Penyebab Trauma dan Luka BathinTrauma akibat kejadian tidak menyenangkan

Jakarta – kesehatanmental.info – Masa lalu getir yang dialami oleh banyak orang sedikit banyak telah berdampak negatif bagi kesejahteraan psikologis dan kondisi kejiwaan. Sementara itu, orang-orang yang merasakan luka bathin akibat kejadian yang menyedihkan atau bahkan menyakitkan, sedikit banyak telah menimbulkan luka bathin yang terbawa hingga kehidupan sekarang.

Kejadian menyakitkan di masa lalu yang menyakitkan, menyebabkan luka bathin telah menjadikan seseorang memiliki emosi negatif yang melekat dan sulit lepas. Beberapa kejadian seperti dipermalukan, ditinggalkan dan diabaikan, bisa menjadi salah satu pemicu terjadinya trauma bathin yang sulit diatasi. Misalnya, anak-anak yang sering diabaikan oleh orangtuanya.  Mereka memiliki kecenderungan akan tumbuh menjadi pribadi yang tertutup, agresif dan kasar.

Dalam situasi yang berbeda, anak-anak yang diabaikan bisa tumbuh menjadi pribadi dengan karakter people pleaser atau berusaha menyenangkan semua orang. Di sisi lain, Pengalaman diabaikan dan ditinggalkan ini, telah berdampak pada manifestasi tindakan yang berupa menyenangkan semua orang. Tentu saja hal ini dilakukan agar tidak ditinggalkan oleh orang-orang di sekitarnya. Namun sayangnya, menjadi people pleaser justru menyakiti diri sendiri karena dalam jangka panjang hanya akan menjadikan diri lelah secara psikis dan emosional, karena mengabaikan rasa maupun keinginan diri sendiri.

Trauma masa lalu atau kehidupan masa lalu yang belum selesai karena kejadian yang menyakitkan pada banyak kasus, justru menjadikan emosi negatif yang menetap. Ambil contoh misalnya, karena diasuh oleh orangtua yang kasar dan keras, seseorang menjadi dendam dan marah.

Menariknya, rasa dendam ini melekat menjadi emosi negatif yang akut dan berujung pada perilaku agresif. Jadi jangan heran jika ada orangtua yang kadang marah-marah kepada anaknya dan berkata kasar. Kemungkinan itu adalah bagian dari respon alam bawah sadar mereka karena dulu pada masa kecil dan remajanya, diperlakukan secara kasar dan tidak baik oleh orangtuanya.

Dilansir dari British Journal of Clinical Psychology, yang ditulis oleh K. Sutherland menyebutkan bahwa pengalaman negatif yang menyakitkan pada masa kanak-kanak dan remaja berpengaruh cukup besar pada kondisi kejiwaan seseorang. Bahkan tak jarang karena situasi ini, seseorang dapat mengalami trauma berkepanjangan.

Rangkul Rasa Sedih dan Kecewa

Kejadian dalam hidup yang serba tidak menyenangkan terkadang cukup sulit untuk diterima. Tak hanya itu, banyak kejadian yang getir ini juga telah memberikan rasa sakit yang mendalam pada emosi seseorang, sehingga berdampak negatif pada kesejahteraan psikologis. Marah, dendam, kecewa dan merasa tidak penting hanyalah sebagian emosi yang tanpa disadari muncul ketika terdapat pemicunya.

Seseorang yang telah mengalami rasa kecewa dan sakit yang mendalam memang membutuhkan waktu untuk dapat kembali pulih secara mental dan emosional. Namun demikian, diperlukan komitmen dan upaya dari yang bersangkutan agar dapat keluar dari trauma masa lalu, yang justru merugikan diri sendiri. Selain, diperlukan rasa mawas diri untuk tetap menjalani semua kehidupan dengan ikhlas.

Lalu bagaimana cara menyembuhkan luka bathin? Pada dasarnya tidaklah mudah menyembuhkan luka bathin karena luka itu tidak terlihat secara nyata. Oleh karena itu, cara terbaik agar dapat melanjutkan hidup adalah dengan merangkul semua luka dan kejadian masa lalu yang getir dan pahit tersebut. Tindakan ini memang awalnya terkesan sulit, namun seiring berjalannya waktu, kesadaran diri akan perlunya melanjutkan hidup adalah hal utama yang akan menjadikan seseorang dengan luka bathin dapat terus hidup dengan rasa kebersyukuran dan penuh makna. (Hasis/alex)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *