Efikasi Diri dan EksistentiPentingnya Efikasi Diri dan Eksistensi

Para ahli kesehatan jiwa dan psikologi percaya bahwa efikasi diri sangat erat kaitannya dengan pengalaman diri, emosi dan lingkungan sosial. Di tengah derasnya arus informasi dan makin kecilnya batasan diri, efikasi diri menjadi sangat penting, untuk menahan gempuran disrupsi yang terjadi di semua lini kehidupan.

Mita adalah salah satu pegawai di Bank ternama di Ibu Kota. Kehidupannya yang serba cepat dan padat, membuatnya selalu berpikir praktis dan efisien. Dia selalu menghabiskan waktunya hingga lebih dari 10 jam sehari untuk bekerja di kantornya di Kawasan segitiga emas, Jakarta Pusat. Selain itu, Mita juga ibu muda dengan dua anak yang harus menghabiskan waktu kurang lebih 1,5 s/d 2 jam untuk perjalanan dari rumahnya di Kawasan sub urban Bintaro, ke Jakarta Pusat. Bayangkan saja hampir 4 jam dia menghabiskan waktu untuk perjalanan. Belum lagi jika ditambah lembur atau harus ada urusan kerja tambahan dari atasannya. Sudah dipastikan bahwa mita akan pulang hingga larut malam. Jika sehari adalah 24 jam maka 14 jam telah Mita habiskan untuk bekerja dalam sehari. Dengan asumsi jam tidur Mita adalah 7 jam maka sudah dapat dipastikan bahwa waktunya hanya tinggal 3 jam saja untuk suami dan kedua anaknya. Sungguh menyedihkan ya…

Kondisi yang dialami oleh Mita tampaknya hampir dialami oleh sebagian besar para ibu muda yang memilih berkarir dan mengurus keluarga. Faktanya, Situasi ini tentu saja akan berpengaruh pada kondisi mental dan psikologi bagi setiap orang. Suka atau pun tidak, teknologi telah mendisrupsi semua lini kehidupan. Karenanya, dibutuhkan efikasi diri yang memadai, agar dapat bertahan dari gempuran zaman yang kian tak terelakan. Stres, gangguan kecemasan, depresi dan psikosomatis adalah sebagian kecil bentuk gangguan piskologis yang dialami oleh orang-orang yang tidak memiliki efikasi diri yang baik.

Menurut Albert Bandura, ilmuwan Psikologi dan tokoh terkenal psikologi kognitif dari Stanford University menyatakan bahwa efikasi diri merupakan persepsi diri sendiri, terhadap kemampuan dirinya untuk bertahan dalam berbagai situasi tertentu. Situasi ini bisa berupa situasi yang baik dalam kehidupan, atau pun situasi yang buruk sekalipun.

Efikasi diri masih menurut Bandura, lebih banyak berkaitan dengan tingkah laku yang dilakukan sendiri, telah sesuai dengan kondisi dan situasi yang dipersyaratkan. Misalnya, ketika seseorang mendapatkan masalah, yang bersangkutan dapat menemukenali, melakukan validasi, serta berusaha mencari solusinya. Berikut ini adalah sejumlah faktor penyebab rendahnya efikasi diri:

Disrupsi Teknologi dan Ekonomi

Disrupsi tekonologi dan informasi sedikit banyak telah berdampak pada krisis identitas diri. Hal ini tentu saja juga berpengaruh pada efikasi diri saat terkena masalah pelik dalam hidup yang serba cepat dan instan ini. Dunia sosial media yang penuh artifisial dan tipu-tipu telah menjadikan manusia sebagai individu lebih mudah rapuh. Kondisi inilah yang menjadi akar dan pemicu rendahnya efikasi diri.

Oversharing Media Sosial

Kita semua menyadari bahwa, hampir banyak orang membagikan betapa bahagia dan indahnya hidup mereka melalui media sosial. Beberapa aktivitas seperti liburan mewah, makan di kafe mahal, belanja barang mewah, bersantai di pantai, sibuk berjalan di bandara dan aktivitas lainnya selalu mereka bagikan. Aktivitas ini tanpa sadar telah mempengaruhi pikiran alam bawah sadarnya, bahwa hidup harus sempurna. Padahal faktanya, hidup ini tidak mungkin akan berjalan mulus seterusnya. Akibatnya, efikasi diri mereka menjadi rentan dan terganggu.

Kebutuhan Pengakuan atau Validasi Diri

Validasi sosial dan eksistensi yang diraih melalui media sosial tak jarang justru melahirkan individu yang rentan terhadap uncertainty atau kondisi yang serba tidak pasti. Faktanya, semua yang terjadi di media sosial lebih banyak palsu dan tipu-tipu. Karenanya, mawas diri dan melakukan hidup secukupnya justru menjadi fondasi untuk tetap menyehatkan pikiran, jiwa dan emosi serta fisik. Melakukan koneksi dan interaksi secara langsung justru membantu mereduksi, terjadinya over thinking yang justru bermuara pada rendahnya efikasi diri. (has)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *