Gangguan eksibisionisme merupakan jenis gangguan psikologis yang bisa diderita oleh sejumlah orang, baik laki-laki maupun perempuan. Jenis gangguan penyimpangan seksual ini biasanya ditandai dengan perilaku menunjukkan bagian seksual dalam tubuh seperti alat kelamin dan payudara kepada public, tanpa persetujuan. Hasil perhitungan Statistic menyatakan bahwa penderita eksibisionisme lebih banyak adalah kaum pria.
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders V (DSM V), eksibisionisme merupakan gangguan mental yang dialami oleh penderita dengan riwayat seksual menyimpang. Adapun penyebab dari gangguan mental eksibionisme pada dasarnya cukup beragam. Berikut ini adalah sejumlah penyebab dan pemicu seseorang dapat mengidap gangguan mental eksibisionisme:
Pernah Mengalami Pelecehan Seksual Saat Kecil
Penderita eksibisionisme pada biasanya pernah mengalami pengalaman seksual saat usia anak-anak. Beberapa penderita bahkan pernah mengalami korban pedofilia, namun takut atau enggan mengungkapkannya. Kondisi dan situasi ini kemudian berlanjut dan terekam ke dalam alam bawah sadarnya, sehingga memicu terjadinya perilaku eksibisionis.
Sering Mengalami Perundungan dan Kekerasan Seksual
Pendidikan seksual sejak dini bukanlah perkara mudah, apalagi pada masyarakat timur seperti kita yang menganggap, seks merupakan hal yang tabu. Para orangtua di daerah terpencil, bahkan menganggap seks merupakan hal yang sangat tidak boleh untuk diuangkapkan. Alhasil dari kondisi ini banyak anak-anak yang mencari tahu dengan cara yang salah. Beberapa anak bahkan melakukan perundungan seksual kepada sesama temannya, melakukan kekerasan seksual dengan tindakan yang tidak pantas misalnya: memegang kemaluan temannya, bercanda dengan kalimat verbal menggunakan kata-kata menjurus seksual dan masih banyak lagi. Nah…anak-anak yang terlibat pada aktivitas ini, biasanya berpotensi besar mengidap gangguan mental berupa eksibisionisme.
Terpapar Konten dan Informasi Pornografi Berlebihan
Zaman digital seperti saat ini, memperoleh informasi sangatlah mudah. Anak-anak yang sudah diberikan gawai dan telpon pintar oleh orangtuanya, tinggal mencari tahu melalui internet dan sosial media. Tak terkecuali informasi seputar pornografi, makin orangtua melarang biasanya makin anak-anak penasaran mencari tahu secara sembunyi-sembunyi. Oleh sebab itu, ada baiknya para orangtua memberikan informasi secara betul dan tepat pada anak-anak mengenai seksualitas, agar tidak salah dalam mencari informasi. Keasikan dan pengaruh buruk dari internet serta media sosial terkait konten pornografi, dalam banyak kasus menjadi penyumbang besar bagi anak untuk menderita gangguan psikologis eksibisionisme.
Sejumlah ahli bidang psikologi perkembangan menyatakan, biasanya anak-anak penderita gangguan psikologis eksibisionis tidak merasa bahwa mereka bermasalah. Bahkan mereka menganggap hal tersebut merupakan hal yang biasa saja tanpa harus mencari alternatif penyembuhan dari gangguan mental yang dialaminya. Penderita gangguan eksibisionisme dapat ditangani melalui dua cara yaitu secara medis dan psikologis. Pemberian obat-obatan secara hormonal, dapat diberikan sebagai penyeimbang bagi penderita eksibisionisme, agar dapat melakukan kontrol diri terhadap syaraf dan impuls yang berlebihan secara sesksual. Sedangkan pengobatan secara psikologis, dapat dilakukan dengan memberikan sejumlah terapi seperti misalnya dengan Cognitive Behavior Therapy (CBT), hipnoterapi, dan terapi mindfulness.
Nah…bagi para orangtua yang sering khawatir dengan anak-anak terpapar konten pornografi secara digital, ada baiknya mulai sekarang mulai waspada. Hindari memberikan gawai pada anak yang belum cukup umur, bahkan bila perlu kontrol paparan digital sang buah hati Anda. (has)
