Memahami Perbedaan Kleptomania dan Pengutil

Belakangan sejumlah media sempat memberitakan mengenai palaku pencurian di sebuah Toko swalayan, yang diduga sebagai kleptomania. Pasalnya, jika menilik dari pelaku pencurian tersebut, sesungguhnya yang bersangkutan memiliki status sosial dan ekonomi cukup baik. Barang yang dicuri oleh pelaku kleptomania pun kadang hanya barang sepele.

Dilansir dari American Psychological Association, gangguan psikologis kleptomania sesungguhnya disebabkan oleh sejumlah faktor. Adapun faktor tersebut berupa faktor fisiologis dan faktor psikis. Namun, sesuai dengan berbagai kasus yang telah ditangani kleptomania lebih erat kaitannya disebabkan oleh adanya faktor fisiologis. Penyebab seseorang mengalami kleptomania yang berkaitan dengan aspek fisik adalah terjadinya penurunan kadar hormone serotonin yaitu senyawa kimia otak, yang berfungsi untuk mengatur mood dan emosi seseorang.

Selain itu, faktor fisik lainnya penyebab kleptomania adalah terjadinya ketidakseimbangan sistem opioid otak yang menyebabkan keinginan untuk mencuri tidak bisa ditahan. Hal inilah yang menyebabkan seseorang menjadi lebih rentan untuk melakukan tindakan mencuri atau mengambil barang tanpa sepengatahuan seseorang. Menariknya, faktor fisik yang tak kalah penting dan bisa jadi biang keladi gangguan kleptomania adalah terjadinya gangguan pelepasan dopamine yaitu senyawa kimia dalam otak yang menyebabkan timbulnya rasa senang atau ketagihan.

Lalu apa bedanya dengan pengutil? Nah..hal yang terlihat cukup mencolok yang menjadi pembeda antara pengutil dan perilaku kleptomania adalah motif di balik tindakan tersebut. Para pengutil biasanya melakukan tindakan dengan mencuri justru lebih banyak dipengaruhi oleh motif ekonomi, sedangkan para pelaku dengan gangguan kleptomania lebih banyak dipengaruhi oleh faktor psikologis. Jadi jangan heran jika pelaku kleptomania kadang merasa setengah sadar saat melakukan tindakannya, lalu kemudian merasa tertantang atau terpacu adrenalinnya usai melakukan tindakan mengambil barang tanpa izin.

Orang-orang dengan resiko kleptomania biasanya dipengaruhi oleh sejumah faktor yang berkorelasi dengan gangguan psikologis lainnya. Adapun gangguan psikologis tersebut misalnya gangguan kepribadian, gangguan bipolar, gangguan kecemasan dan jenis gangguan psikis lainnya.

Lakukan Konsultasi Dengan Profesional

Pada beberapa kasus kleptomania, pelaku pencurian biasanya akan melakukan tindakan mencuri secara spontan. Bahkan tak jarang pelaku kleptomania merasa cemas saat mencuri barang di tempat umum. Menariknya, penderita kleptomania ini justru terkadang tidak menggunakan barang yang telah dicurinya, dan hanya untuk memuaskan keinginannya sesaat saja.

Sementara itu, diagnosis kleptomania biasanya dilakukan melalui serangkaian test. Adapaun test tersebut biasanya berupa test secara medis dengan melakukan pemeriksaan oleh dokter melalui CT scan, MRI dan pemerksaan darah di laboratorium. Test ini bertujuan untuk mengetahui apakah terjadi kelainan pada otak dan sistem sarafnya.

Sejumlah test lain berupa penggunaan alat test psikologis berupa daftar pertanyaan juga juga diberikan kepada penderita gangguan kleptomania. Tak hanya itu, interview dan observasi juga dilakukan pada penderita kleptomania, untuk menegakkan diagnosis agar mampu diberikan intervensi secara medis dan psikis lebih akurat.

Sejumlah ahli bidang psikologi dan psikiater, menyatakan bahwa pengobatan terhadap pasien penderita gangguan kleptomania dapat dilakukan melalui dua tahapan yaitu secara medis dan psikologis. Pengobatan secara medis, dilakukan dengan memberikan obat jenis selektif serotonin, untuk menstabilkan emosi pasien penderita gangguan kleptomania. Sedangkan pemberian terapi psikologis disarankan dilakukan secara bertahap. Terapi yang diberikan bisa berupa Cognitive Behavior Therapy, Hipnoterapi dan sejumlah terapi lainnya yang dapat membuat pasien tetap seimbang dan fokus dengan perilakunya. Nah…jika ada orang terdekat menderita gangguan kleptomania, jangan cepat menghakimi dan ajaklah yang bersangkutan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. (has)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *