Kenali Gangguan Kecemasan

Setiap orang pernah mengalami rasa cemas dan tidak nyaman, dalam setiap fase hidupnya. Kondisi ini sangat wajar terjadi, karena dalam kehidupan setiap individu tidak semua dapat berjalan sesuai dengan keinginan dan harapan. Namun, jika kondisi kecemasan tersebut terjadi berlebihan, secara terus-menerus justru akan berdampak pada kehidupan dalam jangka panjang.

Dilansir dari American Psychological Association, gangguan kecemasan atau anxiety disorder, pada dasarnya merupakan jenis gangguan psikologis yang rentan dialami oleh setiap orang. Menariknya, gangguan kecemasan ini kadang sering diabaikan oleh banyak orang. Alih-alih menemukenali gangguan kecemasan yang telah mereka alami, yang terjadi justru mengabaikan gangguan kecemasan dan datang pada profesional ketika kondisi sudah mulai parah.

Masih menurut American Psychological Association, gejala gangguan kecemasan pada dasarnya dapat terjadi dari berbagai sumber. Namun, secara umum, gangguan kecemasan dapat disebabkan oleh faktor fisik atau fisiologis dan faktor psikologis. Faktor fisik, biasanya lebih banyak dipengaruhi oleh adanya faktor genetik yang diturunkan oleh keluarga dengan riwayat gangguan kecemasan. Orang-orang dengan anggota keluarga yang mengalami gangguan kecemasan, memiliki risiko lebih besar menurunkan gangguan kecemasan pada kerabatnya.

Selain faktor fisik, terdapat faktor psikologis dan sosial yang juga berkontribusi pada terjadinya gangguan kecemasan. Faktor psikologis dan sosial ini, berkaitan dengan pola asuh orangtua yang cenderung permisif, terlalu memanjakan anak, melarang anak untuk berbuat salah, dan beberapa pola parenting yang salah memiliki kecenderungan berdampak pada terjadinya gangguan kecemasan.

Sementara itu, adanya perlakuan perundungan atau bullying pada anak-anak, juga ikut berpengaruh pada terjadinya gangguan kecemasan di kemudian hari. Tak hanya itu, gangguan kecemasan juga dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sosial, seperti situasi sekolah yang tidak mendukung serta circle pertemanan yang cenderung toxic.

Seperti dilaporkan oleh Unicef, lembaga di bawah Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang menaungi perlindungan dan kesehatan anak-anak dunia, menyatakan bahwa gangguan kecemasan pada dasarnya memiliki multi faktor. Akan tetapi, faktor utama yang justru berpengaruh adalah faktor sosial seperti keluarga dan lingkungan sosial.

Berdamai Dengan Keadaan

Orang-orang dengan karakter perfeksionis seringkali enggan dan takut berbuat kesalahan. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan mereka, yang pada fase perkembangannya mengalami hal tidak menyenangkan ketika berbuat kesalahan. Menariknya, rasa takut yang berlebihan akibat berbuat salah tersebut, sedikit banyak telah menjadikannya pribadi pencemas. Tak jarang, orangtua mereka menghukum saat masa kecilnya karena berbuat kesalahan. Situasi inilah yang kadang tanpa kita sadari menjadi pemicu kebiasaan memelihara rasa cemas.

Menurut Philip Kendall, PhD Profesor Psikologi dari Temple University kemampuan seseorang untuk mengatasi emosi, mengelola pikiran dan termanifestasi dalam perilaku, merupakan kunci utama orang tersebut dapat keluar dari gangguan kecemasan. Oleh sebab itu, bagi Anda orang-orang yang memiliki karakter dan kepribadian yang perfeksionis, ada baiknya mulai saat ini belajar berdampai dengan ketidaksempurnaan.

Kemampuan untuk berdamai dengan segala sesuatu yang tidak sempurna, justru akan menjadikan pikiran dan emosi kita lebih resilient. Lebih dari itu, kondisi ini dikarenakan tidak semua dalam hidup ini semua sempurna, sesuai dengan keinginan dan ekspektasi kita. Karena itu, Agar berkurang gangguan kecemasan yang dialami, Anda mulai berusaha mengelola ekspektasi atau harapan. Terlalu berharap pada hal-hal di luar kontrol dan kendali kita, justru akan membuat kita didera rasa kecewa, putus asa dan kurang mampu bersyukur terhadap yang diberikan oleh Tuhan.

Nah…jika mulai kondisi gangguan kecemasan sudah mulai akut, dan mengganggu keseharian, jangan sungkan untuk berkonsultasi dengan ahli profesional seperti Psikiater, Dokter, atau Psikolog klinis yang kompeten. Setidaknya, melalui pemeriksaan piskologis yang akurat, Anda akan mendapatkan penanganan yang lebih komperehensif dan memadai. (has)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *