Lingkungan pergaulan yang beragam di perkotaan tak jarang telah menyuburkan sikap toxic positivity. Parahnya, sikap toxic positivity ini justru dilakukan oleh orang-orang terdekat kita. Meskipun sekilas toxic positivity ini hanyalah sekadar perilaku sepele pada awalnya, namun jika dibiarkan terlalu lama hanya akan berdampak negatif pada kesehatan mental kita.
Menurut Martin Seligman, PhD, direktur Penn Positive Psychology Center dari the University of Pennsylvania mengungkapkan bahwa penerapan psikologi yang positif dalam kehidupan setiap orang sangatlah baik. Namun, jika penerapan psikologi positif justru melakukan toxic positivity lebih sering, hanya akan menciderai psikis seseorang itu sendiri.
Seperti dilansir dari Journal of Psychosomatic Research menemukan bahwa, selama periode 12 tahun, orang-orang yang secara teratur menyembunyikan dan menekan perasaan mereka berisiko lebih tinggi mengalami kematian dini. Hal ini disebabkan oleh adanya perilaku menekan emosi negatif, perasaan tidak nyaman, dan senantiasa menyembunyikan berbagai keluhan psikis yang seharusnya bisa dikeluarkan melalui proses katarsis atau pelepasan emosi. Proses menekan perasaan yang dilakukan secara terus-menerus hanya akan menjadikan seseorang makin tertekan karena melakukan kepura-puraan dalam jangka waktu yang lama.
Orang-orang yang terjebak dalam perilaku toxic positivity akan cenderung menghindari masalah. Tak hanya itu, orang dengan perilaku toxic positivity juga akan menyembunyikan perasaan, merasa bersalah ketika mengungkapkan emosi atau kalimat negatif dan mencoba membandingkan dirinya dengan orang lain. Bentuk dan perilaku toxic ini bisa dilakukan dengan memberikan respon kepada orang di depannya dengan mengatakan misalnya “ harusnya kamu lebih bersyukur, masih banyak orang lain yang susah lho. Masak gitu saja tidak bisa”
Awalnya kalimat yang dilontarkan oleh orang yang terjebak dalam perilaku toxic positivity ini terkesan baik, namun di akhir kalimat justru bernada memojokan. Misalnya “Kenapa kamu tidak berpikir positif, lagipula kan kamu juga punya andil melakukan kesalahan kan”
Bentuk-bentuk kalimat bernada ironis dan dilakukan oleh orang-orang dengan perilaku toxic positivity ini kadang tanpa disadarinya. Namun, justru dampaknya kurang baik bagi emosi dan piskis orang-orang di sekaitar kita.
Berikut Cara Mencegah Perilaku Toxic Positivity
Pahami Diri Sendiri
Memahami diri sendiri merupakan cara ampuh untuk menghindari perilaku toxic positivity. Paling tidak, sebagai individu yang sadar, dan dewasa seseorang dapat lebih menempatkan diri dan melihat segala sesuatu sesuai dengan konteks suatu permasalahan. Tindakan ini tentu saja dapat mengurangi ungkapan kalimat bernada toxic positivity karena kita sudah paham mengenai diri kita.
Kelola Emosi Dengan Tepat
Emosi bukan hanya berkaitan dengan rasa marah dan kecewa saja. Namun emosi juga berhubungan dengan kendali pikiran dan perasaan, saat dihadapkan pada segala hal yang tidak sesuai dengan harapan kita, cobalah untuk mengelola emosi dengan baik, agar dapat mengurangi kalimat bernada toxic positivity, yang justru akan menyakiti orang lain.
Kurangi Bermain Media Sosial
Anda boleh menggunakan sosial media, namun jika terlalu sering justru akan berdampak buruk bagi pikiran dan perasaan Anda. Bayangkan saja, dengan melihat sosial media berjam-jam Anda menjadi cemas, membandingkan hidup Anda dengan orang lain. Akibatnya, justru Anda sendiri yang akan merasa kurang dengan pencapaian dan hal-hal yang diinginkan, akan tetapi Anda tidak mampu meraihnya.
Terimalah Perasaan dan Emosi Anda
Melakukan validasi terhadap perasaan sendiri saat senang, bahagia atau pun sedih hendaknya dilakukan. Perilaku ini juga akan membantu Anda melatih kepekaan emosi dan fleksibilitas perasaan terhadap kendali diri dalam merespon masalah. Jadi tak perlu berpura-pura untuk senang atau bahagia, padahal Anda sedang ingin meluapkan kekesalan atau kekecewaan. Tentu saja meluapkan kesedihan adalah hal wajar, namun tetap dilakukan dengan cara yang tepat dan rasional. (has)
