisa dibayangkan jika para pegawainya tidak kompeten dan mengalami isu ataupun masalah kesehatan mental, yang terjadi justru adalah makin buruknya keadaan perusahaan. Apalagi mayoritas pengawai saat ini adalah Generasi Milenial dan Generasi Z yang mengisi berbagai posisi menengah dan entry level, yang justru di garda depan perusahaan. Bagaimana jika Generasi tersebut justru menjadi virus dan menggerogoti perusahaan karena perilaku dan kebiasaan mereka yang tidak baik?

Banyaknya keluhan mengenai perilaku Generasi Z yang kurang resilien di dunia kerja, sesungguhnya bukanlah kesalahan perusahaan semata, karena pada dasarnya pembentukan karakter juga terjadi di rumah. Para orangtua memiliki peran penting dalam membentuk generasi ini. Pola asuh yang permisif dan cenderung kurang tepat ini justru telah berdampak pada karakter generasi yang rapuh dan patah semangat.

Tak Ideal dan Hanya Utopia

Para praktisi sumber daya manusia akhir-akhir ini juga telah berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan kondisi organisasi yang suportif. Namun pada dasarnya, tidak ada kondisi yang ideal. Dalam beberapa kasus, kepentingan pegawai seringkali berbenturan dengan kepentingan manajemen atau pemimpin perusahaan. Di satu sisi perusahaan berusaha meningkatkan revenue dan pendapatan, di sisi lain pegawai menginginkan keseimbangan.

Beberapa fakta menarik di lapangan juga dapat disaksikan dengan jelas, bahwa organisasi serikat pekerja makin bertaji dan punya kekuatan. Apalagi jika serikat pekerja tersebut mendapatkan bekingan dari aparat atau pun pejabat, bahkan politisi. Jadi jangan heran jika kondisi employee wellbeing justru kadang hanya utopia belaka, karena pada dasarnya masing-masing perusahaan memiliki cara mereka sendiri dalam mengelola orang-orangnya.

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *