Para orangtua tua belakangan ini makin merasa kesulitan dengan tingkah polah anak remaja yang cenderung rebel, memberontak dan emosi yang tidak stabil. Tak hanya itu, anak-anak remaja yang sedang memasuki usia pubertas juga sering melakukan tingkah polah yang kadang-kadang membuat jengkel para orangtua. Alih-alih menuruti perkataan orangtua, mereka justru membangkang dan bertindak semaunya.
Dilansir dari Psychology Today masa remaja atau pubertas merupakan masa yang sangat membahagiakan bagi sebagian orang. Hal ini dikarenakan pada fase ini, anak remaja yang kemudian melakukan banyak sekali hal-hal yang berkesan dalam benak mereka. Menariknya, perilaku anak-anak yang sedang berada di usia remaja ini tak jarang membuat para orangtua resah atau khawatir.
Pada fase awal remaja yaitu, anak-anak akan mengalami perubahan fisik yang cukup signifikan. Tubuh yang bertambah besar, tinggi badan berubah cepat, tumbuh bulu rambut kemaluan, bau badan yang mulai terasa karena pengaruh hormonal, hanyalah sebagian kecil perubahan yang tampak dan bisa diamati pada anak-anak yang memasuki fase remaja awal. Sementara itu, pada pria akan terjadi perubahan suara menjadi lebih berat, sedangkan pada wanita pinggul akan membesar dan diikuti oleh pembesaran payudaranya.
Sementara itu, menurut American Psychological Association, perubahan fisik yang cenderung cepat juga terjadi, misalnya peningkatan hormone estrogen dan testoteron yang justru berdampak pada perubahan psikologis secara drastis. Perubahan emosi juga turut mewarnai kondisi anak remaja, sehingga tak jarang mereka lebih sering melakukan pemberontakan secara langsung atau pun tidak langsung. Sering berdebat jika dinasehati, kurang patuh dan merasa paling benar, susah dimengerti hanyalah sebagian contoh dari anak-anak remaja yang sedang bertumbuh. Tak hanya itu, anak-anak remaja ini juga kadang berpura-pura menjadi dewasa atau bersikap ‘sok tua’ hanya agar tidak dikira oleh orang disekitarnya sebagai anak kecil. Padahal usia mental mereka belumlah memadai disebut dewasa meskipun secara fisik mereka sudah terlihat dewasa.
Menariknya, para orantua tak jarang merasa kesulitan dalam mengontrol dan memahami masa badai anak yang sedang berada di usia remaja. Nah berikut ini adalah sejumlah tips untuk menghadapi anak-anak yang sedang mengalami masa badai atau pubertas.
Tips Hadapi Anak Remaja Pemberontak
1. Kenali Setiap Perubahan Fisik dan Psikologis Anak
Para orangtua hendaknya lebih sadar dan berusaha memahami perubahan yang terjadi pada anak-anak mereka. Perubahan ini tidak hanya bersifat fisik, namun juga perubahan yang lebih bersifat psikologis. Melalui cara ini, orangtua jadi dapat relevant dengan perkembangan sang buah hati.
2. Komunikasi Lebih Intensif
Cara ampuh untuk membangun hubungan emosional yang lebih terjaga adalah dengan anak usia remaja adalah, dengan melakukan komunikasi lebih intensif dengan mereka. Selain itu, dengan membangun komunikasi yang lebih akrab kedekatan orangtua dan anak menjadi lebih terjalin dengan baik. Bentuk komunikasi pun hendaknya dilakukan secara dua arah dengan diskusi, tukar pikiran dan mengenai pengalaman masing-masing. Tentu saja orangtua harus berusaha mendengarkan pendapat anak, terbuka dan tidak terlalu otoriter.
3. Pahami Dunia Remaja Sekarang
Para orangtua tentu pernah mengalami masa remaja terlebih dahulu, karena itu tak ada salahnya jika mereka berbagi pengalaman dengan anak-anaknya. Namun bukan berarti harus menggurui, karena setiap zaman tentu berbeda. Oleh sebab itu, menjadi “relevant” sesuai dengan zaman sangatlah penting bagi para orangtua. Paling tidak dengan cara ini, orangtua menjadi lebih diterima oleh anak-anak yang sedang memasuki usia remaja.
4. Jangan Kolot dan Terlalu Kaku
Di era digital dan media sosial saat ini, informasi bisa didapatkan di mana pun. Oleh karena itu, menjadi orangtua yang terbuka dan menerima semua perubahan zaman bukanlah sesuatu yang buruk. Orangtua yang kolot justru berdampak pada anak yang memberontak, terutama saat remaja. Bila perlu jadilah pengikut media sosialnya, sebagai bagian dari fungsi kontrol pada mereka, namun jangan terlalu mengatur. Tindakan ini dapat menjadi salah satu fungsi monitoring bagi anak-anak yang sedang menjadi jati diri dan pengakuan.
5. Beri Ruang Untuk Bertumbuh
Anak remaja bisanya senang melakukan eksplorasi dan mencari hal-hal baru. Tak hanya itu, remaja juga terkadang lebih menyukai berkumpul dengan teman sebayanya jika dibandingkan dengan bersama terlalu lama dengan keluarganya. Jadi pastikan para orangtua tidak terlalu mengekang, namun senantiasa memberi ruang untuk bertumbuh secara emosional dan sosial. (has/lex/ayu)
