Hampir lebih dari satu dekade sejak kemunculan sosial media yang begitu masif, telah menjadikan kehidupan dan interaksi manusia berubah drastis. Bagaimana tidak, tanpa disadari kita dengan mudah dapat menemukan orang-orang yang sebelumnya susah kita hubungi. Melalui media sosial yang kini semakin beragam kita bisa terkoneksi cukup mudah dengan banyak orang, mulai dari teman, kerabat, bahkan sejumlah public figure pun bisa mudah kita dapatkan informasinya.
Kehadiran sejumlah media sosial seperti Facebook, twitter, Pinterest, Instagram, dan belakangan sedang hits seperti tiktok, seolah menjadi magnet tersendiri bagi penggunanya. Jika dikalkulasi seluruhnya, tercatat hingga ratusan media sosial yang mungkin agak sulit dijelaskan peran dan fungsinya. Beberapa media sosial bahkan sebenarnya memiliki sejumlah fungsi yang beririsan ataupun hampir sama.
Pada awal kemunculannya, media sosial digunakan sebagai salah satu sarana yang berfungsi untuk menjalin hubungan antara orang yang satu dengan yang lainnya. Diharapkan dengan bantuan aplikasi dan koneksi internet, pola interaksi pun menjadi lebih cepat dan singkat.
Namun, tanpa kita sadari peran media sosial semakin bergeser dan kompleks. Tak hanya untuk kebutuhan personal, media sosial juga digunakan untuk berbagai kebutuhan misalnya politik, sosial, pendidikan, ekonomi, sarana bisnis seperti marketing, membangun merk atau branding, meningkatkan reputasi perusahaan, serta pendapatan. Sayangnya, kemudahan dan akses media sosial yang gampang dan terkoneksi dengan banyak aplikasi maupun informasi telah mendistraksi pikiran manusia, hingga mengubah perilaku manusia. Bayangkan saja, jika Anda para orangtua, pasti akan merasa jengah dan kesal dengan anak anda saat berbicara, namun sang buah hati masih sibuk memegang telpon pintar, sambil sibuk memainkan sosial medianya.
Pemandangan orang-orang selalu sibuk di area publik dengan telpon pintar dan media sosial bukanlah hal yang asing dalam satu dekade belakangan ini. Di kereta, bandara, pusat perbelanjaan, sekolah, tempat kerja dan di mana pun. Suka atau pun tidak, media sosial telah mengubah perilaku manusia. Sebuah studi yang dilakukan oleh California State University menyatakan bahwa setidaknya, banyak orang di Amerika mengunjungi 58 kali dalam seminggu. Gempuran sejumlah poto dan gambar yang telah dibagikan menyebabkan mereka semakin kecanduan dengan media sosial. Selain itu, rasa ingin tahu apa yang dilakukan oleh teman sebanya, tetangga, kerabat dan orang sekitar sesungguhnya telah menjadikan dorongan rasa ingin tahu berlebihan, sehingga telah merasuki pikiran mereka. Sungguh menyedihkan bukan? Ibarat candu, media sosial telah memanipulasi pikiran dan perilaku kita.
Alih-alih membuka diri dan berkomunikasi langsung, orang-orang yang kecanduan media sosial dalam banyak temuan lebih menutup diri. Tak jarang mereka cenderung manipulatif dan kurang mampu menempatkan diri, pada berbagai situasi keluarga, sosial maupun masyarakat. Terlalu banyak diam, sibuk dengan telpon pintar, resah sering menggerakan anggota tubuh, cemas berlebihan saat ketinggalan telpon pintar, kurang mampu menyelesaikan hal-hal kecil dalam keseharian, hanyalah sebagian sinyalemen bagi orang yang kecanduan media sosial.
Akibatkan Gangguan Psikologis
Sebuah film dokumenter bertajuk “The Social Dilemma” besutan Jeff Orlowski adalah bukti betapa rapuhnya orang-orang yang terjebak dalam kehidupan palsu di media sosial. Para engineer dan petinggi yang telah menciptakan Media Sosial bahkan dengan gamblang mengatakan bahwa Media Sosial sengaja dibuat agar para pengguna terus-menerus melihatnya, menggunakannya dengan algoritma yang sengaja dirancang sesuai dengan penggunanya. Misalnya ketika Anda melihat tayangan kekerasan di media sosial, maka selanjutnya dalam laman atau feeds informasi akun Anda selanjutnya, secara otomatis akan menyuguhkan hal yang sama. Nah…inilah yang tanpa disadari membuat pengguna media sosial kecanduan.Selanjutnya kita akan digiring ke laman dan informasi yang sama terus-menerus. Akibatnya, alam bawah sadar kita menjadi kian sulit kita kontrol.
Menurut Andreassen dan Pallesen dari Griffith University Australia, dalam penelitian yang dilakukan pada 2014, Individu dengan kecanduan media sosial seringkali terlalu khawatir tentang hidupnya, merasakan dorongan tak terkendali untuk masuk dan menggunakan media sosial. Penelitian ini telah menunjukkan bahwa gejala kecanduan media sosial dapat dimanifestasikan dalam suasana hati, kognisi, reaksi fisik dan emosional, serta masalah interpersonal maupun psikologis. Oleh sebab itu, Agar tidak semakin parah dan akut berdampak pada kesehatan mental dan emosional, sudah sepantasnya penggunaan media sosial sesuai dengan porsinya. (has/ayu)
