Jakarta – kesehatanmental.info – Tahun 2025 merupakan tahun yang cukup sulit bagi sebagian industri. Bahkan banyak perusahaan rintisan akhirnya harus menelan pil pahit, gulung tikar dan tutup karena kesulitan keuangan. Tak hanya itu, beberapa perusahaan manufaktur pun juga mulai mengalami masalah yang cukup pelik karena harus, mengurangi karyawan mereka dalam jumlah yang tidak sedikit. Alhasil, pemutusan hubungan kerja pun makin tak terhindarkan pada semua lini bidang kerja.
Persoalan makin kompleks, karena jumlah pengangguran makin terus merangkak naik. Dan menariknya, pengangguran tersebut adalah angkatan kerja terdidik yang notabene merupakan kelompok usia produktif yang sebenarnya masih mampu untuk bekerja maupun berkontribusi. Namun sayangnya, generasi produktif ini belakangan makin dikeluhkan oleh para pemilik perusahaan, bahkan sejumlah petinggi di semua level organisasi. Apalagi kalau bukan generasi Z yang kini tengah banyak diperbincangkan oleh kalangan profesional dan manajer puncak perusahaan. Dilansir dari data CNCB, 6 dari 10 pegawai generasi Z yang tengah bekerja ternyata mengalami pemutusan hubungan kerja. Fakta ini seolah menyiratkan bahwa generasi muda di Indonesia saat ini tengah tidak baik-baik saja. Tentu saja di tengah meningkatnya usia produktif yang kian tak terbendung dan masih membutuhkan pekerjaan.
Maraknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap generasi Z ini, sedikit banyak telah berdampak buruk pada pasar tenaga kerja di kalangan generasi Z. Nah berikut ini adalah sejumlah alasan makin banyaknya PHK masal pada generasi Z:
Rendahnya Motivasi Kerja dan Inisiatif
Lahir pada masa ekonomi yang cukup baik dan berasal dari keluarga dengan strata ekonomi menengah, sebagian besar generasi Z merasakan kemudahan. Situasi ini tak pelak, telah membuat mereka memiliki motivasi yang rendah untuk menyelesaikan sejumlah tugas dan tanggung jawab dalam pekerjaanya. Tak hanya itu, mereka juga terkenal memiliki inisiatif yang tergolong rendah. Bahkan sejumlah manajer mengeluhkan banyak generasi Z yang jika diberikan tugas tambahan selalu menolak dengan alasan tidak sesuai dengan job description, padahal keleluasaan menerima pekerjaan adalah bagian dari upaya untuk meningkatkan kompetensi. Karena pengayaan pekerjaan justru akan membuat individu meningkat kapasitas pekerjaannya.
Kurang Profesionalisme
Generasi Z yang merupakan generasi lahir di tahun 1997-2012 merupakan generasi yang cukup banyak mengalami paparan media, teknologi digital dan internet cukup banyak. Akibatnya mereka sering membandingkan satu dengan lainnya, melalui media sosial yang belum tentu valid kebenarannya. Fakta ini tentu saja ikut berkontribusi pada profesionalisme mereka ketika harus menyelesaikan tenggat waktu pekerjaanya. Tak jarang karena berbagai alasan seperti macet, bangun kesiangan, dan lainnya membuat mereka menjadi kurang profesional dalam bekerja. Akibatnya, mereka pun tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan kerja dengan cepat.
Komunikasi Buruk
Generasi Z merupakan bagian dari generasi dengan pola parenting yang dibesarkan oleh orangtua dengan ekonomi yang cukup baik. Selain itu, mereka sangat pintar dengan teknologi dan media sosial. Akibatnya, soft skill dan kemampuan berkomunikasi mereka cenderung buruk dengan tim yang lebih senior atau bahkan dengan atasan mereka. Bahkan tak jarang mereka terlambat merespon pesan penting dari tim atau pun atasannya. Pesan ini bisa berbentuk pesan singkat, email, atau sekedar mengangkat telpon. Akibatnya, mereka menjadi kurang responsive dan memperburuk komunikasi dengan tim kerja maupun atasannya. Situasi ini makin menjadikan ketrampilan generasi Z makin buruk, jika dikaitkan dengan inter personal skill maupun intra personal. Padahal, suka atau pun tidak, komunikasi adalah pintu gerbang utama dalam menyukseskan pekerjaan. Jadi jangan harap bahwa komunikasi yang buruk hanya akan menyebabkanmu makin buruk di mata atasan ataupun tim kerja.
Sulit Menerima Feedback
Generasi Z merupakan salah satu generasi yang cukup sulit merima umpan balik, baik dari atasan ataupun dari tim mereka. Hal ini disebabkan mereka sering asik dengan dunia mereka sendiri, termasuk dengan media sosial dan gawai mereka. Alih-alih menerima feedback, mereka justru menggunakan dalih seperti menganggap atasan terlalu otoriter, narsis dan mau menang sendiri. Padahal, mereka sebenarnya sedang berhadapan dengan kenyataan kehidupan di dunia kerja yang serba tidak ideal seperti di dalam pikirannya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika banyak atasa makin geram dengan karyawan generasi Z karena sulit menerima kritik dan masukan. Tak jarang generasi Z menganggap atasan mereka ketinggalan zaman, kurang update, terlalu keras dan alasan lainnya.
Kemampuan Problem Solving Buruk
Terbiasa hidup dengan menggunakan teknologi dan aplikasi di telpon pintar, banyak generasi Z kurang cakap dalam mencari solusi dari masalah di level pekerjaan mereka. Tak jarang mereka mencari cara instan untuk dapat menyelesaikan masalah dalam sekejap. Cara ini bisa menggunakan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), bahkan yang paling menyedihkan adalah menjiplak penuh informasi tanpa mengolahnya terlebih dahulu. Menyedihkan bukan?
Nah itulah sejumlah fakta yang patut jadi pertimbangan mengenai generasi Z. Meskipun tidak semua generasi Z memiliki semua karakter di atas, setidaknya para pemimpin dan petinggi perusahaan harus mulai sadar resiko ketika memperkerjakan generasi Z. (*)