Semakin masifnya dunia maya dan media media sosial sampai kini tak pelak justru, semakin berdampak negatif bagi perkembangan psikologis dan kejiwaan anak-anak. Apalagi dengan tingkat penetrasi internet dan pengguna media sosial yang merangsek naik tanpa bisa diperkirakan.
Menariknya, para pengguna media sosial kini telah menyentuh semua level usia, dari anak lima tahun sampai dengan para orangtua. Bahkan para manula pun ikut menggunakan media sosial untuk sekedar mencari hiburan. Dengan dalih mudah dam murah, media sosial justru menjadi kendaraan para orangtua untuk membiarkan anak-anak berlama-lama menggunakan telpon pintarnya, agar bisa diam dan tidak merepotkan. Alih-alih menegur dan membatasi, yang terjadi justru banyak orangtua yang abai dengan perilaku anak-anak yang menggunakan media sosial berjam-jam. Tak jarang orangtua membiarkan anak-anak berselancar di dunia maya dan bereksplorasi dengan media sosial. Parahnya, para orantua ini malah latah dengan mengajak anaknya bersama, bermain media sosial.
Fenomena kecanduan media sosial beberapa waktu lalu yang terjadi pada anak-anak dan remaja hanyalah gunung es, yang akan lebih menyedihkan jika ditelusuri lebih mendalam. Betapa tidak, para pendidik dan orangtua semakin mengeluhkan anak-anak sulit untuk diajak berkomunikasi dengan baik. Tak jarang mereka terlalu sibuk dengan semua kejadian di sosial media yang justru terkesan “absurd” dan artifisial. Situasi ini tentu saja makin memperparah kejiwaan dan perkembangan kepribadian anak-anak seiring dengan tumbuh kembangnya. Bayangkan saja, anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) bahkan tidak mampu meregulasi emosi dengan baik, marah-marah saat ditegur orantua, takut berinteraksi dengan teman, seharian bermain handphone, malas belajar dan terjebak dengan dunia absurd sosial media.
Kegelisahan para orangtua makin membuncah, manakala menyaksikan anak-anak yang makin mengalami deficit mental, akibat gangguan penempatan diri dan rendahnya social skill, terhadap lingkungannya. Media sosial seperti pisau bermata dua, jika digunakan dengan tujuan yang tepat akan sangat bermanfaat. Namun jika kontrol dan monitoring yang dilakukan terhadap penggunaanya lemah justru akan menambah pelik permasalahan. Apalagi jika berkaitan dengan anak-anak dan remaja yang membutuhkan arahan, pemahaman dan stimulus yang baik terkait dengan perkembangan mental, social dan emosionalnya.
Menurut Lieberman, seorang ilmuwan dan psikiatri dari University California, gangguan kejiwaan pada usia anak-anak dan remaja cukup erat kaitannya dengan kemampuan sosial mereka, dalam menemukenali, beradaptasi, dan melakukan interaksi dengan lingkungan sosialnya. Artinya, semakin buruk seorang anak dalam mengenali dan menerjemahkan kondisi sosial dalam perilakunya, akan semakin buruk pula kondisi psikisnya. Bayangan saja mereka akan menjadi anak penyendiri, susah mengekspresikan emosinya, tak suka berinteraksi secara langsung dan hanya menggunakan gadget atau telpon pintar saja, saat ditanya orangtua hanya terus bermain handphone, seharian berjam-jam bahkan bermain media sosial. Bisa dibayangkan bukan bagaimana kondisi mentalnya?
Interaksi Langsung Lebih Bermakna
Semua orang saat ini sedang beradaptasi dengan kondisi Pandemi Covid-19 yang entah kapan selesainya. Karena itu, hampir seluruh masyrakat dunia menggunakan teknologi untuk berinteraksi. Namun tahukah Anda, bahwa penggunaan teknologi yang tidak tepat guna justru akan berdampak pada kelehan mental, fisik dan emosional? Bayangkan saja Anda hanya bicara dengan orang melalui emoticon, symbol dan lainya di media sosial. Anda pikir hal tersebut mencerminkan perasaan dan situasi emosi yang sebenarnya, padahal kenyataanya tidak. Faktanya, setiap orang akan memunculkan kecenderungan untuk terlihat baik-baik saja, dan semua sempurna. Padahal kehidupan nyata tidaklah demikian dan lebih kompleks.
Belajar Mengenali Diri
Bagaimana pun interaksi sosial secara langsung akan jauh lebih powerful. Secara sadar dan tidak, dengan interaksi langsung setiap orang akan belajar mengenali perilaku, bahasa tubuh, dan emosi yang ditampilkan oleh orang di sekitarnya. Entah itu, bahagia, marah, sedih atau bahkan perasaan yang dibuat-buat sekalipun. Hal paling buruk yang terjadi justru jika sebagai manusia, terutama anak-anak dan remaja yang sedang bertumbuh, gagal mengenali emosi negatif yang justru mendistraksi mereka tanpa mereka sadari. Bisa dibayangkan, anak tersebut akan tumbuh menjadi pribadi yang pemurung, penyendiri, kaku, keras kepala dan egois bahkan self center. Lalu akibatnya, mereka akan dijauhi oleh teman-teman, keluarga bahkan kerabat terdekat. Karena itu, tak heran jika kasus anak dan remaja mengalami gangguan kejiwaan makin meningkat setiap tahunnya. Anak stress, gangguan kecemasan, paranoid, hiteria, halusinasi, depresi, insomnia dan anxiety, adalah sebagian kecil penyakit mental yang akan diderita anak-anak dan remaja cepat atau pun lambat. (has)
