Istilah strawberry generation atau generasi stroberi belakang makin banyak disebut di dunia maya. Tidak hanya di media sosial, generasi straberi juga kerap disebut dan ulas pada beberapa media. Lalu apa sebenarnya strawberry generation itu?
Istilah strawberry generation sebenarnya pertama kali muncul di negara Taiwan. Generasi ini diasosiasikan sebagai suatu generasi yang indah dari luar, namun sebenarnya lembek dan mudah rusak seperti buah strawberry.
Menurut Prof. Rhenald Kasali, Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis dari Universitas Indonesia, strawberry generation merupakan generasi yang lahir karena dari orangtua dengan kondisi ekonomi yang lebih mapan. Tak hanya itu, generasi ini juga dibesarkan dengan penuh kelimpahan kasih sayang dan banyak kemudahaan. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika generasi ini lebih banyak mendapatkan kemudahan dan fasilitas dari orangtua mereka.
Generasi stroberi bertumbuh di era ekonomi dan zaman yang telah terdisrupsi oleh teknologi. Karena itu, tidaklah mengherankan jika banyak dari generasi ini mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan dunia luar pada kehidupan nyata. Interaksi yang dilakukan oleh generasi ini lebih banyak menggunakan dunia maya, melelui internet dan media sosial. Alih-alih bergaul dan belajar ketrampilan sosial, mereka justru lebih senang menggunakan media sosial terlalu banyak dalam keseharian mereka. Padahal, interaksi langsung sangatlah berbeda jika dibandingkan dengan interaksi di dunia maya. Interaksi secara langsung sedikit banyak telah memberikan dampak pada kemampuan dan emosi secara sosial, sehingga lebih mampu menempatkan diri dalam situasi sosial yang lebih kompleks.
Selain lebih senang menggunakan dunia maya sebagai media interaksi, generasi stroberi ini juga memiliki pola pikir yang tidak realistis. Tentu saja hal ini disebabkan oleh pola asuh orangtua yang cenderung memanjakannya, seolah dunia semua terkesan baik dan sempurna. Padahal, pada kenyataanya, situasi dan kondisi di luar sangatlah kompetiti. Jadi jangan heran jika generasi ini lebih mudah rapuh, patah semangat dan mengalami stres hanya karena masalah sepele atau sederhana.
Kreatif dan Imaginatif
Meski beberapa stigma yang melekat pada generasi stroberi ini negatif, namun terdapat beberapa hal positif yang pantas untuk diberikan apresiasi dan tetap dikembangkan. Generasi stroberi memiliki daya kreatifitas yang sangat baik, inovatif dan imaginative. Hal ini mungkin berkaitan dengan faktor gizi yang cukup baik saat mereka tumbuh dan berkembang, sehingga secara kognitif generasi stroberi lebih memadai, jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
Generasi stroberi juga kadang berpikir tidak terstruktur dan cenderung out of the box. Ide atau gagasan yang mereka berikan tak jarang justru memberikan hal baru dan berdampak positif bagi kemajuan zaman. Jadi terlepas dari hal positif dan negatif generasi stroberi, rasanya tidak ada salahnya jika para orangtua mulai menyempurnakan model dan bentuk pengasuhan pada anak-anak generasi stroberi ini, agar lebih tangguh dan memiliki mental lebih resilient. Mengurangi penggunaan gadget, meningkatkan interaksi secara sosial, belajar membangun kedekatan emosi, dan tetap relevan dengan zaman adalah model parenting yang perlu diterapkan untuk generasi stroberi ini. Suka atau pun tidak, disrupsi ekonomi tidak lagi bisa dihindari, jadi para orangtua harus mempersiapkan buah hatinya, agar dapat menyongsong perubahan zaman yang tak terkendali. (has)
