Gangguan Hipokondriasis Serang Usia ProduktifGangguan Hipokondriasis Menghantui Usia Produktif

Pernahkah Anda merasa cemas berlebihan? Merasakan seolah-olah  menderita sakit yang teramat parah, namun usai diperiksa oleh dokter ternyata diperoleh hasil yang berbeda. Setelah melalui pemeriksaan Kesehatan mendalam, dokter menyatakan bahwa Anda baik-baik saja. Nah…jika mengalami hal ini, bisa jadi Anda didera gangguan hipokondriasis.

Lalu apa sebenarnya hipokondriasis? Seligman, Walker & Rosenhan (2001) memetakan Hipokondriasis sebagai sebuah perilaku “Endlessly Worried About Minor Physical Symptoms”. Sedangkan menurut para ahli Kesehatan jiwa, gangguan hipokondriasis biasanya diawali pada usia 25 sampai dengan 35 tahun. Pada penderita di usia yang tergolong produktif ini, yang bersangkutan akan merasa seolah-olah sakit berat misalnya jantung, kanker, gangguan pencernaan ataupun penyakit berat lainnya. Namun, setelah diperiksa secara medis, yang bersangkutan dinyatakan sehat oleh dokter. Artinya, penderita hipokondirasis ini lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan dan mental, terkait dengan rasa sakit yang dialaminya. 

Secara umum terdapat beberapa gejala yang dapat diamati pada penderita gangguan hipokondriasis. Beberapa gejala tersebut diantaranya adalah memiliki tingkat kecemasan yang berlebihan pada Kesehatan pribadinya. Selain itu, selama 6 bulan penderita gangguan hipokondriasis juga merasakan bahwa gangguan penyakit yang ringan terasa berat baginya. Tak jarang mereka sering memeriksakan penyakit ringannya ke dokter karena dilanda kecemasan yang berlebihan. 

Pada penderita hipokondriasis biasanya akan memiliki keinginan menarik diri dari kehidupan pergaulan , enggan berkegiatan, dan memiliki kemampuan untuk bersosialisasi yang rendah. Oleh sebab itu, para penderita gangguan hipokondriasis cenderung mengurangi interaksi dengan orang lain, dikarenakan rasa cemas dan takut yang berlebihan. 

Meskipun hingga kini, penyebab utama dari hipokondriasis belum dapat dinyatakan secara pasti, namun sejumlah ahli jiwa dan psikolog menyatakan, bahwa faktor trauma masa kecil dapat menjadi pemicu bagi terjadinya hipokondriasis. Selain itu, gangguan kecemasan berlebih ini juga dipengauhi oleh pola asuh orangtua. Para orangtua yang terlalu mengkhawatirkan anak-anaknya terkena penyakit justru menjadikannya anak yang rapuh secara mental dan emosional. Pola asuh yang terlalu megkhawatirkan anak berlebihan justru dapat memicu terjadinya hipokondriasis pada sang buah hati. 

Mengatasi Hipokondriasis 

Para ahli Kesehatan jiwa sepakat bahwa pengobatan terhadap gangguan hipokondriasis ini dapat dilakukan melalui dua cara. Adapun pengobatan tersebut dapat dilakukan melalui tindakan medis pemberian obat-obatan anti depresan dan antipsikotika dan melalui tahapan psikoterapi. 

Metode pengobatan terhadap penderita hipokondriasis ini biasanya dilakukan dengan menggabungkan kedua pengobatan tersebut yaitu pengobatan secara medis dan terapi secara beriringan. Pemberian obat-obatan antidepresan dan antipsikotik hendaknya dilakukan melalui resep dokter ahli, agar tidak berakibat fatal. Sementara itu, prosedur terapi pada penderita gangguan hipokondriasis ini dapat dilakukan melalui sejumlah terapi misalnya cognitive behavior therapy, mindfulness, self healing dan jenis terapi lainnya. Setiap pasien penderita gangguan hipokondriasis akan memiliki gradasi yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, pemberian terapi juga hendaknya disesuaikan pada setiap penderitanya. Jika menggunakan terapi kognitif, maka penderita hipokondriasis akan diberikan beberapa intervensi melalui perilaku untuk mengurangi rasa cemas yang berlebihan. Beberapa perilaku tersebut diantaranya adalah berusaha mengurangi aktivitas memeriksa kondisi tubuh berulang kali, serta berusaha melakukan interaksi secara sosial, dan ini bisa dilakukan dengan beberapa orang terdekat secara rutin. 

Hal lain yang tidak kalah pentingnya bagi penderita hipokondriasis, disarankan untuk berusaha melatih respon dan emosi secara bertahap. Proses melatih respon yang cermat, terhadap segala sesuatu yang terjadi pada tubuh dan kondisi lingkungan sekitar, akan mampu melatih penderita gangguan hipokondriasis lebih resilient secara emosional. Nah, jika melalui sejumlah perilaku tersebut Anda masih merasakan kecemasan berlebih, maka tidak ada salahnya Anda memeriksakan diri ke psikiater atau psikolog klinis untuk mendapatkan penanganan lebih intensif. (has/ayu)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *