Grit dan KesuksesanSukses tidak hanya dipengaruhi oleh bakat dan minat,

Bagi sebagian orang yang telah berkarir dalam pekerjaan di berbagai bidang dan industry, sesungguhnya cukup banyak faktor yang menjadi penentu keberhasilannya. Pro kontra para ahli dan praktisi manajemen maupun psikologi masih menyatakan bahwa, bakat adalah salah satu komponen yang sangat pantas menjadi perhatian bagi keberhasilan seseorang. Bentuk keberhasilan ini,berkaitan dengan sejumlah target dan sasaran yang berhasil diraihnya. Salah satu yang belakangan menjadi topik perbincangan adalah “GRIT” lalu apa sebenarnya grit itu?

Temuan dan penelitian mengenai grit, sesungguhnya telah diulas sejumlah praktisi dan pakar bidang Psikologi dan Pengembangan Diri. Namun, di awal tahun 2023 ini, rasanya tetaplah relevan mengulas mengenai pentingya grit dalam kehidupan setiap individu.

Ide dan gagasan mengenai grit pertama kali dicetuskan oleh Angela Duckwort, seorang Psikolog dan Professor Psikologi dari Universitas Pennsylvania. Menurut Angela, kesuksesan seseorang dalam riset yang telah dilakukannya tidak hanya dipengaruhi oleh bakat dan minat saja, namun juga ada faktor lainnya. Faktor tersebut adalah grit. Menurut Angela, grit adalah paduan dari passion atau gairah, kegigihan, ketabahan dan ketekunan serta konsistensi dalam meraih tujuan atau suatu cita-cita. Grit akan bisa diukur tidak dalam hitungan hari atau bulan, namun setelah sekian tahun lamanya. Tak hanya itu, kemampuan seseorang terkait dengan grit akan dapat terlihat, serta berpengaruh pada tingkat maupun level kesuksesannya.

Faktanya, banyak orang-orang pintar namun gagal karena tidak memiliki grit. Artinya, dalam perspektif pengembangan diri, orang-orang pintar atau cerdas yang mudah putus asa, justru lebih cepat menyerah. Padahal, kegagalan merupakan bentuk sesuatu yang sifatnya tidak permanen atau menetap. Oleh sebab itu, orang-orang yang gagal saat ini, bisa jadi akan berhasil di kemudian hari, jika orang tersebut memiliki kegigihan, keberanian, ketabahan, konsistensi dan terus berupaya untuk memperjuangkan tujuannya.

Berkaitan Dengan Growth Mindset

Salah satu faktor penting yang mendukung kemajuan grit pada setiap individu adalah adanya growth mindset. Konsepsi growth mindset, dicetuskan oleh Carol S. Dwek, seorang ilmuwan dan Professor Psikologi dari Stanford Univeristy. Menurut Carol, pada dasarnya terdapat dua tipe mindset seseorang yaitu growth mindset dan fixed mindset.

Jika dikaitan dengan grit, orang-orang dengan growth mindset akan tetap bertahan dan konsisten dalam memperjuangan tujuannya. Tak hanya itu, growth mindset juga akan terlihat pada orang-orang yang tekun, ulet, persisten dan memiliki determinasi dalam mencapai tujuan hidupnya. Bahkan jika gagal sekalipun, pemilik growth mindset akan terus berupaya serta berjuang agar mampu mengubah kegagalan menjadi keberhasilan.

Orang-orang dengan grit yang tinggi, biasanya cenderung memiliki growth mindset yang lebih besar jika dibandingkan dengan fixed mindset.

Sementara itu, banyak orang sukses yang memiliki grit dan menerapkan growth mindset, akan berusaha membuat perubahan. Perubahan tersebut dilakukan setahap, demi setahap agar dapat mencapai tujuan jangka panjangnya. Bayangkan saja, jika seseorang melakukan perubahan 1% setiap hari, maka bisa jadi setelah 4 bulan bisa menjadi 120%. Menarik bukan?

Lalu apa sebenarnya fixed mindset? Jika kita kaitkan dengan grit, orang dengan grit rendah, berarti memiliki kecenderungan fixed mindset lebih tinggi. Artinya, orang-orang yang memiliki fixed mindset lebih percaya bahwa keberhasilan seseorang mencapai tujuan ataupun kesuksesan dalam hidupnya, disebabkan oleh faktor nasib, bakat dan keberuntungan. Para pemilik fixed mindset juga, biasanya juga akan merasa kurang percaya diri jika gagal dan enggan belajar hal-hal yang baru. Jadi jangan heran jika, orang-orang dengan fixed mindset akan semakin tidak relevan dengan kondisi atau situasi zaman. (has/yudha)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *