Sebagian orang mungkin pernah melakukan tindakan mendiamkan, agar bisa mendapatkan perhatian dari pasangan, orang terdekat, sahabat dan orang-orang di circle kita. Tak jarang cara ini digunakan untuk mendapatkan atensi lebih, inilah yang biasa disebut sebagai silent treatment.
Silent treatment sesungguhnya merupakan tindakan atau sikap yang kurang baik. Apalagi jika tindakan ini dilakukan pada pasangan, sahabat, orang terdekat dan juga keluarga. Silent treatment merupakan tindakan mendiamkan pada saat sedang terjadi masalah antara kedua belah pihak yang sedang berkonflik. Tindakan mendiamkan ini bisa berupa tidak menjawab pesan singkat, mendiamkan saat diajak bicara, tidak dianggap saat diskusi, dan pura-pura tidak menganggap seseorang ada, saat sedang berkonflik, dan masih banyak lagi.
Orang-orang yang melakukan tindakan silent treatment sesungguhnya merupakan representasi dari cara untuk mengambil alih kendali emosional kepada pihak lain yang sedang berkonflik. Tak hanya itu, orang yang melakukan silent treatment ini, bisa merupakan emotional abuse bagi orang yang mengalami perlakuan silent treatment. Oleh sebab itu, disarankan untuk tidak melakukan silent treatment terlalu sering karena justru akan merusak kondisi kejiwaan atau psikis seseorang yang tengah berkonflik.
Orang-orang yang lebih memilih diam dan mengambil jeda sejenak, untuk tidak terlalu reaktif dan impulsive sebenarnya merupakan hal yang baik dan positif. Paling tidak, cara ini telah memberi ruang dalam pikiran untuk berpikir lebih jernih, tanpa mengutamakan emosi terlalu banyak. Namun, jika tindakan ini dilakukan secara terus-menerus justru hanya akan membuat orang yang sedang berkonflik makin tersakiti. Perlakuan silent treatment, yang bermuara pada terjadinya kesalahpahaman, hanya akan mengakibatkan kedua belah pihak tersakiti. Oleh sebab itu, diperlukan upaya dan pemahaman yang sama ketika terjadi masalah yang cukup pelik.
Sebuah penelitian yang telah dilakukan dan ditulis dalam jurnal jurnal Frontiers in Evolutionary Neuroscience menyatakan bahwa korteks cingulate anterior, bagian otak yang mencatat rasa sakit, bekerja lebih keras saat mendapatkan silent treatment. Fakta ini makin menguatkan bahwa, tindakan emotional abuse dapat berdampak pada gangguan kesehatan secara fisik. Beberapa orang yang yang mengalami silent treatment bahkan pernah mengeluhkan terjadinya insomnia atau susah tidur, kurang bergairah dalam menjalankan pekerjaan, susah makan, kenaikan asam lambung, stress dan dalam beberapa kasus ada yang bahkan mengalami depresi karena merasa diri tidak berharga.
Cara Mengatasi Perlakuan Silent Treatment
Jika anda mendapatkan perlakukan silent treatment, mungkin lebih baik segera melakukan sejumlah tindakan ini. Berikut ini adalah sejumlah tindakan yang dapat dilakukan ketika menghadapi silent treatment:
1. Cari Masalah Utama
Banyak orang yang sedang berkonflik karena mendapatkan perlakukan silent treatment cenderung berasumsi sendiri. Padahal tindakan ini kurang dapat membatu masalah yang sedang dihadapi. Beberapa orang seperti pasangan, sahabat atau orangtua dan anak, terkadang merasa dengan mendiamkan masalah akan selesai. Padahal tindakan ini hanya akan menjadi bom waktu saja. Suatu saat masalah akan muncu kembali jika terjadi hal yang sama atau hampir mirip. Oleh sebab itu, cobalah untuk mencari masalah utamanya dan fokuslah pada solusinya agar tidak terjadi silent treatment berkepanjangan.
2.Sampaikan Perasaan dan Validasi Emosi
Orang yang melakukan silent treatment tak jarang bermain-main dengan pikiran mereka sendiri. Tak hanya itu, mereka juga merasa bahwa semua kesalahan adalah karena orang lain, padahal belum tentu kesalahan tersebut disebabkan oleh orang lain. Jadi hindari berasumsi dan sampaikan perasaan yang dialami, setelah itu cobalah validasi emosi dari orang yang melakukan silent treatment. Paling tidak satu dengan yang lain dapat menumpahkan emosinya secara proporsional.
3. Buat Batasan dan Komitmen
Ada baiknya dua belah pihak yang sedang berkonflik dan melakukan silent treatment, melakukan kesepakatan usai masalah ditemukan dan dicari solusinya secara bersama. Tindakan ini akan dapat menghindari masalah yang sama di kemudian hari. Jadi, paling tidak silent treatment tidak akan dilakukan dan justru mengganggu relasi yang sebelumnya terbangun cukup baik.
4. Fokus Pada Yang Bisa Dikontrol
Orang-orang yang sedang berkonflik tak jarang selalu menyalahkan orang lain, keadaan dan situasi. Tindakan ini sebenarnya merupakan playing victim yang sejatinya, merupakan cerminan lemahnya pribadi seseorang dalam mengontrol emosi dan pikiran. Karenanya, lebih baik fokus pada hal-hal yang bisa dikontrol dalam diri sendiri, dan hindari mengontrol semua hal yang tidak bisa kita jangkau. Beberapa tindakan dengan melakukan jeda sejenak, melakukan journaling dan menuliskan emosi yang dirasakan adalah contoh kecil ketika sedang berkonflik. Daripada marah-marah lebih baik mengontol diri kan? Paling tidak mengurangi terjadinya silent treatment perkepanjangan.
Nah jika tindakan silent treatment makin meresahkan dan menyakiti diri secara psikologis, mental dan emosional ada baiknya melakukan konseling kepada ahli profesional seperti Psikolog atau Psikiater.
