Di tengah distraksi informasi melalui berbagai sumber akhir-akhir ini, kita sebagai manusia seperti nyaris kehilangan kejernihan dalam memaknai banyak hal dalam hidup ini. Tak jarang, hanya karena berbeda pendapat dengan teman atau sodara hanya karena informasi yang belum tentu tervalidasi atau valid, kita sering beradu argumen. Bahkan banyak yang akhirnya berselisih paham cukup hebat. Dimulai dari saling memberikan komentar di sosial media, kemudian saling beradu argumen dan berakhir dengan unfollow atau bahkan memblokir akun tersebut. 

Sungguh fenomena ini merupakan gejala sosial yang makin kerap terjadi saat ini. Terlebih di masa pandemi, dimana interaksi sosial kita sebagai manusia cenderung berkurang. Kita adalah tuan dari pikiran dan perasaan kita sendiri. Oleh sebab itu, rasanya tidak elok jika kita membiarkan pikiran dan perasaan kita dipermainkan oleh informasi dari sosial media yang belum tentu benar. Tak jarang, informasi sosial media justru merupakan hoax yang sengaja dirancang oleh oknum tertentu untuk membangun opini, melalui duinia maya. 

Bagi yang pernah menonton film dokumenter social dilema karya Jeff Orlowski, pasti akan mulai sadar dan mahfum bahwasanya sosial media sesungguhnya adalah momok yang sangat menakutkan. Betapa tidak, dalam film tersebut ditayangkan sejumlah fakta melalui para engineer dan developer social media seperti Facebook, instragram, twitter dan lainnya. Tak hanya itu, social media memang dirancang seperti obat yang membuat manusia atau pengguna ingin melihat terus-menerus. Jadi jangan heran jika efek kecanduan social media telah membuat seseorang menjadi gelisah, cemas, reaktif dan impulsive. Karenanya, adalah hal utama bagi kita untuk selalu memilah dan memilih informasi yang masuk di dalam pikiran kita agar tetap mawas diri dan sadar bahwa kita yang menentukan pikiran dan tindakan kita.

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *