Di tengah distraksi informasi yang tiada henti dan bertebaran saat ini, fenomena ‘fomo’ atau fear of missing out menjadi hal sangat menarik bagian sebagian orang. Terlebih bagi para pengguna media sosial, yang akhir-akhir ini semakin meningkat cukup pesat. Dilansir dari katadat.co.id, jumlah pengguna internet di Indonesia kurang lebih telah mencapai 202 juta. Bayangkan saja, jika 50% dari pengguna ini juga mengakses media sosial, maka sudah dapat dipastikan akan banyak sekali orang-orang yang terkena sindrom ‘fomo’. “Fomo” merupakan fenomena di mana para pengguna media sosial akan sangat takut dan cemas jika ketinggalan dengan informasi, update aktivitas dari teman, orang lain, tempat-tempat yang menyenangkan atau bahkan segala sesuatu yang sedang trend saat ini.
‘Fomo’ merupakan istilah bagi orang-orang yang tidak dapat lepas dari gangguan dan distraksi sosial media seperti Instagram, fecebook, twitter, pinterest dan yang lainnya. Orang-orang yang dilanda ‘fomo’ ini tidak akan bisa lepas dari telpon pintar mereka. Setiap saat mereka akan melihat informasi, memonitor sosial medianya, membandingkan kehidupannya dengan orang lain di sosial media, sampai dengan melihat semua notifikasi media sosialnya. Karena itu, jangan heran jika orang-orang yang terkena sindrom fomo ini hidupnya akan lebih banyak dihabiskan dengan gadget atau telepon pintar mereka.
Menurut Amy Loughman, seorang ahli neuropsychology dari the University of Melbourne, pada orang-orang yang terkena sindrom fomo akan mengalami kecemasan berlebihan. Bahkan pada penelitian yang telah dilakukannya menghasilkan temuan menarik yakni semakin banyak pilihan sosial media, semakin banyak pula potensi ketidakpuasan yang akan dialami. Tentu saja jika hal ini dikarenakan oleh sejumlah rasa tidak nyaman akibat dari rasa bersalah ketinggalan terhadap beberapa hal di media sosial.
Menariknya, orang-orang dengan sindrom fomo ini akan terus-menerus mengulik feeds media sosialnya hingga batas waktu yang tidak dapat ditentukan. Alih-alih berusaha menjauh dari media sosial, yang terjadi justru semakin terjebak dalam situasi galau dan dilemma pada sejumlah informasi di media sosial, entah itu media sosial milik teman, sodara, mantan pacar, bahkan media sosial selebriti kelas dunia sekalipun. Ibarat seperti otot, pikiran yang terus diracuni oleh sindrom fomo ini akan terus menegang dan berdampak pada kondisi kejiwaanya.
Kondisi pikiran dan jiwa pada orang-orang yang terjangkiti fenomena fomo, akan dihinggapi rasa sedih, menyesal, resah dan cemas berlebihan. Secara spesifik kondisi kejiwaan akan dilanda rasa khawatir berlebih,karena mereka merasa bersalah karena tidak dapat bergabung atau ikut merasakan yang telah dialami oleh para pengguna media sosial yang dilihat dan amatinya. Menyedihkan bukan?
Orang-orang postmodern yang terjangkiti sindrom fomo, dengan ritme kehidupan kota besar yang cepat dan singkat, cenderung berpikir pragmatis dan merasakan bahwa hidup dikelilingi oleh orang-orang behasil, tinggal di Kawasan mewah, berteman dengan orang-orang terkenal adalah bagian dari eksistensi dan jati diri mereka. Padahal kondisi mereka jauh berbeda dengan apa yang ada dalam kenyataanya. Dalam perspektif psikologis, orang-orang ini sebenarnya mengalami krisis jati diri dan kepribadian.
Sementara itu, orang-orang klasik lebih memiliki pandangan dan nilai hidup lebih dalam. Tinggal di kota kecil, menikmati senja yang temaram, dan dikelilingi oleh orang-orang yang mereka cintai jauh lebih bermakna dan membahagiakan, jika dibandingkan dengan kehidupan artifisial yang justru melelahkan secara fisik dan emosional. Lebih dari itu, orang-orang dengan pandangan klasik lebih menyukai interaksi langsung jika dibandingkan dengan terus berinteraksi dengan media sosial yang lebih banyak ditaburi oleh hal-hal bersifat manipulatif.
Tips Mengatasi Sindrom ‘FOMO”
Berikut ini adalah tips untuk mengatasi sindrom “FOMO”
- Hindari memegang gadget dan bermain media sosial terlalu lama, berkali-kali mengecek feeds di media sosial justru akan meningkatkan kecemasan
- Lakukan interaksi secara langsung dengan orang-orang agar terjadi transfer energi positif pada diri Anda
- Nikmati setiap moment dalam hidup Anda agar dapat merasakan kebermaknaan, misalnya saat berkumpul dengan keluarga, saat istirahat , saat makan bersama sahabat dan yang lainnya.
- Rangkul diri dan tumbuhkan rasa welas asih pada diri sendiri agar tetap meningkatkan perasaan aman dan nyaman, tanpa harus terkena distraksi dari media sosial. (has)
