Jakarta – Kesehatanmental.info – Pada dasarnya trauma yang dialami oleh setiap orang memiliki beragam sebab dan sumber. Bahkan dari beberapa kasus trauma, panyak yang akhirnya berujung pada gangguan psikologis berkepanjangan dan berakibat fatal. Menariknya, orang-orang justru berusaha dan bersikap baik-baik saja pada hal-hal buruk yang menimpanya. Para praktisi kesehatan mental masih meyakini dan sangat percaya bahwa pengalaman yang buruk di masa lalu yang bermuara pada rasa sakit mendalam, justru menjadi pemicu terjadinya trauma yang berkepanjangan.
Namun, pernahkan kamu merasakan trauma yang berkepanjangan yang justru berdampak buruk pada gangguan psikismu ternayta disebabkan oleh orang terdekat. Beberapa hal menarik misalnya, penyebab trauma justru dikarenakan oleh pola asuh atau parenting yang abusive baik secara fisik maupun verbal. Menurut Rachel Yehuda dalam artikelnya “Holocaust Exposure Induced Intergenerational Effects on FKBP5 Methylation” menyebutkan bahwa orangtua yang membesarkan anak dalam situasi buruk dan tidak mendukung, seperti kemiskinan, kekerasan, peperangan dan masalah buruk lainnya, akan mengakibatkan anak tumbuh menjadi pribadi yang mudah cemas, over thinking dan bahkan cenderung agresif dalam kehidupannya.
Sementara itu, para orangtua yang memiliki luka bathin dan emosi yang tidak stabil tanpa disadari telah menerapkan parenting tidak sehat kepada generasinya. Beberapa tindakan seperti kekerasan secara verbal dan parenting yang tidak sehat, justu akan berdampak buruk pada terjadinya relasi toksik yang berujung pada tindakan saling menyakiti satu sama lainnya. Baik antara orangtua dan anak, atau bahkan antara anak dalam satu keluarga itu sendiri.
Berikut ini adalah tiga hal yang menjadi faktor pemicu terjadinya trauma generational atau turun-temurun dalam keluarga:
Pola Komunikasi yang Dingin
Pola komunikasi yang dingin dan tidak bermakna dalam suatu keluarga, bisa berdampak buruk pada terjadinya gangguan relasi dalam keluarga. Tak hanya itu, pola relasi yang dingin juga dapat menyebabkan anak-anak menjadi pribadi yang pasif dan kurang memiliki inisiatif ketika terjadi masalah yang buruk dalam keluarga. Alih-alih ikut membantu, masing-masing justru ingin mencari jalan termudah untuk mencari aman dan tidak ingin didera masalah. Sementara itu, pola komunikasi satu arah yang cenderung otoriter, tidak bersedia mendengarkan pendapat anak dan enggan mencari jalan tengahnya, justru ikut berdampak buruk pada situasi atau keadaan keluarga yang kurang nyaman. Akibatnya, anak tumbuh menjadi pribadi yang mudah cemas atau overthinking, reaktif terhadap masalah, dan tidak mampu mengendalikan emosinya dengan baik.
Ketakutan Berlebihan
Orangtua yang memiliki rasa ketakutan terhadap segala hal secara berlebihan, hanya akan menjadikan pribadi pencemas. Hal ini dapat termanifestasi dari perilaku dan tindakan orangtua yang pada akhirnya menjadi pribadi yang kurang bisa menempatkan diri dan memahami kondisi kejiwaan anak-anak mereka. Bahkan tak jarang para orangtua yang memiliki rasa ketakutan berlebihan ini justru menjadi pemicu bagi anak-anak yang tumbuh sebagai anak maupun individu pencemas. Misalnya, saat orangtua meresahkan masalah sekolah, masalah masa depan, masalah keuangan dan hal lainnya namun tidak mampu mengomunikasikan dengan anak-anaknya justru bermuara pada terjadinya konfik berkepanjangan. Tentu saja hal ini menyebabkan anak menjadi pribadi yang makin tertutup.
Emosi Tidak Stabil
Para orangtua yang memiliki emosi tidak stabil, mudah marah dan agresif biasanya lebih mudah tersulut emosi ketika mendapatkan beberapa hal yang tidak sesuai dengan harapan mereka. Padahal, tidak ada yang sempurna dalam kehidupan berkeluarga termasuk dengan tumbuh kembang sang anak. Tak jarang akibat hal-hal sepele seperti misalnya meletakkan barang yang salah, lupa membersihkan kamar, dan kebiasaan buruk laiinya menjadikan para orangtua memberikan respon dan reaksi berlebihan seperti marah-marah, mengumpat bahkan ada beberapa orangtua yang terlalu agresif dengan melakukan kekerasan fisik pada anaknya. Akibatnya, tindakan ini justru berdampak buruk bagi perkembangan psikologis dan kejiwaan sang anak di saat ini maupun di kemudian hari. Nah inilah yang menjadikan para orangtua tanpa sadar mewariskan trauma pada anak dan cucunya karena perilaku yang agresif serta abusive. (*)