Pandemi Covid-19 belum usai, dan hampir seluruh penduduk di muka bumi ini masih berjibaku dengan virus yang masih mewabah ini. Suka atau pun tidak, kita dituntut untuk mampu beradaptasi dan tidak menyerah dengan kondisi saat ini bahkan yang akan datang.
Sejak pandemic melanda, hampir seluruh sendi kehidupan terguncang. Selain faktor fisik yang terus diserang oleh virus Sarscov-19, kondisi mental pun makin mengkhawatirkan. Kehilangan pekerjaan, efek domino lock down dan pembatasan aktivitas, kelangkaan bahan pangan hanyalah sekian kecil dari sejumlah masalah yang harus dihadapi. Seperti dilansir dari data kementrian sosial kasus perceraian akibat pandemic di Indonesia meningkat hingga 5%. Sungguh kondisi yang memprihatinkan.
Lalu apa yang harus dilakukan agar seseorang tetap survive? Menurut Vanden Bos dari American Psychology Association, agar tetap bisa bertahan menghadapi badai cobaan, masalah, dan terpaan kehidupan individu harus memiliki resiliensi yang tinggi. Artinya, seseorang harus memiliki kemampuan untuk untuk menerima, menghadapi dan mentransformasikan masalah-masalah yang telah, sedang dan akan dihadapi sepanjang kehidupan. Resiliensi digunakan untuk membantu seseorang dalam menghadapi dan mengatasi situasi sulit, serta dapat diimplementasikan untuk mempertahankan serta meningkatkan kualitas hidupnya. Termasuk menghadapi masa pandemic Covid-19 yang belum kunjung usai hingga kini.
Orang-orang dengan resiliensi yang cukup memadai akan mampu meregulasi emosi dengan cukup baik. Kualitas meregulasi emosi ini ditandai dengan kemampuan mengendalikan rasa cemas, sedih atau marah. Dengan kemampuan regulasi emosi yang baik, seseorang akan dapat memecahkan masalah yang dihadapi, bangkit dari keterpurukan serta mampu mencari terobosan baru untuk solusi bagi permasalahan hidupnya.
Resiliensi diri juga berkaitan dengan kemampuan diri untuk mengelola impuls yang ada di sekitarnya. Bayangkan saja Ketika saat pandemic Covid-19 melanda, banyak hal yang tidak bisa dilakukan. Jika sebelumnya bisa bebas bertemu orang menjadi tidak bisa, beberapa tempat hiburan dibatasi atau bahkan ditutup, sekolah dilakukan secara daring atau online, sangat tidak nyaman bukan? Belum lagi para pegawai yang harus bekerja dari rumah atau work from home yang terkadang mengalami insomnia karena jam tidur yang kacau-balau. Bagian kecil tersebut hanyalah sekelumit gambaran dampak pandemic Covid-19 yang telah menyebabkan seseorang menjadi sulit mengendalikan impulsnya. Reaksi berlebihan terhadap masalah kecil, marah-marah tanpa sebab yang jelas, meributkan hal-hal sepele hanyalah contoh dari kemampuan impuls yang buruk dan resiliensi diri yang rendah.
Tingkatkan Efikasi Diri
Resiliensi juga berkaitan dengan efikasi diri yang terus bertumbuh dan dibangun secara berkelanjutan. Efikasi diri sejatinya merupakan kemampuan seseorang dalam menghadapi dan memecahkan suatu masalah dengan lebih efektif. Misalnya, seorang perempuan pekerja dan sekaligus ibu rumah tangga sedang terkena dampak pemutusan hubungan kerja karena perusahaanya sedang berhenti beroperasi. Nah…karena memiliki semangat optimis dan yakin dengan kemampuannya, akhirnya sang ibu sukses berjualan kue kering secara online melalui sosial media dengan bantuan sang suami. Tentu saja sudah melalui perencanaan dan strategi yang jitu. Praktek dan perilaku yang dilakukan ibu tersebut akhirnya dapat mengembalikan rasa percaya dirinya, karena sikap optimis dan tidak gampang menyerah. Kondisi inilah yang disebut sebagai perilaku yang akan meningkatkan efikasi diri maupun resiliensi.
Efikasi diri juga berkaitan dengan kemampuan individu saat menerima kegagalan, namun tetap optimis lalu bangkit Kembali. Bagi dia, kegagalan adalah proses hidup yang harus dilalui dengan usaha dan perjuangan. Termasuk sejumlah kegagalan dan keterpurukan yang harus dihadapi karena pandemic Covid-19 saat ini. (has/ayu)
