Bullying atau perundungan merupakan salah satu bentuk tindakan yang makin meresahkan akhir-akhir ini. Di tengah kemajuan era digital yang kian tak terbendung, aktivitas bullying semakin menjadi-jadi dan susah dikontrol.
Maya adalah seorang anak remaja berusia 19 tahun yang sedang memasuki jenjang perkuliahan di salah satu kampus di Jakarta. Sebagai mahasiswa baru dia merasa mengalami banyak kesulitan untuk beradaptasi di kampusnya, yang konon merupakan salah satu kampus favorit bergengsi di Jakarta. Maya (19) adalah pribadi yang tertutup dan cenderung kurang banyak bicara. Di rumah pun, dia juga kurang mampu berkomunikasi mendalam dengan orangtuanya. Apalagi ayah dan ibunya merupakan pasangan yang harus bekerja keras, agar dapat membiayai keluarga dan mencukupi kebutuhannya. Sementara itu, sebagai anak tengah dari tiga bersaudara, posisinya makin menjadikannya ciut, karena kakaknya jauh lebih berprestasi dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan salah satu universitas terbaik di Australia. Sementara adiknya yang tengah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, beberapa kali mewakili Sekolah untuk lomba olimpiade fisika dan matematika.
Karena kondisi yang begitu rumit Maya (19) akhirnya memutuskan untuk jeda dari kuliah. Setelah ditelisik ternyata, penyebab maya berhenti sementara waktu untuk kuliah disebabkan oleh kerasnya persaingan di kampusnya dan kebiasaan bullying yang sering diterima oleh orang-orang di kampusnya. Tak hanya itu, tekanan sosial yang diterimanya telah menjadikannya mudah insecure dengan berbagai hal yang telah dialaminya. Situasi di atas hanyalah, sedikit gambaran dari ribuan kasus di kota besar dan di daerah, betapa perilaku bullying menjadi salah satu pencetus anak-anak jadi mudah stres dan menutup diri.
Nah berikut ini adalah berbagai jenis bullying:
1. Bullying Fisik
Bentuk bullying ini merupakan tindakan dengan menyakiti seseorang atau kelompok dengan menggunakan kekerasan secara fisik. Adapun bentuk kekerasan fisik tersebut bisa berupa pukulan, tendangan, mencakar, mencekik, membanting dan aktivitas kekerasan lainnya yang akan berdampak serius bagi fisik korban bullying. Pada dasarnya, semakin dewasa seseorang, maka akan semakin kuat pula bentuk bullying yang akan dilakukan padanya.
2. Bullying Verbal
Tindakan bullying verbal merupakan jenis perundungan yang dilakukan secara verbal dengan menggunakan sejumlah kalimat atau kata-kata yang kurang pantas, bahkan menyakiti individua atau kelompok. Lontaran kata-kata kasar seperti menghina, merendahkan, menyakiti hari dan perasaan, fitnah, mencela, dan sarkastik yang bermuatan melecehkan merupakan sebagian bentuk perundungan secara verbal. Tak jarang ancaman-ancaman berisikan bahan candaan, yang mengarah pada upaya mendiskriditkan diri seseorang, juga dapat dikatagorikan sebagai bullying secara verbal.
3. Cyber Bullying
Bullying melalui media di internet merupakan salah satu bentuk perundungan yang akhir-akhir ini makin meresahkan. Apalagi di tengah masifnya perkembangan internet dan media sosial. Orang-orang makin mudah melakukan bullying secara digital melalui media di internet dan media sosial tanpa berpikir panjang. Berdasarkan survey di negara paman sam Amerika, ditemukan bahwa 1 dari 4 orang remaja setidaknya pernah mengalami cyber bullying. Menurut Shelley Hymel dari University of British Columbia, anak-anak remaja sangatlah rentan dengan cyber bullying. Tak jarang mereka memendam sendiri perundungan yang telah diterimanya melalui internet dan media sosial. Akibatnya, mereka menjadi depresi, cemas dan menutup diri. (alex)
